Seorang muslim perlu mengenal kedudukan para sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang dimaksud dengan sahabat adalah orang-orang yang menyertai atau melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan beriman dan mati dalam keadaan muslim. Dan mereka adalah manusia terbaik setelah para nabi dan rasul.

Dahulu para sahabat
tidak melewati sepuluh ayat al-Quran
hingga mereka mempelajari ayatnya
serta kandungan ilmu dan amal di dalamnya.
Jadi, mereka mempelajari al-Quran, ilmu, dan amal sekaligus.
Ikatan antara sahabat dengan al-Quran
adalah salah satu sebab utama keunggulan mereka.
Mengapa para sahabat menjadi generasi terbaik dan paling mulia?
Karena mereka memiliki ikatan dan pengagungan terhadap al-Quran
yang tidak dimiliki orang lain,
di samping karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam ada di tengah mereka.
Tidak diragukan bahwa Nabi bersama mereka adalah sebab terbesarnya,
selain itu juga karena ikatan mereka dengan al-Quran.
Mereka tidak melewati sepuluh ayat hingga mereka mempelajari ayatnya
serta kandungan ilmu dan amal di dalamnya.
Jadi, mereka menadaburi al-Quran
dengan tadabur yang membuahkan amal.
Urwah bin az-Zubair berkata,
“Aku berkata kepada nenekku, Asma’ binti Abu Bakar,
bagaimana keadaan para sahabat Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam
saat dibacakan al-Quran kepada mereka?”
Dia menjawab, “Mereka seperti yang Allah sifatkan pada mereka;
mata mereka berlinang air mata dan badan mereka gemetar.”
Fakta ini jelas tergambar
dalam kisah dan biografi mereka.
Abu Bakar—semoga Allah meridainya—
ketika Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
“Perintahkan Abu Bakar untuk salat mengimami orang-orang.”
Yakni, di akhir hayat beliau saat menderita sakit menjelang kematiannya.
Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.
Jika dia membaca al-Quran, dia akan menangis,
hingga orang-orang tidak mengerti bacaannya.
Suruh Umar saja!”
Meskipun ucapannya ini sebenarnya punya maksud lain.
Namun ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar.
Ini adalah sesuatu yang sudah dikenal dari diri Abu Bakar,
yakni jika dia membaca al-Quran,
dia menangis dan tidak bisa menguasai dirinya.
Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis.
Tentu saja yang dimaksud oleh Aisyah—semoga Allah meridainya—
bahwa dia tidak ingin Abu Bakar mengimami orang-orang
setelah Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,
karena jika ada seseorang yang menonjol lalu seseorang datang setelahnya,
maka orang-orang akan cenderung dengan yang datang setelahnya tersebut.
Jadi, dia tidak ingin ayahnya yang jadi imam.
Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memahami maksudnya,
lantas Nabi bersabda, “Kalian itu seperti wanita-wanita di zaman Yusuf!
Suruh Abu Bakar salat mengimami orang-orang!”
Namun, intinya bahwa Abu Bakar sudah terkenal demikian,
hampir-hampir tidak dimengerti bacaan al-Qurannya
karena sering menangis.
Begitu juga Umar—semoga Allah meridainya—
dan sahabat yang lain juga begitu,
sahabat Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang lain.
Mereka memiliki ikatan yang luar biasa dengan al-Quran ini.

***

وَقَدْ كَانَ الصَّحَابَةُ
لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ
حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا
وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ
فَتَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَالْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جَمِيعًا
وَارْتِبَاطُ الصَّحَابَةِ بِالْقُرْآنِ
هُوَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ تَمَيُّزِهِمْ
لِمَاذَا كَانَ الصَّحَابَةُ هُمْ خَيْرُ الْقُرُونِ وَهُمْ أَفْضَلُ الْقُرُونِ؟
لِأَنَّ عِنْدَهُمْ مِنَ الْارْتِبَاطِ بِالْقُرْآنِ وَالتَّعْظِيمِ
مَا لَيْسَ عِنْدَ غَيْرِهِمْ
مَعَ كَوْنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَيْنَ ظَهْرَانِيهِمْ
فَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا يَعْنِي سَبَبٌ كَبِيرٌ
لَكِنْ أَيْضًا ارْتِبَاطُهُمْ بِالْقُرَآنِ
كَانُوا لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ حَتَّى يَتَعَلَّمُوهَا
وَمَا فِيهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ
فَهُمْ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
تَدَبُّرًا يُثْمِرُ الْعَمَلَ
قَالَ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ
قُلْتُ لِجَدَّتِي أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ
كَيْفَ كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ؟
قَالَتْ: كَانُوْا كَمَا نَعَتَهُمُ اللهُ
تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتَقْشَعِرُّ جُلُودُهُمْ
وَهَذَا أَمْرٌ ظَاهِرٌ
فِي سِيَرِهِمْ وَتَرَاجِمِهِمْ
أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
لَمَّا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ
فِي آخِرِ حَيَاتِهِ لَمَّا مَرِضَ مَرَضَ الْمَوْتِ
قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللهِ
إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ أَسِيْفٌ
إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ بَكَى
فَلَا يَعْرِفُ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ
فَمُرْ عُمَرَ
وَكَانَ لَهَا مَقْصِدٌ آخَرُ يَعْنِي
لَكِنَّ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ
كَانَ هَذَا كَانَ مَعْرُوفٌ عَنْ أَبِي بَكْرٍ
أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ
يَبْكِي وَلَا يَمْلِكُ نَفْسَهُ
فَكَانَ رَجُلًا بَكَّاءً
طَبْعًا كَانَ مَقْصُودُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
لَا تُرِيدُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ يَؤُمُّ النَّاسَ
بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لِأَنَّهُ إِذَا كَانَ هُنَاكَ إِنْسَانٌ مُتَمَيِّزٌ وَأَتَى وَاحِدٌ بَعْدَهُ
النَّاسُ اسْتَهَلَّ فِي الَّذِي بَعْدَهُ
فَتُرِيدُ مَا يَكُونُ أَبُوهَا
فَفَهِمَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَصْدَهَا
وَقَالَ: إِنَّكُنَّ صُوَيْحَبَاتُ يُوسُفَ
مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيَؤُمَّ النَّاسَ
لَكِنَّ الشَّاهِدَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ عُرِفَ عَنْهُ هَذَا
لَا تَكَادُ تُعْرَفُ قِرَاءَتُهُ لِلْقُرْآنِ
مِنْ كَثْرَةِ الْبُكَاءِ
وَهَكَذَا عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
وَهَكَذَا أَيْضًا بَقِيَّةُ أَصْحَابٍ
بَقِيَّةُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَكَانُوْا عَلَى ارْتِبَاطٍ عَظِيمٍ بِهَذَا الْقُرْآنِ