Setiap waktu adalah kesempatan untuk beramal ketaatan. Karena ketakwaan merupakan sebaik-baik bekal untuk kehidupan akhirat. Namun ada waktu-waktu yang memiliki keutamaan lebih besar daripada waktu selainnya. Dan di antara waktu yang istimewa terjadi pada 10 hari awal bulan Dzulhijjah.
Tentang malam-malam 10 hari pertama bulan Zulhijah.
Apakah lebih utama waktu malamnya atau waktu siangnya,
atau keduanya sama-sama utama?
Dalam hadis sahih yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah ada hari yang amal saleh dikerjakan di dalamnya yang lebih baik
dan lebih dicintai oleh Allah daripada di 10 hari ini…”
Yakni 10 hari pertama Zulhijah.
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bahkan (lebih baik daripada) jihad di jalan Allah?”
Beliau menjawab, “Bahkan jihad di jalan Allah!”
Di antara kebiasaan orang-orang Arab adalah
mengungkapkan kata “hari” dan yang dimaksud adalah siang dan malam
dalam konteks pengungkapannya.
Oleh sebab itu, yang lebih kuat adalah makna hadis ini mencakup siang dan malam.
Dan keutamaan amal saleh pada 10 hari ini
mencakup siang dan malam hari.
Di sini saya ingin mengingatkan pada suatu perkara,
bahwa amal saleh di sini tidak hanya terbatas pada ibadah-ibadah mahdhah (ibadah yang sudah diatur tata caranya),
tapi seseorang mungkin juga
untuk menjadikan seluruh kegiatannya sebagai ibadah
untuk mendekatkan diri kepada Allah Jalla wa ‘Ala pada 10 hari ini dan hari-hari yang lain.
Saya memberikan beberapa contoh:
Tidurnya seseorang, jika dia meniatkan tidur itu
agar dapat menguatkan dirinya untuk melakukan ketaatan kepada Allah, seperti Salat Malam dan Salat Subuh berjamaah,
maka dia akan mendapat pahala atas tidur itu, dan masuk ke dalam cakupan makna hadis ini.
Seperti juga kegiatan makannya,
demikian juga dengan saat berinteraksi dengan orang lain, menyuguhkan makanan,
mendekatkan diri kepada Allah dengan akhlak terpuji dan ucapan yang baik.
Semua ini masuk ke dalam cakupan makna hadis ini.
Dengan demikian, pengertian amal saleh
tidak hanya terbatas pada ibadah-ibadah mahdhah.
Oleh sebab itu, saya menasihatkan
agar seseorang mendekatkan diri kepada Allah dengan menuntut ilmu pada 10 hari ini,
baik itu dengan menghadiri majelis-majelis ilmu atau mendengarkannya melalui
media-media massa dan sosial,
atau dengan cara-cara lain yang seseorang dapat menuntut ilmu,
seperti membaca buku, mendengarkan kaset-kaset rekaman, dan lain sebagainya.
Demikian juga saya menasihatkan semua orang pada 10 hari yang diberkahi ini
agar mengubah semua kegiatannya menjadi pengantar untuk melakukan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla,
agar dia dapat meraih pahala dan ganjaran atas kegiatan itu.
Demikian juga saya menasihatkan untuk memperbanyak interaksi dan berkumpul
serta menguatkan solidaritas pada 10 hari ini.
Karena ini adalah momen-momen dilipatgandakannya pahala
Dan amalan-amalan tersebut termasuk amalan yang dapat dijadikan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Demikian juga saya menasihatkan pada 10 hari ini untuk meninggalkan perkara-perkara haram dan makruh,
karena meninggalkan perkara-perkara itu termasuk amal saleh
dan termasuk amalan yang tercakup dalam hadis tersebut.
Jika seseorang diuji dengan suatu kemaksiatan,
maka ditekankan baginya untuk meninggalkannya pada 10 hari ini.
***
عَنْ لَيَالِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ
هَلِ الْأَفْضَلِيَّةُ لِلَيَالِيهَا أَمْ لِنَهَارِهَا؟
أَمْ لَهُمَا جَمِيعًا؟
وَرَدَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ خَيْرٌ فِيهِنَّ
وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ
يَعْنِي عَشْرَ ذِي الْحِجَّةِ
قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ؟
قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ
وَمِنْ عَادَةِ الْعَرَبِ أَنَّهَا
تُطْلِقُ الْيَوْمَ وَتُرِيْدُ بِهِ النَّهَارَ وَاللَّيْلَ
فِي إِطْلَاقَاتِهَا
وَلِذَا فَالأَظْهَرُ أَنَّ هَذَا الْحَدِيثَ يَشْمَلُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
وَأَنَّ فَضِيلَةَ الْعَمَلِ الصَّالِحِ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ
تَشْمَلُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
وَأُحِبُّ أَنْ أُنَّبِهَ هُنَا عَلَى أَمْرٍ
وَهُوَ أَنَّ هَذَا الْعَمَلَ الصَّالِحَ لَا يَقْتَصِرُ عَلَى الْعِبَادَاتِ الْمَحْضَةِ
بَلْ يُمْكِنُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ
يَجْعَلَ مِنْ أَعْمَالِهِ قَاطِبَةً قُرْبَةً
يَتَقَرَّبُ بِهَا لِلهِ جَلَّ وَعَلَا فِي هَذِهِ الْعَشْرِ وَفِي غَيْرِهَا
وَسَأَضْرِبُ لِذَلِكَ أَمْثِلَةً
يَعْنِي نَوْمَ الْإِنْسَانِ إِذَا نَامَهُ يُرِيدُ بِذَلِكَ
أَنْ يَتَقَوَّى عَلَى طَاعَةِ اللهِ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ وَصَلَاةِ الْفَجْرِ مَعَ الْجَمَاعَةِ
فَإِنَّهُ يُؤْجَرُ عَلَيْهِ وَيَدْخُلُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ
وَمِثْلُهُ فِي تَنَاوُلِهِ لِلطَّعَامِ
وَهَكَذَا فِي اجْتِمَاعِ النَّاسِ فِي تَقْدِيمِ الطَّعَامِ
فِي التَّقَرُّبِ إِلَى اللهِ بِحُسْنِ الْخُلُقِ وَطِيْبِ الْمَنْطِقِ
كُلُّهَا تَدْخُلُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ
وَبِالتَّالِي فَإِنَّ مَفْهُومَ الْعَمَلِ الصَّالِحِ
لَيْسَ مُقْتَصِرًا عَلَى الْعِبَادَاتِ الْمَحْضَةِ
وَمِنْ هُنَا فَإِنِّي أُوْصِي بِــ
أَنْ يُتَقَرَّبَ إِلَى اللهِ بِطَلَبِ الْعِلْمِ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ
سَوَاءٌ بِحُضُورِ حَلَقَاتِ الْعِلْمِ أَوْ بِالِاسْتِمَاعِ إِلَيْهَا فِي
وَسَائِلِ الْإِعْلَامِ وَالتَّوَاصُلِ
أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي تَجْعَلُ الْإِنْسَانَ يَطْلُبُ الْعِلْمَ
كَقِرَاءَةِ الْكُتُبِ وَالِاسْتِمَاعِ لِلْأَشْرِطَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ
وَهَكَذَا أُوْصِي الْجَمِيعَ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ الْمُبَارَكَةِ
بِأَنْ يَقْلِبُوا أَعْمَالَهُمْ قَاطِبَةً لِيَجْعَلُوهَا وَسَائِلَ لِطَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
فَيُؤْجَرُوا عَلَيْهَا وَيُثَابُونَ عَلَيْهَا
وَكَذَلِكَ أُوصِي بِكَثْرَةِ التَّوَاصُلِ وَالِاجْتِمَاعِ
وَالتَّآلُفِ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ
لِأَنَّ هَذَا الْمَوْسِمَ مِنْ مَوَاسِمِ مُضَاعَفَةِ الْأُجُورِ
وَهَذِهِ الْأَعْمَالُ مِمَّا يَصِحُّ أَنْ يُتَقَرَّبَ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا
وَكَذَلِكَ أُوْصِي فِي هَذِهِ الْعَشْرِ بِتَرْكِ الْمُحَرَّمَاتِ وَالْمَكْرُوهَاتِ
فَإِنَّ تَرْكَ هَذِهِ الْأُمُورِ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ
وَمِمَّا يَدْخُلُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ
وَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ مُبْتَلَى بِمَعْصِيَةٍ
فَإِنَّهُ يَتَأَكَّدُ عَلَيْهِ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ أَنْ يَتْرُكَهَا