Seorang hamba diperintahkan untuk berdoa hanya kepada Allah subhanahu wata’alaa. Karena Dialah Zat yang Maha Kuasa. Mengabulkan doa merupakan perkara mudah bagi-Nya. Namun begitu hendaknya seorang yang berdoa memperhatikan adab-adab dalam berdoa.

Kesimpulan dari macam-macam doa ini,
yang disebutkan oleh penulis —semoga Allah Merahmatinya—
bahwa tidak ada yang nampak bisa dikuatkan keharamannya
kecuali hanya enam macam saja:
[PERTAMA]
Berdoa meminta sesuatu yang mustahil.
Al-Khattabi menegaskan hal ini dalam kitab Syaʾnu ad-Duʿāʾi dengan mengatakan,
“Tidak boleh berdoa sesuatu yang mustahil.”
[KEDUA]
Berdoa meminta sesuatu yang tidak masuk akal,
karena itu termasuk melampaui batas yang terlarang.
[KETIGA]
Doa yang digandeng dengan Kehendak Allah,
seperti doa, “Ya Allah, ampuni aku jika Engkau Mau.”
“Ya Allah, rahmati aku jika Engkau Mau.”
[KEEMPAT]
Doa yang tidak diketahui maknanya,
baik dengan bahasa Arab atau non-Arab.
[KELIMA]
Doa yang mengandung kemaksiatan,
yaitu dengan meminta segala hal yang tidak Allah Subẖānahu wa Taʿālā izinkan.
[KEENAM]
Doa yang menimbulkan keharaman
dari akibat yang ditimbulkannya,
yakni doa yang dijadikan wasilah menuju perkara haram.
Itu terjadi jika seseorang meminta sesuatu yang bisa menimbulkan
terjadinya suatu maksud yang terlarang,
sehingga hukumnya haram karena menjadi wasilah tersebut,
karena hukum wasilah mengikuti hukum tujuannya,
dan ini benar karena selaras dengan sebuah kaidah yang terkenal
dalam masalah “Wasilah dan Tujuan”.
Inilah enam macam doa
yang kuat untuk dikatakan haram
berdasarkan bukti-bukti dari dalil syariat.

***

وَحَاصِلُ هَذِهِ الْأَقْسَامِ
الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى
لَا يَتَجَلَّى ظُهُورُ تَحْرِيمِ شَيْءٍ مِنْهَا
إِلَّا سِتَّةَ أَقْسَامٍ
أَحَدُهَا الدُّعَاءُ بِالْمُحَالِ
وَبِهِ صَرَّحَ الْخَطَّابِيُّ فِي شَأْنِ الدُّعَاءِ فَقَالَ
وَلَا يَجُوزُ الدُّعَاءُ بِالْمُحَالِ
وَثَانِيهَا الدُّعَاءُ بِخَرْقِ الْعَادَةِ
لِأَنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ الْاِعْتِدَاءِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ
وَثَالِثُهَا الدُّعَاءُ الْمُعَلَّقُ عَلَى مَشِيئَةِ اللهِ
كَقَوْلِ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ
اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ
وَرَابِعُهَا الدُّعَاءُ بِمَا لَا يُعْلَمُ مَعْنَاهُ
مِنَ الْكَلَامِ الْأَعْجَميِّ وَغَيْرِهِ
وَخَامِسُهَا الدُّعَاءُ بِإِثْمٍ
وَهُوَ الدُّعَاءُ بِكُلِّ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
وَسَادِسُهَا الدُّعَاءُ بِمَا اسْتَفَادَ التَّحْرِيمَ
مِنْ مُتَعَلَّقِهِ
وَهُوَ مَا كَانَ دُعَاءً يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى مُحَرَّمٍ
وَذَلِكَ بِأَنْ يَدْعُوَ بِشَيْءٍ يُفْضِي
إِلَى وُقُوعِ مَقْصَدٍ مُحَرَّمٍ
فَيَكُونَ مُحَرَّمًا لِأَجْلِ كَوْنِهِ وَسِيلَةً
فَإِنَّ الْوَسَائِلَ تَابِعَةٌ لِلْمَقَاصِدِ
وَهَذَا حَقٌّ تَبَعًا لِلْقَاعِدَةِ الْمَعْرُوفَةِ
فِي الْوَسَائِلِ وَالْمَقَاصِدِ
فَهَذِهِ الْأَقْسَامُ السِّتَّةُ
هِيَ الَّتِي يَتَرَشَّحُ الْقَوْلُ بِحُرْمَتِهَا
بِدَلَائِلِ أَدِلَّةِ الشَّرْعِ