Rupanya di Sinilah Letak Kebahagiaan – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Setiap orang tentu ingin agar hidupnya bahagia. Mekipun hanya satu kata, antara orang yang satu dengan lainnya terkadang menafsirkannya secara berbeda. Ada yang menganggap kebahagiaan adalah harta yang banyak, jabatan yang tinggi, hidup bebas tanpa aturan, dan sebagainya. Lantas apa yang dimaksud dengan kebahagiaan yang sebenarnya?

Wahai orang-orang yang aku cintai, aku ingin berbicara kepadamu tentang sesuatu yang dicari manusia, yang pada zaman ini banyak dari mereka mengeluh tidak memilikinya…
Sesuatu yang semua orang menginginkannya; anak kecil, orang dewasa, laki-laki dan wanita.
Sesuatu itu adalah KEBAHAGIAAN, yang banyak manusia pada zaman sekarang berkata, “Kami tidak merasakan kebahagiaan…”
Banyak jalan yang telah manusia tempuh untuk mencari kebahagiaan ini. Sebagian mereka menyangka bahwa kebahagiaan itu ada pada banyaknya harta,
sehingga mereka berusaha memperbanyak harta tanpa peduli bagaimana cara ia mendapatkannya. Ini membuat mereka lalai dari mengingat Allah.
Ketika berbenturan antara waktu mencari uang dan shalat, setan lantas mengajaknya, “hayya ‘alal maa’!” (Ayo kita mencari air!) – (seruan yang berkebalikan dari seruan azan “hayya ‘alas shalaah!”)
Namun kebahagiaan juga tidak dia dapatkan. Keadaannya seperti apa yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian. Sampai kalian masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2)
Mereka terus menumpuk harta. Sebagian manusia ada yang berusaha memperbanyak anak sehingga membuat mereka lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan sebagian manusia menyangka bahwa kebahagiaan ada dalam tamasya sehingga dia habiskan sepanjang usianya bertamasya dari satu tempat ke tempat lain. Istri dan anaknya tak cukup membuatnya bahagia sehingga dia pergi mencari kebahagiaan namun juga tidak mendapatkannya…
Sebagian manusia ada yang berputus asa untuk mendapatkan kebahagiaan. Ia berkata bahwa kebahagiaan adalah ilusi indah yang tidak ada realitanya…
Dan orang-orang bingung ini tidak mengetahui bahwa kebahagiaan itu ada. Demi Allah, kebahagiaan memang ada! Sungguh kebahagiaan itu ada pada HATI YANG BERTAKWA dan AMAL SALEH yang murni.
Barang siapa yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan taufik pada jalan takwa maka Allah karuniakan kepadanya hati yang bertakwa, yang dengannya dia mampu menahan diri dari hal-hal yang Allah haramkan dan tidak melanggarnya,
dan dengannya dia bisa mengenali kewajiban-kewajiban dari Allah sehingga dia tidak melalaikannya, dan Allah membuat dia beramal saleh. Sungguh dia telah dikaruniai kebahagiaan…
Wahai saudaraku, yang demikian itu karena kebahagiaan adalah ketenangan hati, dan hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah Yang Maha Pengasih sehingga Dia bisa membolak-baliknya sesuai kehendak-Nya…
Jadi, KEBAHAGIAAN adalah PEMBERIAN DARI ALLAH Subhanahu wa Ta’ala yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya yang saleh..

***

أَيُّهَا الْأَحِبَّةُ أُحِبُّ أَنْ أَتَذَاكَرَ مَعَكُمْ أَمْرًا يَطْلُبُهُ النَّاسُ وَيَشْكُو كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الْيَوْمَ فَقْدَهُ
هُوَ أَمْرٌ يَطْلُبُهُ كُلُّ أَحَدٍ يَطْلُبُهُ الصَّغِيرُ وَيَطْلُبُهُ الْكَبِيرُ يَطْلُبُهُ الذَّكَرُ وَتَطْلُبُهُ الْأُنْثَى
ذَلِكُمُ الْأَمْرُ هُوَ السَّعَادَةُ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الْيَوْمَ يَقُولُونَ إِنَّا لَا نَشْعُرُ بِالسَّعَادَةِ
وَقَدْ تَنَوَّعَتْ طُرُقُ النَّاسِ فِي طَلَبِ السَّعَادَةِ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ ظَنَّ أَنَّ السَّعَادَةَ فِي تَكْثيرِ الْأَمْوَالِ
فَأَصْبَحَ يَسْعَى فِي تَكْثيرِ الْأَمْوَالِ وَلَا يُبَالِي مِنْ أَيِّ طَرِيقٍ كَانَتْ وَأَلْهَتْهُ عَنْ ذِكْرِ اللهِ
فَإِذَا تَعَارَضَ طَلَبُ الْمَالِ مَعَ الصَّلَاةِ نَادَاهُ شَيْطَانُهُ حَيَّ عَلَى الْمَاءِ
فَلَا يُحَقِّقُ الْسَعَادَةَ وَإِنَّمَا يَكُونُ حَالُهُ كَمَا قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّى ٰ زُرْتُم الْمَقَابِرَ- التَّكَاثُرُ الْآيَةُ 2-1
فَطَلَبَ التَّكْثِيرَ بِالْأَمْوَالِ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ طَلَبَ التَّكْثيرَ بِالْأَوْلَادِ وَأَلْهَاهُ ذَلِكَ عَنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ ظَنَّ أَنَّ السَّعَادَةَ فِي الْأَسْفَارِ فَيَظَلُّ طُولَ عُمْرِهِ يَنْتَقِلُ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ لَا تَهْنَأُ بِهِ زَوْجَةٌ وَلَا وَلَدٌ يَبْحَثُ عَنِ السَّعَادَةِ فَلَا يُحَصِّلُهَا
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ أَيِسَ مِنَ السَّعَادَةِ وَقَالَ إِنَّ السَّعَادَةَ وَهْمٌ مَنْشُودٌ لَاحَقِيقَةَ لَهُ
وَمَا دَرَى أُولَئِكَ الْحَيَارَى أَنَّ السَّعَادَةَ مَوْجُودَةٌ وَاللهِ إِنَّهَا مَوْجُودَةٌ إِنَّ السَّعَادَةَ فِي قَلْبٍ تَقِيٍّ وَعَمَلٍ صَالِحٍ زَكِيٍّ
مَنْ وَفَّقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِلتَّقْوَى فَرَزَقَهُ اللهُ قَلْبًا تَقِيًّا يَقِفُ بِهِ عِنْدَ مَحَارِمِ اللهِ فَلَا يَنْتَهِكُهَا
وَيَقِفُ بِهِ عِنْدَ فَرَائِضِ اللهِ فَلَا يُفَرِّطُ فِيهَا وَرَزَقَهُ عَمَلًا صَالِحًا فَقَدْ رَزَقَهُ السَّعَادَةَ
وَذَلِكَ أَنَّ السَّعَادَةَ يَا إِخْوَةُ هِيَ اطْمِئْنَانُ الْقَلْبِ وَالْقُلُوبُ بَيْنَ أُصْبُعَينِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ
فَالسَّعَادَةُ هِبَةٌ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَهَبُهَا لِعِبَادِهِ الصَّالِحِينَ