Doa termasuk bagian dari ibadah. Dalam berdoa dituntut sebuah niat yang ikhlas kepada Allah subhanahu wata’alaa. Selain itu, orang yang berdoa juga harus bersungguh-sunguh dalam doanya dan tidak lalai. Inti dari sebuah doa adalah permohonan. Apapun keinginan kita, hendaknya senantiasa memohon pertolongan kepada Allah subhanahu wata’alaa.

Salah seorang saudara kita mengatakan, “Bagaimanakah doa yang mustajab itu?”
Doa yang mustajab harus terpenuhi beberapa hal:
[PERTAMA]
Hati tidak boleh lalai,
karena Allah ʿAzza wa Jalla tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.
Bagaimanakah hati yang lalai itu?
Artinya bahwa seseorang harus berdoa dengan hati dan lisannya.
Doa terbagi menjadi tiga jenis:
(1) Doa dengan lisan saja, yaitu ketika seseorang mengucapkan doa,
sedangkan hatinya lalai sampai dia tidak tahu apa yang dia ucapkan.
(2) Doa dengan lisan dan hati,
yaitu ketika Anda menghayati doa yang Anda ucapkan.
(3) Doa dengan hati, yaitu dengan mengagungkan Allah ʿAzza wa Jalla.
Inilah zikir hati,
dengan Anda menghadirkan keagungan al-Jabbār Jalla wa ʿAlā.
Demikianlah zikir hati.
Barang siapa yang berdoa sedangkan hatinya menghayati isi doanya
menghadirkan keagungan al-Jabbār Jalla wa ʿAlā,
dan merasakan hatinya yang remuk redam di hadapan al-Jabbār Subẖānahu wa Taʿālā,
maka itulah yang menjadi sebab doanya diijabahi.
Bahkan ada yang menakjubkan,
Allah ʿAzza wa Jalla Berfirman (yang artinya), “Bukankah Dia Yang Memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan,
apabila ia berdoa kepada-Nya, dan Yang Menghilangkan kesusahan, …” (QS. An-Naml: 62)
Dalam ayat ini ada janji dari Allah Jalla wa ʿAlā
bahwa Allah Mengabulkan doa setiap orang yang tertimpa kesulitan
bahkan jika yang tertimpa kesulitan itu bukan seorang muslim!
Sungguh, Allah Mengabulkan doa orang yang tertimpa kesulitan
walaupun dia bukan seorang muslim.
Ini menunjukkan bahwa hati yang bergantung kepada Allah ʿAzza wa Jalla
akan menjadi sebab terbesar dikabulkannya doa seseorang.
Dulu, ada sebagian Salaf —semoga Allah Merahmatinya—
yang berdoa kepada Allah ʿAzza wa Jalla untuk suatu keperluan.
Dia mengatakan, “Begitu seringnya aku berdoa
hingga hatiku bergantung dengan-Nya Jalla wa ʿAlā dan berpaut dengan-Nya.
Aku bisa merasakan ketenangan dengan Allah dalam berzikir dan berdoa kepada-Nya
yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.”
Dia berkata, “Hingga aku berharap agar doaku tidak pernah terwujud
saking aku sudah bergantung dengan-Nya Subẖānahu wa Taʿālā.”
Jika Anda mencapai satu titik di mana
ketika Anda sudah berserah diri di hadapan al-Jabbār Subẖānahu wa Taʿālā,
dan Anda sepenuhnya tahu bahwa tiada perlindungan dan keselamatan bagi Anda
kecuali dari-Nya Subẖānahu wa Taʿālā, maka ini adalah tanda
bahwa hati Anda sudah berpaut dengan-Nya.
Dalam keadaan inilah kadang ada sebagian orang
yang berkata, “Sungguh, aku berdoa dan yakin pasti dikabulkan,”
karena dia tahu keadaan hatinya, bukan karena sombong dan jemawa,
melainkan karena mengetahui bahwa hatinya—sudah!—
terputus dari semua harap kecuali dari al-Jabbar Jalla wa ʿAlā.
Inilah mengapa ini menjadi tingkatan yang sulit,
tapi tiap manusia berbeda-beda tingkatannya.
Jadi, inilah sebab pertama,
tidak akan dijawab atau dikabulkan doa dari hati yang lalai.
[KEDUA]
Tidak melampaui batas dalam lafaz doanya,
karena melampaui batas ini bisa terjadi dalam lafaz doanya maupun gerakannya.
Kita mulai dengan lafaz doanya.
Tentang doa yang melampaui batas dalam lafaznya,
Allah ʿAzza wa Jalla Berfirman (yang artinya), “… Jangan melampaui batas,
karena sesungguhnya Allah tidak Menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)
Diriwayatkan bahwa seorang sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,
yaitu Abdullah bin Mughaffal, dia pernah mendengar putranya mengucapkan suatu doa,
lalu dia berkata, “Wahai Anakku, aku mendengar Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,
‘Akan datang suatu kaum yang melampaui batas dalam berdoa.’” (HR. Abu Dawud)
“Sungguh, Allah tidak Menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)
Jadi, orang yang melampaui batas dalam doanya,
maka Allah tidak Mencintainya
dan tidak Menyukai doanya.
Apakah Anda menyangka ketika Allah tidak Mencintai seseorang dan doanya
kemudian Allah akan Mengabulkan doanya? Tidak!
Jadi, berusahalah untuk tidak melampaui batas dalam doa Anda.
Bagaimana melampaui batas dalam doa yang harus Anda waspadai?
Pertama-tama, terkait melampaui batas dalam doa
adalah Anda tidak meminta sesuatu yang haram,
“… selama dia tidak berdoa suatu dosa atau memutus silaturahmi.” (HR. At-Tirmidzi)
Demikian sabda Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.
Jangan sampai Anda berdoa meminta sesuatu yang haram.
Janganlah Anda mendoakan keburukan untuk seorang muslim tanpa hak.
“Allah tidak menyukai perkataan buruk
(yang diucapkan) terang-terangan, kecuali bagi orang yang dizalimi…” (QS. An-Nisa’: 148)
Ada yang mengatakan bolehnya mendoakan keburukan sesuai kadar kezalimannya,
tapi tidak boleh lebih dari itu.
Jadi, janganlah Anda berdoa yang haram, seperti memutus silaturahmi,
atau berdoa untuk memakan harta haram,
karena Anda mendapatkan dosa dan tidak akan terkabul doanya.
Bentuk melampaui batas dalam doa yang kedua
adalah melampaui batas dengan berdoa
meminta sesuatu secara terperinci.
—semoga Allah Limpahkan selawat dan salam untuk Nabi kita Muhammad.

***

أَحَدُ الْإِخْوَانِ يَقُولُ: مَا هُوَ الدُّعَاءُ الْمُسْتَجَابُ؟
الدُّعَاءُ الْمُسْتَجَابُ يَقْتَضِي أَمُورًا
الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَكُونَ الْقَلْبُ غَيْرَ لَاهٍ
فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَسْتَجِيبُ قَلْبَ لَاهٍ
وَكَيْفَ يَكُونُ قَلْبُ لَاهٍ؟
بِمَعْنَى أَنَّ الْمَرْءَ يَدْعُو بِقَلْبِهِ وَلِسَانِهِ مَعًا
الدُّعَاءُ ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ
بِاللِّسَانِ هُوَ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِالدُّعَاءِ
وَقَلْبُهُ بَعِيدٌ جِدًّا لَا يَدْرِي مَاذَا يَقُولُ
وَبِاللِّسَانِ وَالْقَلْبِ
هُوَ أَنْ تَتَفَكَّرَ فِيمَا تَدْعُوهُ
وَبِالْْقَلْبِ وَهُوَ تَعْظِيمُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
هَذَا ذِكْرُ الْقَلْبِ
أَنْ تَسْتَشْعِرَ عَظَمَةَ الْجَبَّارِ جَلَّ وَعَلَا
هَذَا هُوَ ذِكْرُ الْقَلْبِ
مَنْ دَعَا وَكَانَ قَلْبُهُ مُسْتَحْضِرًا مَا يَدْعُو بِهِ
مُسْتَحْضِرًا عَظَمَةَ الْجَبَّارِ جَلَّ وَعَلَا
مُسْتَحْضِرًا انْكِسَارَهُ بَيْنَ يَدَي الْجَبَّارِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
فَإِنَّ ذَلِكَ سَبَبُ اسْتِجَابَةِ الدُّعَاءِ
بَلْ أُعْطِيكَ الْعَجَبَ
اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ
إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
فَفِي هَذِهِ الْآيَةِ وَعْدٌ مِنَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا
أَنَّ كُلَّ مُضْطَرٍّ يُجِيبُ اللهُ دُعَاءَهُ
وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ الْمُضْطَرُّ غَيْرَ مُسْلِمٍ
فَإِنَّ اللهَ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ
وَلَوْ كَانَ غَيْرَ مُسْلِمٍ
وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَلْبَ الْمُتَعَلِّقَ بِاللهِ جَلَّ وَعَلَا
يَكُونُ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ
وَقَدْ كَانَ بَعْضُ السَّلَفِ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمْ
يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لِحَاجَةٍ
يَقُولُ: فَبِكَثْرَةِ دُعَائِي
أَصْبَحَ قَلْبِي مُتَعَلِّقًا بِهِ جَلَّ وَعَلَا مُنْصَرِفًا إِلَيْهِ
أَجِدُ مِنَ الْأُنْسِ بِاللهِ وَبِذِكْرِهِ وَبِدُعَائِهِ
مَا لَمْ أَكُنْ وَاجِدَهُ قَبْلُ
قَالَ حَتَّى إِنِّي لَأَتَمَنَّى أَنْ لَا يَتَحَقَّقَ سُؤَالِي
مِنْ شِدَّةِ تَعَلُّقِي بِهِ سُبْحَانَهُ
هَذَا لِدَرَجَةٍ أَنَّكَ تَجِدُ
إِذَا انْطَرَحْتَ بَيْنَ يَدَي الْجَبَّارِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
وَعَلِمْتَ أَنَّهُ لَا مَلْجَأَ لَكَ وَلَا مَنْجَى
إِلَّا بِهِ سُبْحَانَهُ فَهَذَا عَلَامَةُ
تَعَلُّقِ قَلْبِكَ بِهِ
وَحِينَئِذٍ أَحْيَانًا يَجِدُ بَعْضُ الْأَشْخَاصِ
يَقُولُ: إِنِّي لَأَدْعُو وَأَنَا مُسْتَيْقِنٌ بِالْإِجَابَةِ
لِمَا عَلِمَ مِنْ قَلْبِهِ لَيْسَ تَكَبُّرًا وَلَا تَعَالِيًا
وَلِأَنَّهُ عَلِمَ أَنَّ قَلْبَهُ — خَلَاصٌ
اِنْقَطَعَ مِنْ جَمِيعِ الْأَسْبَابِ إِلَّا مِنَ الْجَبَّارِ جَلَّ وَعَلَا
وَلِذَلِكَ هَذِهِ مَرْحَلَةٌ صَعْبَةٌ
وَلَكِنَّ النَّاسَ فِيهِ دَرَجَاتٍ
إِذَنْ هَذَا السَّبَبُ الْأَوَّلُ
لَا يُرَدُّ أَوْ لَا يُقْبَلُ دُعَاءٌ مِنْ قَلْبِ لَاهٍ
الْأَمْرُ الثَّانِي وَهُوَ عَدَمُ الْاِعْتِدَاءِ فِي صِيغَةِ الدُّعَاءِ
لِأَنَّ الْاِعْتِدَاءَ فِي صِيغَةِ الدُّعَاءِ وَفِي هَيئَتِهِ
نَبْدَأُ بِالصِّيَغِ
الدُّعَاءُ… الْاِعْتِدَاءُ فِي هَيْئَةِ صِيغَةِ الدُّعَاءِ
يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَلَا تَعْتَدُوْا
إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
وَجَاءَ أَنَّ بَعْضَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَهُوَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُغَفَّلٍ سَمِعَ ابْنَهُ يَدْعُو دُعَاءًا
فَقَالَ: يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
سَيَأْتِي أَقْوَامٌ يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ
إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
فَمَنِ اعْتَدَى فِي دُعَاءِهِ
فَإِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّهُ
وَلَا يُحِبُّ دُعَائَهُ
وَهَلْ تَظُنُّ أَنَّ مَنْ لَا يُحِبُّهُ اللهُ وَهُوَ لَا يُحِبُّ دُعَاءَهُ
يَسْتَجِيبُ اللهُ دُعَائَهُ؟ لَا
إِذَنْ احْرِصْ عَلَى أَنْ لَا تَعْتَدِيَ فِي دُعَائِكَ
كَيْفَ يَكُونُ الْاِعْتِدَاءُ فِي الدُّعَاءِ الَّتِي تَحْذَرُهَا؟
أَوَّلُ شَيْءٍ… أَوَّلُ شَيْءٍ… مِنَ الْاِعْتِدَاءِ فِي الدُّعَاءِ
أَنْ لَا تَسْأَلَ شَيْئًا مُحَرَّمًا
مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ
كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِيَّاكَ أَنْ تَدْعُوَ بِشَيْءٍ مُحَرَّمٍ
لَا تَدْعُوَنَّ عَلَى مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ
لَا يُحِبُّ اللهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ
مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ …
قِيلَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَيهِ بِقَدْرِ مَا ظَلَمَهُ
وَلَا يَزِيدُ عَلَى ذَلِكَ
إِذَنْ إِيَّاكَ أَنْ تَدْعُوَ بِحَرَامٍ بِقَطِيعَةِ الرَّحِمِ
تَدْعُوَ بِأَكْلِ مَالِ الْحَرَامِ
فَإِنَّهُ أَنْتَ تَكْسِبُ الْإِثْمَ وَلَمْ يُسْتَجَبْ
الْأَمْرُ الثَّانِي مِنَ الْاِعْتِدَاءِ فِي الدُّعَاءِ
أَنْ يَكُونَ الْاِعْتِدَاءُ بِالدُّعَاءِ
فِي سُؤَالِ دَقَائِقِ الْأُمُورِ
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ