Pelecehan terhadap agama Islam kian marak terjadi di tengah masyarakat. Ironisnya, di antara para pelaku perbuatan tersebut justru dari kalangan orang Islam sendiri. Padahal penghinaan terhadap agama Islam merupakan perkara besar yang sangat berbahaya. Mungkin jarang kita jumpai manusia yang terang-terangan menghina Allah, Rasul, maupun ayat al-Qur’an akan tetapi banyak kita jumpai pelecehan dalam bentuk menjadikan syariat sebagai bahan guyonan.

Tentang Hukum Orang Yang Mempermainkan / Menghina sesuatu yang didalamnya terdapat nama Allah, Rasulullah atau Ayat-Ayat Al-Quran Atau Kitab Suci.

Orang-Orang Yang Menghina Allah, Rasulullah dan Ayat-Ayat Al-Quran

Ini dilakukan secara sistematis dan terus menurus sehingga dikemudian hari ini dianggap sebagai hal yang biasa.

Kita beragama pondasinya adalah pengahungan terhadap ajaran agama. JIka ada yang sampai mengolok-olok agama maka bagaimana mereka akan menghargai Allah, Rasul dan Agama.

Agama adalah benteng yang sangat kokoh, sehingga tidak mudah dirusak oleh orang-orang sekuler atau atheist.

At Taubah 65:

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”

Asbabun Nuzul , saat pertempuran tabuk. Kata kaum munafikin, kami tidak pernah melihat orang-orang seperti para qori (para ulama). Para ulama ini kerjanya hanya makan sehingga mereka gemuk, dan hanya berbohong. Dan jika bertemu musuh mereka pengecut.

Ketika mereka menyebut quro / qori yang dituju adalah para sahabat dan rasulullah.

Saat itu ada sahabat yang mendengar obrolan kaum munafikin ini yaitu auf bin malik. Auf tidak menerima perkataan mereka dan mengatakan kalian yang pembohong, dan kalian jelas-jelas munafik. Dan aku akan laporkan kepada rasulullah.

Maka auf bergegas untuk melaporkan kepada Rasulullah. Ternyata Al Quran telah mendahului ‘auf. Wahyu sudah turun kepada Rasulullah terlebih dulu.

Malaikat jibri telah memberi wahyu dan mengajarkan kepada Rasulullah bagaimana cara menjawab pembelaan kaum munafikin jika mereka membela diri.

Orang munafik menemui Rasul dan mengatakan bahwa mereka hanya beracanda untuk hiburan karena lelah.

Ibnu Umar berkata, Rasulullah tetap berjalan dengan ontanya dan dijpegangi oleh oran munafik ini, saat itu kerikil dijalan yang terinjak onta rasulallah berloncatan dan mengenai orang munafik tadi.

Rasulullah menjawab dengan “Berani-beraninya kalian menjadikan Allah, Rasul dan Ayat-ayatnya sebagai bahan olok-olokan.”

At Taubah 65:

لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَٰنِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةًۢ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ مُجْرِمِينَ

Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.

Kesimpulan:
Kufurnya orang yang menghina Allah, Al Quran dan Rasulullah.

Catatan tambahan:
Ayat ini berbicara secara umum, adapun aplikasinya tidak boleh serampangan.