Jin dan manusia adalah dua jenis makhluk yang Allah sebutkan di dalam al-Qur’an surat adz-Dzariyat ayat 56. Allah subhanahu wata’alaa berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. adz-Dzariyat: 56)

Jin dan manusia memiliki tugas yang sama yakni beribadah kepada Allah subhanahu wata’alaa. Namun apa prinsip dalam beribadah?

Ibadah terbangun di atas dua asas besar:
[PERTAMA]
Pemuliaan dan pengagungan kepada Allah Ta’ala,
[KEDUA]
kecintaan kepada-Nya.
Oleh sebab itu, seandainya kita diminta mendefinisikan ibadah, wahai saudara-saudara,
maka apa itu definisi ibadah?
Ya, silakan!
Baik, kalimat ini masih bersifat umum, kita ingin kalimat yang lebih detail lagi.
Ya, ibadah adalah puncak ketundukan, ketaatan, dan kecintaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Ada definisi yang disampaikan salah satu saudara kita
yang merupakan definisi dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yaitu: Kata umum bagi setiap hal yang dicintai dan diridai Allah,
yang berupa ucapan dan perbuatan, baik itu yang lahir maupun yang batin.
Ini adalah definisi umum berdasarkan jenis-jenis ibadah.
Ia adalah definisi ibadah berdasarkan jenis-jenisnya.
Namun, definisinya berdasarkan peribadatan
adalah ketundukan kepada Allah Ta’ala atas dasar kecintaan dan pengagungan.
Ketundukan kepada Allah Ta’ala atas dasar kecintaan dan pengagungan.
Ibnu al-Qayyim berkata, “Ibadah kepada Allah adalah puncak kecintaan kepada-Nya,
disertai dengan ketundukan pelakunya. Kedua hal itu adalah porosnya.
Di atas dua hal itulah poros ibadah berjalan. Ibadah tidak berjalan jika kedua poros itu tidak berjalan.”
(1) Puncak kecintaan kepada-Nya, dan (2) ketundukan dari pelakunya.
Ibadah menghimpun dua poros dan dua dasar agung ini,
yaitu kecintaan.
Dengan kecintaan, akan tercapai pelaksanaan semua perintah.
Dengan ketundukan dan pengagungan, akan tercapai penghindaran apa, saudara-saudara?
Tercapai penghindaran segala larangan.
Dari sini, pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi
poros penting dari ibadah kepada-Nya, sehingga orang yang tidak mengagungkan Allah tidak dikatakan beribadah kepada-Nya sebenar-benarnya.
Pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Bihamdihi adalah dengan memuliakan-Nya
serta menghormati dan menyegani-Nya.
Pengagungan ini
adalah hasil dari ilmu tentang Allah Subhanahu wa Bihamdihi.
Barang siapa yang lebih mengetahui tentang Allah, maka kepada Allah…
Ya?
lebih besar pengagungannya.
Barang siapa yang lebih mengetahui Allah, maka tidak diragukan lagi bahwa ia lebih besar pengagungannya kepada Allah.
Jika manusia tidak tahu tentang Allah ‘Azza wa Jalla, bagaimana ia akan mengagungkan-Nya!

***

فَإِنَّ الْعِبَادَةَ تَقُومُ عَلَى أَصْلَيْنِ كَبِيرَيْنِ
الْأَوَّلُ إِجْلَالُ اللهِ تَعَالَى وَتَعْظِيْمُهُ
وَالثَّانِي مَحَبَّتُهُ
وَلِهَذَا لَوْ طَلَبْنَا تَعْرِيْفَ الْعِبَادَةِ يَا إِخْوَانُ
مَنْ يُعَرِّفُ الْعِبَادَةَ؟
تَفَضَّلْ
طَيِّبٌ هَذَا كَلَامُهُ عَلَى كُلِّ حَالٍ عَامٌّ لَا نَرِيْدُ كَلَامًا يَكُونُ أَدَقَّ شُوِي
أَيْ نَعَمْ هِيَ غَايَةُ الذُّلِّ وَالْخُضُوْعِ وَالْمَحَبَّةِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ
هُنَاكَ تَعْرِيفٌ قَالَ أَحَدُ الْإِخْوَانِ
هُوَ لِشَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرْضَاهُ
مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ
وَهَذَا التَّعْرِيفُ الْعَامُّ يَعْنِي بِالنِّسْبَةِ لِأَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ
تَعْرِيفُ الْعِبَادَةِ بِالنِّسْبَةِ لِأَنْوَاعِهَا
لَكِنْ تَعْرِيفُهَا مِنْ حَيْثُ التَّعَبُّدُ
هِي التَّذَلُّلُ لِلهِ تَعَالَى مَحَبَّةً وَتَعْظِيْمًا
التَّذَلُّلُ لِلهِ تَعَالَى مَحَبَّةً وَتَعْظِيْمًا
يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ وَعِبَادَةُ الرَّحْمَنِ غَايَةُ حُبِّهِ
مَعَ ذُلِّ عَابِدِهِ هُمَا قُطْبَانِ
وَعَلَيْهِمَا فَلَكُ الْعِبَادَةِ دَائِرٌ مَا دَارَ حَتَّى قَامَتِ الْقُطْبَانِ
غَايَةُ حُبِّهِ مَعَ ذُلِّ عَابِدِهِ
فَجَمَعَتِ الْعِبَادَةُ هَذَيْنِ القُطْبَيْنِ وَالْأَصْلَيْنِ الْكَبِيرَيْنِ
وَهُمَا الْمَحَبَّةُ
وَبِالْمَحَبَّةِ يَحْصُلُ فِعْلُ كُلِّ الْمَأْمُورَاتِ
وَبِالذُّلِّ وَالتَّعْظِيْمِ يَحْصُلُ تَرْكُ مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟
تَرْكُ جَمِيعِ الْمَحْظُوْرَاتِ
وَمِنْ هُنَا كَانَ تَعْظِيمُ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
رُكْنًا رَكِيْنًا مِنْ عِبَادَتِهِ فَمَنْ لَمْ يُعَظِّمِ اللهَ لَمْ يَعْبُدْهُ حَقًّا
وَتَعْظِيمُ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ هُوَ إِجْلَالُهُ
وَتَوْقِيرُهُ وَهَيْبَتُهُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ
وَهَذَا التَّعْظِيمُ
تَابِعٌ لِلْعِلْمِ بِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ
فَمَنْ كَانَ بِاللهِ أَعْرَفُ كَانَ لِلهِ
نَعَمْ؟
أَقْوَى تَعْظِيمًا
مَنْ كَانَ لَهُ أَعْرَفُ كَانَ لَهُ مُعَظِّمًا بِلَا شَكٍّ
فَإِذَا مَا يَكونُ الْإِنْسَانُ جَاهِلًا بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ كَيْفَ يُعَظِّمُهُ