Kejujuran adalah akhlak yang mulia. Di masa ini, menemukan seseorang yang memiliki sifat jujur tidaklah mudah. Karena mempertahankan kejujuran sama halnya menahan diri dari kebohongan. Berlaku tidak jujur menjadi hal yang mulai lekat pada diri banyak manusia. Keserakahan terhadap dunia dan motivasi untuk memuaskan setiap hasrat menjadikan seseorang rela melakukan apa saja meskipun harus berbuat dusta, curang, tidak amanah, dan semisalnya.

Wahai muslim, jagalah kejujuran!
Terutama jujur kepada Allah,
kemudian jujur kepada sesama makhluk.
Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Kalian harus jujur,
karena kejujuran itu membimbing pada keimanan,
dan keimanan akan membimbing pada kebaikan.
Sungguh, seseorang benar-benar berlaku jujur
dan memelihara kejujurannya, hingga tertulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur.
Hindarilah kedustaan,
karena kedustaan akan menggiring kepada kejahatan,
dan kejahatan akan menjerumuskan ke neraka.
Sungguh, seseorang benar-benar berdusta
dan terus-menerus berdusta, hingga ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, seorang muslim harus berkomitmen
terhadap dirinya untuk jujur dalam ​​berbicara
dan menjauhi dusta,
baik ketika memuji maupun mencaci,
atau saat serius maupun bercanda.
Semua amalan kita tertulis untuk kita.
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkan melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)
Jadi, seorang muslim harus mengintrospeksi dirinya sendiri
sebelum dihadapkan pada hari perhitungan (kiamat).

***

الْزَمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُ الصِّدْقَ
مَعَ اللهِ قَبْلَ كُلِّ شَيْءٍ
ثُمَّ مَعَ الْخَلْقِ
فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ
فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْإِيمَانِ
وَالْإِيمَانُ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ
فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ
وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا
وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ
فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ
وَالْفُجُورُ يَهْدِي إِلَى النَّارِ
وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ
وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا
فَلْيَحْرَصْ الْمُسْلِمُ عَلَى أَنْ يَتَعَاهَدَ
نَفْسَهُ بِصِدْقِ الْحَدِيثِ
وَأَنْ يَتَجَنَّبَ الْكَذِبَ
لَا فِي مَدْحٍ وَلَا فِي ذَمٍّ
وَلَا فِي جِدٍّ وَلَا فِي هَزْلٍ
أَعْمَالُنَا كُلُّهَا مَكْتُوبَةٌ عَلَيْنَا
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
فَلَيَحْرِصْ الْمُسْلِمُ عَلَى أَنْ يُحَاسِبَ نَفْسَهُ
قَبْلَ أَنْ يُعْرَضَ عَلَى الْحِسَابِ