4 Hal Ini Orang Sering Keliru: Tetangga, Tamu, Ziarah Kubur, Kamar Mandi – Syaikh Shalih Al-Ushoimi
Adab memiliki kaitan yang erat dengan akhlak atau perilaku yang mulia. Dan di dalam melakukan aktivitas sehari-hari kita harus memperhatikan yang namanya adab. Di dalam bergaul terdapat adab terhadap tetangga, tamu, dan sebagainya. Akan tetapi banyak yang salah memahami apa itu tetangga dan siapa itu tamu. Akibatnya terjadi banyak perbuatan yang menyelesihi adab-adab yang luhur.
(1) TETANGGA
Apa arti tetangga?
Ya.
Apa?
Baiklah, yang lain?
(Ada yang menjawab)
Orang yang rumahnya bersebelahan dengan rumah saya.
Yang dekat denganku, berarti misalkan, dia adalah tetanggaku, begitu?
Masalah tetangga dan masalah berbuat baik kepada orang sudah berbeda pembahasannya.
Kita -insya Allah- semua yang di sini berbuat baik kepada orang lain, mereka berada sejauh ribuan mil dari kita, yang menyimak pelajaran ini, tapi apakah seperti ini adalah tetangga?
Anda lihat rumah di Uni Emirat Arab?
Iya, tapi apa definisi tetangga?
Apa? Bagus!
Tetangga adalah orang yang rumahnya saling berdekatan satu dengan yang lainnya dalam satu wilayah tempat tinggal.
Standar ‘berdekatannya’ kembali pada ‘urf (kebiasaan, adat, tradisi, dan praktek) masing-masing.
Bisa jadi yang rumahnya lebih jauh terhitung tetangga, bisa jadi tidak. Bisa jadi yang rumahnya dekat termasuk tetangga, bisa jadi tidak.
Rumah-rumah pada zaman sekarang yang susunannya berjajar terpisah dan saling membelakangi; sebagiannya menghadap ke utara dan sebagian lainnya menghadap ke selatan,
Sehingga terkadang ada rumah yang posisinya membelakangi rumah lain namun penghuninya tidak saling mengenal.
Dan seseorang bisa mengenal orang lain hingga rumah ketujuh di sebelah kiri atau kanan rumahnya karena mereka berjajar di satu jalan yang sama, sehingga standar kedekatan dalam bertetangga kembali ke adat kebiasaan (‘urf).
Walaupun ada hadis-hadis yang menyebutkan standar tersebut namun tidak ada yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
(2) TAMU
Adapun tamu adalah…, apa definisi tamu?
Bagus! Tamu adalah setiap orang yang datang ke rumah Anda dengan tujuan untuk menemui Anda, dan dia bukan penduduk setempat.
Pada pengertian ‘tamu’ harus terpenuhi 2 kriteria: Pertama, dia bermaksud untuk menemui Anda di rumah Anda.
Kriteria kedua: Dia bukan penduduk setempat, yaitu dia berasal dari luar daerah tempat tinggal Anda.
Jika terpenuhi dua kriteria ini, maka dia menjadi seorang tamu yang melekat padanya hak-hak seorang tamu.
Maksudnya, misalkan ada seseorang yang datang dari Riyadh ke rumah salah seorang di antara kalian di sini, dia tidak punya HP, dia tiba-tiba datang dan mengetuk pintu Anda setelah Shalat Ashar, namun Anda tolak dia lewat microphone di bel rumah Anda,
Assalaamu‘alaikum. “Wa’alaikumussalaam, dengan siapa kami bicara?”
Aku Fulan dari Riyadh.
Semoga Allah memanjangkan usia Anda, tapi kami sedang sibuk sekarang.
Seperti ini boleh dia lakukan atau tidak? Tidak boleh! Menurut pendapat yang benar bahwa memuliakan tamu hukumnya adalah wajib.
Ini tidak boleh, dia harus menjamunya karena dia datang bermaksud menemuinya dari luar daerahnya.
Namun apabila orang yang mengetuk pintu tersebut berkata, “Aku adalah si Fulan.” Dia tinggal di dekatnya, rumah mereka hanya terpisah oleh lima rumah, dia berkata, “Demi Allah, saya ada waktu senggang sekarang dan saya bawakan kopi untukmu.”
Kemudian dia berkata, “Maafkanlah saya, saya sedang sibuk sekarang.” Seperti ini boleh atau tidak? Boleh!
Karena yang tinggal dalam satu daerah hanyalah orang yang berkunjung saja, bukan seorang tamu.
Adapun kebiasaan orang yang menyebut setiap orang yang berkunjung ke rumahnya sebagai tamu, maka ini adalah adat kebiasaan saja.
Adapun dari sisi hukum syariat, tamu adalah yang memenuhi kriteria tadi, yaitu: (1) Dia bermaksud mengunjungi Anda. (2) Dia bukan penduduk setempat (dia datang dari luar daerah Anda).
Seandainya, pada suatu waktu, Anda sedang berada di jalan dan bertemu seseorang yang Anda kenal, dia datang dari Riyadh, kemudian Anda mengucapkan salam kepadanya.
Apakah dia adalah tamu yang wajib ditunaikan kepadanya hak sebagai tamu atau tidak? Tidak! Karena dia tidak bermaksud, tidak menyengaja untuk menemui Anda.
Adapun adat kebiasaan orang-orang yang kemudian mengundang ke rumahnya dan berusaha memuliakannya, maka ini adalah perkara adat kebiasaan yang merupakan adab yang terpuji.
Adapun tentang ‘kewajiban memuliakan tamu’ menurut pendapat yang benar dari kalangan para ulama, maka ini adalah masalah lain lagi. Demikian..
Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda, kemudian beliau -rahimahullah- berkata, “Hadis keenam belas, dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi…”
Dan kita bermudah-mudahan dalam masalah seperti ini, hadisnya telah dibaca puluhan kali, kemudian kalian berkata, “Kami sudah paham.” Namun ketika kalian mencoba memahaminya lagi dengan benar, kalian dapati ternyata pemahaman kalian campur baur dan tidak benar.
(3) ZIARAH KUBUR
Contohnya sekarang, para ahli fiqih berkata, “Apabila seseorang ‘melewati’ kuburan hendaknya dia mengucapkan salam untuk para penghuni kubur.” Karena ini disebutkan dalam hadis.
Tapi apa beda antara ‘melewati’ dan ‘menziarahi’? Apa jawabannya?
Ziarah Kubur adalah memasuki komplek kuburan, ini yang disebut ziarah. Adapun hanya ‘lewat’ berarti tidak memasuki pekuburan.
Jadi, apabila dia masuk pekuburan berarti dia melakukan Ziarah Kubur. Namun apabila dia lewat di depannya berarti inilah yang dinamakan ‘melewati’. Namun mengenai hal ini, berdasarkan beberapa hadis yang ada, para ulama fiqih mengatakan bahwa…
orang yang melewati kubur maksudnya adalah orang yang melihatnya, jadi ada pekuburan yang dikelilingi tembok dan memang ada kuburan terlihat di dalamnya, maka hendaknya dia mengucapkan salam (sebagaimana yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Akan tetapi banyak pekuburan di zaman sekarang ditutupi dengan tembok-tembok dari semen sehingga apabila seseorang tidak melihat kuburannya maka tidak perlu mengucapkan salam.
Karena hal tersebut tidak ada dalam syariat, sebagaimana salam kepada orang yang hidup adalah ketika melihatnya, maka salam kepada mayit juga ketika terlihat kuburnya.
Sekarang apabila Anda melewati rumah seseorang yang tertutup semua jendela dan pintunya, Anda tidak melihatnya, apakah Anda mengucapkan salam? Anda tidak perlu salam, demikian pula dalam konteks ini.
Maksud saya, seorang penuntut ilmu semestinya memperbaiki pemahamannya terhadap ilmu
dan tidak terperdaya dengan banyaknya ilmu yang dia pelajari padahal tidak paham.
Ilmu itu adalah yang sedikit tapi paham, jika sudah dipahami walaupun hanya sedikit maka itulah ilmu yang seseorang dapatkan.
Adapun banyaknya wawasan tanpa pemahaman yang benar hanya akan menjatuhkan seseorang pada kesalahan. Sekarang bisa Anda dapati sebagian manusia salah paham dalam banyak masalah karena dia tidak bagus pemahamannya.
(4) KAMAR MANDI
Misalnya sekarang, ada yang berkata, “Dimakruhkan berdzikir di khala’. Apa definisi khala’?
Tempat buang hajat. Namun berdzikir tidak dimakruhkan di ‘hammam’, demikian para ulama fiqih berkata, “Tidak dimakruhkan di hammam.” Apa definisi hammam?
Hammam adalah tempat untuk mandi. Baiklah, sekarang yang ada di rumah kita itu khala’ ataukah hammam?
Yang penting, silakan dipelajari niscaya kalian akan mendapatkan faedah.
Maksudnya adalah bahwasanya seorang penuntut ilmu harus memahami ilmu dengan pemahaman yang benar walaupun hanya sedikit, oleh sebab itulah hadis-hadis ini yang semuanya berjumlah empat puluh dua hadis di dalamnya ada pokok-pokok ajaran Islam,
di mana beberapa hadisnya dijelaskan dalam satu jilid penuh, seperti hadis Jibril, satu jilid penuh hanya untuk menjelaskan satu hadis saja karena banyaknya kandungan isinya.
Barangsiapa yang merenungkan hadis-hadis ini secara khusus niscaya akan mengerti hakikat-hakikat syariat yang akan menjadi penjelasan yang sangat gamblang dalam dirinya.
Pembahasan kita barusan tentang penjelasan definisi tetangga dan definisi tamu,
maksud saya, sebagian orang menyangka bahwa “orang yang sekantor adalah tetangga kita, yaitu orang yang bersebelahan dengan kita di kantor.” Ini bukan tetangga namanya, tapi hanya teman kerja saja!
Adapun kantor itu ya kantor, sebuah benda yang tidak berhubungan dengan hukum-hukum bertetangga yang sudah dikenal,
sedangkan tetangga itu berkaitan dengan tempat tinggal, wilayah tempat tinggal inilah yang dikaitkan dengan hukum bertetangga karena sifatnya yang secara umum tetap dan tidak berubah-ubah. Demikian.
***
وَالْجَارُ مَا هُوَ الْجَارُ؟
نَعَمْ
أَيش؟
طَيِّبٌ، غَيْرُكَ
مَنْ جَاوَرَ بَيْتِي
قَرِيبٌ مِنِّي يَعْنِي هَذَا مَثَلًا جَارِي، هَا؟
هَذَا شَيْءٌ وَالْإِحْسَانُ إِلَيْهِ شَيْءٌ آخَرُ
نَحْنُ إِنْ شَاءَ الله الْآنَ كُلُّنَا نُحْسِنُ إٍلَى النَّاسِ يُبْعِدُونَ عَنَّا آلَافُ الْأَمْيَالِ تَابِعُونَ الدَّرْسَ لَكِنْ هَلْ هَذَا جَارٌ؟
تَرَى السَّكَنَ فيْ الإِمَارَاتِ؟
أَيْ لَكِنْ مَا هُوَ الْجَارُ؟
أَيْش؟ أَحْسَنْتَ
وَالْجَارُ هُوَ الْمُلَاصِقُ فِي دَارِ السُّكْنَى وَالْجَارُ هُوَ الْمُلَاصِقُ فِي دَارِ السُّكْنَى
وَتَقْدِيرُهُ يَرْجِعُ إِلَى الْعُرْفِ وَتَقْدِيرُهُ يَرْجِعُ إِلَى الْعُرْفِ
فَقَدْ يُعَدُّ الْقَرِيبُ… فَقَدْ يُعَدُّ الْبَعِيدُ جَارًا وَلَا يُعَدُّ الْقَرِيبُ جَارًا فَقَدْ يُعَدُّ الْبَعِيدُ جَارًا وَقَدْ يُعَدُّ… وَقَدْ لَا يُعَدُّ الْقَرِيبُ جَارًا
فَالْأَبْنِيَةُ الْمَوْجُودَةُ الْيَوْمَ عَلَى هَيْئَةِ الْقِطَعِ الْمُتَظَاهِرَةِ أَيْ الَّتِي يَكُونُ بَعْضُهَا يَفْتَحُ إِلَى جِهَةٍ كَالشَّمَالِ وَالْأُخْرَى تَفْتَحُ إِلَى جِهَةِ الْجَنُوبِ
فَقَدْ يَكُونُ بَيْتٌ فِي ظَهْرِ بَيْتٍ لَا يَعْرِفَانِ بَعْضَهُمَا
وَيَكُونُ الرَّجُلُ يَعْرِفُ السَّابِعَ عَنْ يَسَارِ بَيْتِهِ أَوْ عَنْ يَمِينِهِ لِأَنَّهُمْ يَلْتَقُونَ فِي شَارِعٍ وَاحِدٍ فَتَقْدِيرُهُ يُرْجَعُ فِيهِ إِلَى الْعُرْفِ
وَرُوِيَ فِي تَقْديرِهِ أَحَادِيثُ لَا تَصِحُّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَأَمَّا الضَّيْفُ فَهُوَ، أَيش الضَّيْفُ؟
أَحْسَنْتَ، وَأَمَّا الضَّيْفُ فَهُوَ كُلُّ مَنْ نَزَلَ بِكَ قَاصِدًا لَكَ مِنْ غَيْرِ بَلَدِكَ كُلُّ مَنْ نَزَلَ بِكَ قَاصِدًا لَكَ مِنْ غَيْرِ بَلَدِكَ
فَيَجْتَمِعُ فِيهِ وَصْفَانِ أَحَدُهُمَا أَنْ يَقْصِدَكَ فِي بَيْتِكَ أَنْ يَقْصِدَكَ فِي بَيْتِكَ
وَالْآخَرُ أَنْ يَكُونَ مِنْ خَارِجِ بَلَدِكَ أَنْ يَكُونَ مِنْ خَارِجِ بَلَدِكَ
فَإِذَا وُجِدَ هَذَانِ وَصْفَانِ صَارَ ضَيْفًا يَثْبُتُ لَهُ حَقُّ ضَيْفٍ
يَعْنِي مَثَلًا لَوْ أَنَّ آتِيًا أَتَى مِنَ الرِّيَاضِ إِلَى بَيْتِ أَحَدِكُمْ هُنَا ثُمَّ جَاءَ، مَا كَانَتْ فِيهِ جَوَّالَاتٌ، ثُمَّ جَاءَ وَطَرَقَ الْبَابَ بَعْدَ الْعَصْرِ فَرَدَّدْتَ عَلَيْهِ بِالْجِهَازِ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ مَنْ كَلَّمَنَا؟ فُلَانٌ جَاءَ مِنَ الرِّيَاضِ فَقَالَ حَيَّاكَ اللهُ لَكِنَّنَا الْآنَ مَشْغُولٌ
هَذَا يَجُوزُ لَهُ فِعْلُهُ أَمْ لَا يَجُوزُ ؟ لَا يَجُوزُ عَلَى الْقَوْلِ الرَّاجِحِ فِي أَنَّ إِكْرَامَ الضَّيْفِ وَاجِبٌ
هَذَا لَا يَجُوزُ لَا بُدَّ لَهُ أَنْ يُضِيفَهُ لِأَنَّهُ قَصَدَهُ مِنْ خَارِجِ بَلَدِهِ
فَإِنْ كَانَ هَذَا الطَّارِقُ قَالَ أَنَا فُلَانٌ الَّذِي يَسْكُنُ قَرِيبًا مِنْهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ خَمْسَةُ بُيُوتٍ قَالَ وَاللهِ أَنَا عِنْدِيْ فَرَاغُ الْوَقْتِ وَأَجِدُ الْقَهْوَةَ مَعَكَ
فَقَالَ لَا اِعْذِرْنِي أَنَا مَشْغُولٌ يَجُوزُ لَهُ فِعْلُهُ وَلَا مَا يَجُوزُ ؟ يَجُوزُ
لِأَنَّ مَنْ كَانَ مِنَ الْبَلَدِ يُسَمَّى زَائِرًا وَلَا يُسَمَّى ضَيْفًا
وَأَمَّا فِي عُرْفِ النَّاسِ مِنْ تَسْمِيَّتِهِ ضَيْفًا فَهَذَا شَيْءٌ عُرْفِيٌّ
وَأَمَّا بِاِعْتِبَارِ الْحَقِيقَةِ الَّتِي عُلِّقَ بِهَا حُكْمُ الشَّرِيعَةِ فَإِنَّ الضَّيْفَ يَكُونُ عَلَى هَذِهِ الصِّفَةِ أَنَّهُ قَاصِدٌ لَكَ مِنْ غَيْرِ بَلَدِكَ
فَلَوْ قُدِّرَ أَنَّكَ ذَاتَ مَرَّةٍ وَأَنْتَ فِي طَرِيقٍ مِنْ طُرُقِ هَذِهِ الْبَلْدَةِ لَقِيْتَ رَجُلًا تَعْرِفُهُ قَادِمًا مِنَ الرِّيَاضِ وَسَلَّمْتَ عَلَيْهِ
فَهَلْ هُوَ ضَيْفٌ يَجِبُ لَهُ حَقُّ الضَّيْفِ أَمْ لَا ؟ لَا لِأَنَّهُ لَيْسَ قَاصِدًا لَيْسَ قَاصِدًا لَكَ
وَأَمَّا عُرْفُ النَّاسِ مِنْ دَعْوَتِهِ وَالْتِمَاسِ إِكْرَامِهِ فَهَذَا شَيْءٌ عُرْفِيٌّ مِنْ آدَابٍ طَيِّبَةٍ
لَكِنْ كَوْنُهُ وَاجِبًا عَلَى الْعَبْدِ عِنْدَ قَوْلِ الْجَمَاعَةِ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الرَّاجِحُ فِي إِكْرَامِ الضَّيْفِ فَهَذَا شَيْءٌ آخَرَ نَعَمْ
أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ ثُمَّ قَالَ رَحِمَهُ اللهُ الْحَديثُ السَّادِسَ عَشَرَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ
وَهَذِهِ الْمَسَائِلُ نَحْنُ نَتَسَاهَلُ بِهَا ذَكَرَ الْحَديثَ عَشَرَ مَرَّاتٍ وَتَقُولُونَ فَهِمْنَاهُ لَكِنْ إِذَا جِئْتَ تَفْهَمُهُ عَلَى الْوَجْهِ الصَّحِيحِ تَجِدُ أَنَّ الْفَهْمَ فِيهِ غَبَشٌ لَيْسَ فَهْمًا صَحِيحًا
الْآنَ مَثَلًا الْفُقَهَاءُ يَقُولُونَ وَإِذَا مَرَّ بِمَقْبَرَةٍ سَلَّمَ عَلَى أَهْلِهَا لِلْحَدِيثِ الْوَارِدِ
مَا الْفَرْقُ بَيْنَ مَرَّ وَزَارَ ؟ الْجَوَابُ؟
الزِّيَارَةُ الدُّخُولُ إِلَى الْمَقَابِرِ هَذِهِ تُسَمَّى الزِّيَارَةَ وَالْمُرُورُ عَدَمُ الدُّخُولِ إِلَى الْمَقَابِرِ
أَنَّ إِذَا دَخَلَ هَذَا زَارَ الْمَقَابِرَ وَإِذَا مَرَّ هَذَا مُرُورٌ لَكِنَّ الْفُقَهَاءَ لَمَّا قَالُوْا هَذَا وَقَالُوا لِلْأَحَادِيثِ الوَارِدَةِ
كَانَ المَارُّ بِالْقُبُورِ يَرَاهَا يَعْنِي الْمَكَانُ فِيهِ جُدْرَانُ قَبْرٌ هَذِهِ الْقُبُورُ مَوْجُودَةٌ يُسَلِّمُ
لَكِنْ الْمَقَابِرُ الَّتِي يُوجَدُ كَثِيْرٌ مِنْهَا الْآنَ وَقَدْ أَغْلَقَتِ الْجُدْرَانُ الْإِسْمَنْتِيَّةُ فَهَذَا إِذَا لَمْ يَرَ الْقُبُورَ لَا يُسَلِّمُ
لِأَنَّ الشَّرْعَ مَا أَوْرَدَ بِهَذَا فَكَمَا يُسَلَّمُ إِلَى الْحَيِّ إِذَا رُئِيَ يُسَلَّمُ إِلَى الْمَيِّتِ إِذَا رُئِيَ قَبْرُهُ
أَنْتَ الْآنَ تَمُرُّ عَلَى بَيْتِ وَاحِدٍ تُمْسَكُ النَّوَافِذُ وَأَبْوَابُهُ مَا وَجَدْتَهُ تُسَلِّمُ عَلَيْهِ؟ مَا تُسَلِّمُ عَلَيْهِ فَكَذَلِكَ هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ
الْمَقْصُودُ أَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُحْسِنَ تَفَهُّمَ الْعِلْمِ
وَأَنْ لَا يَغْتَرَّ بِطَلَبِ كَثْرَةِ الْمَعْلُومَاتِ دُونَ الْفَهْمِ
الْعِلْمُ هُوَ مَا قَلَّ مَعَ الْفَهْمِ إِذَا وُجِدَ الْفَهْمُ وَلَوْ كَانَ الْقَلِيلَ يُلْتَقَى الْإِنْسَانُ الْعِلْمَ
أَمَّا كَثْرَةُ الْمَعْلُومَاتِ بِدُونِ… بِدُونِ فَهْمٍ تُوقِعُ الْإِنْسَانَ فِي الْغَلَطِ الْآنَ تَجِدُ مِنَ النَّاسِ يَغْلَطُ فِي الْمَسَائِلِ الْكَبِيْرَةِ لِأَنَّهُ لَا يُحْسِنُ فَهْمَهُ مَا يُحْسِنُ فَهْمَهُ
مَثَلًا الْآنَ يَقُولُ وَيُكْرَهُ ذِكْرُ اللهِ فِي خَلَاءٍ يُكْرَهُ ذِكْرُ اللهِ فِي خَلَاءٍ مَا هُوَ الْخَلَاَءُ؟
مَحَلُّ قَضَاءِ الْحَاجَةِ لَا فِي حَمَّامٍ يَقُولُ الْفُقَهَاءُ لَا فِي حَمَّامٍ أَيش مَعْنَى الْحَمَّامِ؟
الْمَوْضِعُ الْمُعَدُّ لِلْمُغْتَسِلِ طَيِّبٌ الَّذِي فِي بُيُوتِنَا الْآنَ خَلَاَءٌ أَمْ حَمَّامٌ ؟ دَوْرَةُ خَلَاءٍ أَمْ حَمَّامٍ ؟ هَا؟
الْمُهِمُّ اِبْحَثُوْا تَسْتَفِيدُونَ
الْمَقْصُودُ طَالِبُ الْعِلْمِ يَفْهَمُ الْعِلْمَ فَهْمًا صَحِيحًا وَلَوْ كَانَ قَلِيلًا لِذَلِكَ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ الَّتِي هِيَ اثْنَانِ وَأَرْبَعُونَ حَدِيثًا هَذِهِ فِيهَا أُصولُ الْإِسْلَامِ
بَعْضُهَا شُرِحَ بِمُجَلَّدٍ كَامِلٍ كَحَدِيثِ جَبْرِيلَ مُجَلَّدٌ كَامِلٌ يُشْرَحُ فِيهِ الْحَديثُ لِمَا فِيهِ مِنَ الْمَعَانِي
فَالَّذِي يَتَأَمَّلُ هَذِهِ الْأَحَادِيثَ خَاصَّةً يَعْرِفُ حَقَائِقَ الشَّرْعِ وَتَكُونُ بَيِّنَةً وَاضِحَةً فِي نَفْسِهِ
كَانَ الْحَدِيثُ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ قَرِيْبًا مِنْ بَيَانِ مَعْنَى الْجَارِ وَمِنْ بَيَانِ مَعْنَى…الضَّيْفِ
أَعْنِي بَعْضَ النَّاسِ يَقُولُ الَّذِي فِي الْمَكْتَبِ هَذَا جَارُنَا الَّذِي فِي الْمَكْتَبِ بِجَنْبِنَا فِي الْعَمَلِ هَذَا مَا هُوَ جَارٌ هَذَا زَمِيلٌ فِي الْعَمَلِ
أَمَّا كَوْنُ مَكْتَبٍ هُوَ مَكْتَبٌ كَانَ مَادَّةً لَا تَتَعَلَّقُ بِأَحْكَامِ الْجِيْرَةِ الْمَعْرُوفَةِ
الْجَارُ هُوَ مُتَعَلِّقٌ بِدَارِ السُّكْنَى هَذِهِ دَارُ السُّكْنَى هِيَ مُتَعَلِّقَةٌ بِالْجِيرَةِ لِأَنَّهَا هِيَ الثَّابِتَةُ غَالِبًا الَّتِي لَا تَتَغَيَّرُ نَعَمْ














