Kekhusyukan adalah bagian penting dalam menjalankan ibadah. Dengan hati yang khusyuk, ibadah semakin terasa nikmat. Namun setan tak henti-hentinya menggoda umat manusia. Salah satu caranya adalah dengan membisikkan was-was. Sehingga hati pun goyah dan dirundung keraguan.
Apa makna ungkapan: Keraguan setelah ibadah selesai tidak perlu dihiraukan?
Ini adalah kaidah di kalangan para ulama fikih
bahwa keraguan yang muncul terhadap ibadah setelah ibadah itu selesai
tidak perlu dihiraukan.
Sebagai contohnya.
Semisal, kamu mendirikan salat zuhur atau asar,
lalu setelah salat, kamu ragu apakah salat tadi tiga atau empat rakaat?
Jika keraguan ini muncul setelah salat, maka tidak perlu kamu hiraukan,
akan tetapi jika keraguan ini muncul saat dalam salat,
maka keraguan itu harus tetap diperhatikan, jika orang yang salat itu bukan orang yang sangat sering ragu (terkena penyakit waswas).
Jika kamu dapat memeriksa yang benar dan perkiraanmu condong pada satu hal,
maka kamu dapat mengamalkan kecondongan perkiraanmu itu, lalu melakukan Sujud Sahwi.
Namun, jika kamu tidak dapat memeriksa dan tidak condong pada salah satunya,
maka kamu harus mengamalkan yang pasti, yaitu rakaat yang lebih sedikit.
Jika kamu ragu apakah sudah melakukan tiga atau empat rakaat? Maka pilihlah yang tiga, dan tambahlah rakaat keempat, lalu lakukanlah Sujud Sahwi.
Demikian juga dalam melempar jumrah (saat haji).
Seandainya setelah kamu melempar jumrah, lalu ragu apakah sudah melempar 6 atau 7 batu,
maka jangan hiraukan keraguan ini.
Namun, jika keraguan ini timbul saat melempar; apakah sudah 6 atau tujuh lemparan?
Atau apakah kamu sudah melempar 6 atau tujuh kali? Maka anggap itu 6 kali dan lemparlah sekali lagi.
Jadi ini adalah kaidah di kalangan para ulama yang berlaku dalam berbagai ibadah, yaitu
keraguan yang timbul pada ibadah
setelah ibadah itu selesai, tidak perlu dihiraukan.
***
مَا مَعْنَى الشَّكُّ بَعْدَ الْعِبَادَةِ لَا يُلْتَفَتُ إِلَيْهِ؟
هَذِهِ قَاعِدَةٌ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ
وَهِيَ أَنَّ الشَّكَّ الطَّارِئَ عَلَى الْعِبَادَةِ بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْهَا
لَا يُلْتَفَتُ إِلَيْهِ
مِثَالُ ذَلِكَ
صَلَّيْتَ صَلَاةَ الظُّهْرِ أَوِ الْعَصْرِ مَثَلًا
ثُمَّ بَعْدَ الصَّلَاةِ شَكَكْتَ هَلْ هِيَ ثَلَاثٌ أَمْ أَرْبَعٌ
إِذَا كَانَ هَذَا الشَّكُّ إِنَّمَا طَرَأَ بَعْدَ الصَّلَاةِ لَا تَلْتَفِتْ إِلَيْهِ
لَكِنْ لَوْ كَانَ هَذَا الشَّكُّ مَوْجُودًا أَثْنَاءَ الصَّلَاةِ
فَهُنَا يُلْتَفَتُ إِلَيْهِ إِذَا لَمْ يَكُنِ الْمُصَلِّي كَثِيرَ الشُّكُوكِ
فَإِذَا كَانَ عِنْدَكَ التَّحَرِّي غَلَبَ الظَّنُّ
تَعْمَلُ بِغَلَبَةِ ظَنِّكَ وَتَسْجُدُ لِلسَّهْوِ
وَإِذَا لَمْ يَكُنْ عِنْدَكَ التَّحَرِّيْ وَلَا غَلَبَ الظَّنُّ
فَتَعْمَلُ بِالْيَقِينِ وَهُوَ الْأَقَلُّ
إِذَا شَكَكْتَ هَلْ هِيَ ثَلَاثُ رَكَعَاتٍ أَوْ أَرْبَعُ تَجْعَلُهَا ثُلَاثًا وَتَأْتِي بِرَكْعَةٍ وَتَسْجُدُ لِلسَّهْوِ
هَكَذَا أَيْضًا مَثَلًا فِي رَمْيِ الْجَمَرَاتِ
لَوْ أَنَّكَ بَعْدَ مَا فَرَغْتَ مِنَ الرَّمْيِ شَكَكْتَ هَلْ رَمَيْتُ سِتًّا أَمْ سَبْعًا
لَا تَلْتَفِتْ لِهَذَا الشَّكِّ
لَكِنْ لَوْ كَانَ الشَّكُّ أَثْنَاءَ الرَّمْيِ وَشَكَكْتَهَا هِيَ سِتَّةٌ أَوْ سَبْعَةٌ
أَوْ هَلْ رَمَيْتَ سِتًّا وَسَبْعًا اعْتَبِرْهَا سِتًّا وَارْمِ بِحَصَاةٍ أُخْرَى
فَإِذًا هَذِهِ قَاعِدَةٌ مُطَّرِدَةٌ فِي الْعِبَادَاتِ عِنْدَ الْعُلَمَاءِ وَهِيَ
أَنَّ الشَّكَّ الطَّارِئَ عَلَى الْعِبَادَةِ
بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْهَا لَا يُلْتَفَتُ إِلَيْهِ














