Tidak terasa kita telah berpisah dengan bulan Ramadhan lebih dari sepekan. Namun, jangan biarkan perpisahan tersebut menjadikan kita malas dalam mengerjakan ibadah dan amalan-amalan shaleh lainnya. Di antara contoh amalan sunnah yang dapat kita kerjakan pasca Ramadhan yaitu puasa 6 hari di bulan Syawal. Puasa tersebut dapat dikerjakan baik secara berturut-turut maupun dengan jeda.

Kita sekarang di bulan Syawal, dan banyak yang bertanya tentang hukum mendahulukan Puasa Syawal
sebelum Puasa Qada Ramadan, atau mendahulukan Puasa Qada sebelum Puasa Syawal.
Ya Syaikh, semoga Anda juga berkenan membahas tentang penggabungan niat puasa.
Sebagian orang bertanya tentang menggabungkan niat Puasa Qada dan Puasa Sunah dengan Puasa Syawal.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad,
juga kepada keluarga dan sahabat beliau, serta orang yang menapaki jalan beliau hingga hari kiamat. Amma ba’du…
Saya berharap kepada Allah Ta’ala agar menjadikan pertemuan ini bermanfaat dan penuh berkah.
Seorang Muslim yang masih punya tanggungan Puasa Ramadan agar ia segera mengqadanya,
baik dia laki-laki atau perempuan.
Karena qada puasa adalah hal wajib yang menjadi tanggungannya,
dan ia berdosa jika tidak melaksanakannya.
Adapun Puasa Sunah tidaklah wajib ia kerjakan.
Sehingga bukan hal yang bijak jika seseorang memulai dengan Puasa Sunah
sebelum melaksanakan Puasa Wajib.
Pertama, ia harus memulai dengan Puasa Qada yang wajib baginya,
lalu setelah itu ia berpuasa sunah.
Para ulama berbeda pendapat tentang sahnya amalan sunah yang dilakukan sebelum membayar amalan qada yang wajib baginya.
Sebagian mereka berpendapat bahwa amalan sunah itu tidak sah.
Sebagian ulama lainnya, ini pendapat mayoritas bahwa itu tetap sah. Inilah pendapat yang lebih kuat, yakni tetap sah.
Namun, berkaitan dengan puasa 6 hari di bulan Syawal,
maka pendapat yang lebih kuat–wallahu a’lam—adalah pahala yang disebutkan pada Puasa Syawal
tidak dapat diraih kecuali bagi orang yang melaksanakan Puasa Qada terlebih dahulu.
Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang berpuasa Ramadan, lalu melanjutkannya dengan puasa 6 hari di bulan Syawal,
maka ia bagaikan berpuasa satu tahun penuh.” (HR. Muslim)
Sedangkan orang yang masih punya tanggungan qada Puasa Ramadan,
tidak dapat dikatakan telah berpuasa Ramadan seluruhnya, tapi hanya sebagian bulan Ramadan saja.
Selain itu, karena maksud dari hadis ini adalah
anjuran untuk berpuasa sunah setelah menyempurnakan Puasa Wajib.
Oleh sebab itu, beliau bersabda, “… bagaikan puasa satu tahun.”
Hal ini karena Puasa Ramadan setara dengan puasa 10 bulan. Sebab, satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat.
Sedangkan puasa 6 hari bulan Syawal setara dengan puasa 60 hari, yakni 2 bulan.
Sehingga jika kamu tambahkan 2 bulan ini dengan 10 bulan, maka setara dengan satu tahun penuh.
Dengan demikian, pendapat yang lebih kuat–wallahu a’lam–adalah keutamaan yang disebutkan dalam hadis ini tidak dapat diraih
kecuali bagi orang yang telah menyelesaikan qada puasanya terlebih dulu, lalu puasa enam hari di bulan Syawal setelah itu.
Pendapat ini dipilih oleh sejumlah ulama yang mendalami hal ini,
di antaranya adalah Syaikh kami, Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahumullahu Ta’ala yang memilih pendapat ini.
Dengan demikian, kami katakan kepada saudari-saudari yang punya tanggungan qada puasa karena haid.
Kami katakan, mulailah dengan Puasa Qada, lalu lanjutkan dengan puasa 6 hari bulan Syawal.
Hal ini lebih utama dan lebih cepat untuk terlepas dari tanggungan kewajiban.
Hal ini juga mengeluarkan kita dari perbedaan pendapat yang ada dalam masalah ini.
Sedangkan melaksanakan Puasa Syawal
pada hari Puasa Sunah lainnya, seperti hari Senin dan Kamis, Ayyamul Bidh, dan lain-lain,
maka ini tidak mengapa, dan diharapkan orang yang melakukan ini
dapat meraih dua pahala sekaligus.
Sebagai contoh, jika seseorang berpuasa Syawal pada hari Senin dan Kamis, ia dapat meraih keutamaan puasa Senin dan Kamis,
juga meraih keutamaan puasa 6 hari di bulan Syawal.

***

نَحْنُ فِي شَوَّالٍ وَالنَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ عَنْ تَقْدِيمِ صِيَامِ السِّتِّ
عَلَى الْقَضَاءِ أَوِ الْقَضَاءِ عَلَى السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ
وَكَذَلِكَ لَعَلَّكُمْ تَتَطَرَّقُونَ فَضِيْلَةَ شَيْخِنَا الْجَمْعَ
يَسْأَلُ بَعْضُهُمْ عَنِ الْجَمْعِ بَيْنَ الْقَضَاءِ وَكَذَلِكَ النَّافِلَةِ وَصِيَامِ النَّافِلَةِ وَصِيَامِ السِّتِّ
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ
فَأَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يَنْفَعَ بِهَذَا اللِّقَاءِ وَأَنْ يُبَارِكَ فِيهِ
عَلَى الْمُسْلِم الَّذِي عَلَيْهِ أَيَّامٌ مِنْ رَمَضَانَ أَنْ يُبَادِرَ بِالْقَضَاءِ
مِنْ رَجُلٍ أَوِ امْرَأَةٍ
وَذَلِكَ لِأَنَّ الْقَضَاءَ هُوَ الشَّيْءُ الْوَاجِبُ فِي ذِمَّتِهِ
وَهُوَ الَّذِي يَأْثَمُ لَوْ لَمْ يَقُمْ بِهِ
أَمَّا النَّافِلَةُ فَلَيْسَتْ وَاجِبَةً عَلَيْهِ
فَلَيْسَ مِنَ الْحِكْمَةِ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَبْدَأُ بِصِيَامِ النَّافِلَةِ
قَبْلَ صِيَامِ الْفَرِيضَةِ
فَعَلَيْهِ أَنْ يَبْدَأَ أَوَّلًا بِصَوْمِ الْقَضَاءِ الْوَاجِبِ عَلَيْهِ
ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَصُومُ النَّافِلَةَ
وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي صِحَّةِ النَّافِلَةِ إِذَا قَدَّمَهَا عَلَى الْقَضَاءِ الْوَاجِبِ
فَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى أَنَّهَا لَا تَصِحُّ
وَقَالَ آخَرُونَ وَهُوَ قَوْلُ الأَكْثَرِ أَنَّهَا تَصِحُّ وَهَذَا هُوَ الأَقْرَبُ أَنَّهَا تَصِحُّ
لَكِنْ بِخُصُوصِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ
فَالأَظْهَرُ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّ الثَّوَابَ الْوَارِدَ فِيهَا
لَا يَحْصُلُ إِلَّا لِمَنْ أَتَى بِالْقَضَاءِ أَوَّلًا
وَذَلِكَ لأَِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ
كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ
وَالَّذِي عَلَيْهِ أَيَّامُ قَضَاءٍ مِنْ رَمَضَانَ
لَا يُصْدَقُ عَلَيْهِ أَنَّهُ صَامَ رَمَضَانَ كَامِلًا وَإِنَّمَا صَامَ بَعْضَ رَمَضَانَ
وَلِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ
الْحَثُّ عَلَى صِيَامِ النَّافِلَةِ بَعْدَ اسْتِكْمَالِ الْفَرِيْضَةِ
وَلِهَذَا قَالَ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
وَذَلِكَ لأَِنَّ صِيَامَ رَمَضَانَ يُعَادِلُ عَشْرَةَ أَشْهُرٍ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
وَصِيَامُ السِّتِّ يُعَادِلُ صِيَامَ سِتِّينَ يَوْمًا أَيْ شَهْرَيْنِ
فَإِذَا أَضَفْتَ شَهْرَيْنِ إِلَى عَشْرَةِ أَشْهُرٍ أَصْبَحَ يُعَادِلُ السَّنَةَ كَامِلَةً
وَعَلَى هَذَا فَالَّذِي يَظْهَرُ اللهُ أَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يَحْصُلُ الْفَضْلُ الْمَذْكُورُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ
إِلَّا لِمَنْ صَامَ الْقَضَاءَ أَوَّلًا ثُمَّ صَامَ السِّتَّ بَعْدَ ذَلِكَ
وَهَذَا قَدِ اخْتَارَهُ جَمْعُ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ
وَمِنْ مَشَايِخِنَا شَيْخِنَا عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ بَازٍ وَالشَّيْخِ مُحَمَّدِ بْنِ عُثَيْمِيْنَ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى عَلَى هَذَا الْقَوْلِ
وَعَلَى هَذَا نَقُولُ لِلأَخَوَاتِ اللَّاتِي عَلَيْهِنَّ قَضَاءٌ بِسَبَبِ دَمِ الْحَيْضِ
نَقُولُ اِبْدَأْنَ بِالْقَضَاءِ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ صُمْنَ السِّتَّ
فَهَذَا أَفْضَلُ وَأَسْرَعُ إِبْرَاءً لِلذِّمَّةِ
وَأَيْضًا فِيهِ خُرُوجٌ مِنَ الْخِلَافِ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ
وَأَمَّا جَعْلُ صِيَامِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ
فِي مَحَلِّ صِيَامِ نَافِلَةٍ كَالإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ أَوْ أَيَّامِ الْبِيضِ وَنَحْوِ ذَلِكَ
فَهَذَا لَا بَأْسَ بِهِ وَيُرْجَى أَنَّ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ
يَحُوزُ عَلَى الأَجْرَيْنِ جَمِيْعًا
إِذَا جَعَلَ مَثَلًا الصِّيَامَ فِي الإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ أَنَّهُ يَحُوزُ عَلَى فَضْلِ صِيَامِ الإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ
وَأَيْضًا فَضْلِ صِيَامِ الأَيَّامِ السِّتِّ