Anak adalah karunia terindah bagi kedua orang tuanya. Dan namanya orang tua tentu menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi sosok yang dapat diandalkan. Pengharapan tersebut terkadang dituangkan oleh orang tua di dalam nama sang anak. Bagaimana cara memberi nama anak yang baik?
Bab 49
Hukum Penghambaan Kepada Selain Allah Dalam Nama
Misal memberi nama Abdul Ka’bah dan sejenisnya.
Al-Arof 190:
فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُمَا صَٰلِحًا جَعَلَا لَهُۥ شُرَكَآءَ فِيمَآ ءَاتَىٰهُمَا ۚ فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Sholihan, bayi yang sempurna fisiknya. Yang dimaksud dalam ayat diatas.
Kedua orang tuanya menjadikan anak itu sesuatu yang disekutukan kepada Allah.
Dalil Hadits (dinilai dhoif):
Ketika hawa (istri adam) melahirkan anak, iblis datang dan sebelum lahirnya bayi yang terakhir hawa selalu keguguran. Iblis berkata namai anakmu abdul harits (hamba al harits / bukan nama Allah). Jika engkau memberi nama Abdul Harits dia akan hidup. Hawa terbawa perasaan, maka hawa memberi nama abdul harits dan ternyata betul hidup. Saat itu hawa menaati apa yang disampaikan iblis.
Dalam beberapa atsar (perkataan sahabat) disebutkan seperti itu kisahnya. Atasrnya shohih dan mayoritas ulama salaf menafsirkan ayat diatas yang dimaksud sepasang suami istri itu adalah Adam dan Hawa.
Timbul pertanyaan mengapa Adam melakukan kesyirikan?
Yang dimaksud شُرَكَآءَ disini Adam dan Hawa menduakan Allah dalam ketaatan / kepatuhan. Bukan kesyrikan akbar atau asghor. Ini pendapat mayoritas ulama salaf yang dipilih oleh Imam At Thobari.
Imam ibnu katsir mengatakan hadits tersebut adalah kisah isroiliyat. Ibnu katsir mengatakan pasangan suami istri itu adalah dari kalangan kaum musyrikin bukan adam dan hawa.
Setiap orang yang berbuat maksiat sejatinya telah mensekutukan Allah dalam ketaatan. Dia mentaati hawa nafsunya / mentaati setan. Ketaatan semacam ini tidak termasuk syirik akbar atau syirik akbar.
Terlepas dari siapa pelaku yang dimaksud dalam ayat diatas, tidak diperbolehkan memberi nama dengan penghambaan kepada selain Allah.
Kesimpulan:
Penghambaan kepada selain Allah dalam nama termasuk kesyirikan. (Syirik Akbar atau asghor tergantung keyakinannya)
Dalil Ijma:
Imam Ibnu Hazm, beliau berkata: semua ulama sepakat bahwa penghambaan kepada Allah selain nama. Contoh abdul ka’bah, abdul uzza dan yang semisal. Kecuali Abdul Mutholib, menurut ibnu hazm itu diperbolehkan karena itu kakek rosulullah. Namun ini dinilai kurang tepat karena abdul mutholib itu bukan nama tapi julukan. Nama aslinya adalah syaibah al hamd. Terkenal dengan nama abdul mutholib karena pamannya syaibah yang bernama al mutholib ingin membawa syaibah ke mekkah dari madinah. Sampai di mekkah syaibah berubah warna kulitnya dan kusut serta kotor karena perjalanan panjang melalui gurun pasir. Orang yang melihat penampilan syaibah kemudian mereka mengira mutolib datang membawa budak (abdu mutholib). Mulai saat itu syaibah terkenal dengan nama abdul mutholib.
Jawaban kedua atas pendapat ibnu hazm, jika abdul mutholib adalah nama maka bukan datang dari Allah dan Rasul sehingga itu bukan dalil. Jika yang memberi nama Allah atau Rasul maka bisa dijadikan sebagai dalil.
Jadi apabila jaman saat ini ada yang memberi nama Abdul Mutholib maka tidak boleh
Kesimpulan:
Para ulama sepakat bahwa penghambaan kepada selain Allah dalam nama hukumnya haram.
Ibnu abbas diriwayatkan lebih detail tentang kejadian Adam dan Hawa ketika hawa hamil, iblis datang dab berkata aku ini teman kalian dulu ketika di surga dan mengakibatkan kamu dikeluarkan dari surga. Iblis berkata, patuhi perintahku jika tidak aku akan membuat bayi dalam perutmu mempunyai dua tanduk yang akan semakin panjang yang akan merobet perutmu. Aku akan lakukan itu, iblis menakuti Adam dan Hawa.
Ternyata Adam dan Hawa tidak mematuhi dan Allah menakdirkan bayi tersebut meninggal. Kemudian hawa hami lagi dan iblis datang lagi dengan perkataan serupa. Kemudian gugur lagi.
Hawa hamil ketiga kalinya, karena ingin sekali punya anak maka Adam dan Hawa mengikuti dan menaati iblis. Dan memberi nama abdul harits. Adam dan hawa tidak memaksudkan nama tersebut dengan hamba iblis.
Dalil:
Dari qodatah seorang tabi’in, شُرَكَآءَ bukan makna mensekutukan Allah dalam ibadah yang merupakan syirik akbar. Maksudnya adalah mensekutukan dalam ketaatan. Setiap orang yang berbuat maksiat sejatinya dia telah mensekutukan Allah dalam ketaatan.
Mujahid berkata, Adam dan Hawa kuatir anak yang terlahir berwujud setan.














