Penting bagi seorang muslim untuk menjaga hubungan baik dengan sesama. Apalagi sesama muslim itu bersaudara, tentu tidak baik jika saling bermusuhan. Namun siapa sih manusia yang tak luput dari salah dan lupa? Sebagai manusia biasa yang tak maksum, pastinya kita pernah berbuat kekeliruan.

Saudari Ummu Anas bertanya, “Apakah boleh mendoakan keburukan bagi orang zalim
meskipun dia masih ada hubungan kerabat atau keluarga?”
Boleh mendoakan keburukan atas orang zalim, berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:
“Allah tidak menyukai ucapan buruk dengan terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi.” (QS. an-Nisa: 148)
Makna ayat ini seperti yang dikatakan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
bahwa Allah tidak menyukai kalian saling mendoakan keburukan, kecuali orang yang terzalimi,
karena dia boleh mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya.
Doa keburukan dari orang terzalimi terhadap orang yang menzaliminya mudah untuk dikabulkan
berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi,
karena antara doa itu dan Allah tidak ada penghalang.”
Jadi, seorang Muslim harus menjauhi kezaliman, karena akibatnya sangat buruk.
Betapa banyak orang yang terzalimi mendoakan keburukan bagi orang yang menzaliminya, sehingga menyebabkan banyak malapetaka.
Jadi, tidak ada penghalang antara doa orang terzalimi dengan Allah.
Namun, jika seseorang mampu
untuk tidak mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya,
tapi justru mendoakan kebaikan bagi diri sendiri, agar Allah memudahkan urusannya dan mendapatkan kembali haknya,
serta agar Allah memberi petunjuk kepada orang zalim ini, maka ini lebih utama.
Namun, dari sisi hukum syariat, dia boleh mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya,
karena terkadang diri manusia tidak mampu menahan kezaliman
dan seseorang merasakan beban,
sehingga dia berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Allah Ta’ala akan mengabulkan doa orang yang terzalimi.
Oleh sebab itu, Allah berfirman, “Wahai para hamba-Ku, sungguh Aku haramkan kezaliman atas diri-Ku
dan Aku juga menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim)

***

الْأُخْتُ أُمُّ أَنَسٍ تَقُولُ هَلْ يَجُوزُ الدُّعَاءُ عَلَى الظَّالِمِ
وَلَوْ كَانَ قَرِيبًا أَوْ مِنَ الْأَرْحَامِ؟
يَجُوزُ الدُّعَاءُ عَلَى الظَّالِمِ لِقَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
لَا يُحِبُّ اللهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ
وَمَعْنَى الْآيَةِ كَمَا قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
أَيْ لَا يُحِبُّ اللهُ أَنْ يَدْعُوَ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلَّا الْمَظْلُومُ
فَيَجُوزُ لَهُ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى ظَالِمِهِ
وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ عَلَى ظَالِمِهِ حَرِيَّةٌ بِالْإِجَابَةِ
لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ
فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ
فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَتَّقِيَ الظُّلْمَ الظُّلْمُ عَاقِبَتُهُ وَخِيمَةٌ
وَرُبَّ مَظْلُومٍ يَدْعُو عَلَى الْإِنْسَانِ يَتَسَبَّبُ فِي مَصَائِبَ وَكَوَارِثَ
فَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ
لَكِنْ إِنْ أَمْكَنَ الْإِنْسَانُ
لَا يَدْعُو عَلَى هَذَا الظَّالِمِ
وَيَدْعُوَ لَهُ وَأَنَّ اللهَ تَعَالَى يُيَسِّرُ لَهُ وَالْوُصُولَ لِحَقِّهِ
وَأَنْ يُهْدِيَ هَذَا الظَّالِمَ هَذَا أَوْلَى
لَكِنْ مِنْ حَيْثُ الْحُكْمُ الشَّرْعِيُّ لَهُ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى ظَالِمِهِ
لِأَنَّهُ أَحْيَانًا قَدْ تَكُوْنُ النَّفْسُ الْبَشَرِيَّةُ لَا تَحْتَمِلُ الظُّلْمَ
وَيُحِسُّ الْإِنْسَانُ بِشَيْءٍ مِنْ يَعْنِي الْقَهْرِ
وَيَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ
وَاللهُ تَعَالَى يَسْتَجِيبُ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ
وَلِهَذَا قَالَ سُبْحَانَهُ يَا عِبَادِيْ إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي
وَجَعَلْتُهُ مُحَرَّمًا بَيْنَكُمْ فَلَا تَظَالَمُوا