Berpuasa di bulan Ramadan hukumnya wajib bagi umat Islam. Puasa dimulai dari fajar hingga terbenamnya matahari. Selama berpuasa, kita tidak boleh makan ataupun minum. Selain itu, kita harus menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Oleh karena itu, pengetahuan tentang pembatal puasa menjadi sangat penting untuk dipelajari.

Inilah sebabnya seorang hamba seyogianya
benar-benar perhatian untuk melawan nafsunya,
demi mendapatkan keberkahan dan pahala puasa,
serta kebaikannya yang agung
dan berbagai balasan atas puasa tersebut.
Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum.
Ya, begitulah puasa,
tapi hakikat puasa lebih agung daripada itu,
sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi kita Ṣalawātullāhi wa Salāmuhu ʿAlaihi,
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta,
perbuatan munkar, dan tidak meninggalkan kebodohan,
maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Bukhari)
Jadi, tujuan puasa adalah mendidik jiwa
kepada akhlak yang mulia dan adab yang paripurna,
memelihara hak, menguatkan jiwa
di atas perilaku yang baik dan pekerti yang luhur,
dan menghilangkan kekerasan jiwa.
Jadi, puasa itu mendidik, tanpa perlu diragukan.
Itulah sebabnya Allah Subẖānahu wa Taʿālā Berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa
sebagaimana telah diwajibkan atas orang sebelum kalian
agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Jadi, ibadah ini disyariatkan
karena akan mendatangkan dampak yang mulia dan buah yang berkah,
termasuk dampak tersebut adalah menjaga diri seorang hamba
—dengan izin Allah Subẖānahu wa Taʿālā— dan melindunginya dari setan.
Sebabnya karena setan itu mengalir dalam diri anak Adam
melalui aliran darah di pembuluh darah.
Jika dia berpuasa, maka puasanya akan mempersempit laju setan
Inilah yang diisyaratkan dalam hadis.
Jadi, seorang hamba dapat memetik manfaat di bulan Ramadan
dengan memperhatikan ketaatan ini, yang disyariatkan bagi seorang muslim
di bulan yang diberkahi ini,
yaitu berpuasa dengan penuh perhatian.

***

وَلِهَذَا يَنْبَغِي عَلَى الْعَبْدِ
فِعْلًا أَنْ يَعْتَنِيَ بِمُجَاهِدَةِ نَفْسِهِ
عَلَى تَحْصِيلِ بَرَكَةِ الصِّيَامِ وَأَجْرِهِ
وَخَيْرَاتِهِ الْعَظِيمَةِ
وَمَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ مِنْ أُجُورٍ
وَلَيْسَ هُوَ مُجَرَّدُ الْإِمْسَاكِ عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ
نَعَمْ هَذَا هُوَ الصِّيَامُ
لَكِنَّ الصِّيَامَ شَأْنُهُ أَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ
كَمَا قَالَ نَبِيُّنَا صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ
وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ
فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
وَمَقْصُودُ الصِّيَامِ تَهْذِيبُ النَّفْسِ
عَلَى الْأَخْلَاقِ الْفَاضِلَةِ وَالْآدَابِ الْكَامِلَةِ
وَالرِّعَايَةِ لِلْحُقوقِ وَتَوْكِيدِ النَّفْسِ
عَلَى السُّلُوكِ الطَّيِّبِ وَالْخُلُقِ الْفَاضِلِ
وَالْبُعْدِ بِالنَّفْسِ عَنْ رُعُونَتِهَا
فَالصِّيَامُ يُهَذِّبُ وَلَا شَكَّ
وَلِهَذَا قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۙ
فَهَذِهِ الْعِبَادَةُ شُرِعَتْ
لِمَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا مِنْ آثَارٍ عَظِيمَةٍ وَثِمَارٍ مُبَارَكَةٍ
وَمِنْ ضِمْنِ هَذِهِ الْآثَارِ تَحْصِينُ الْعَبْدِ
بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَوِقَايَتُهُ مِنَ الشَّيْطَانِ
وَلِهَذَا الشَّيْطَانُ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ
مَجْرَى الدَّمِ مِنَ الْعُرُوقِ
وَإِذَا صَامَ فِي صِيَامِهِ تَضْيِيقُ عَلَى الشَّيْطَانِ فِي جَرْيِهِ
هَذَا الَّذِي أُشِيرَ إِلَيْهِ فِي الْحَدِيثِ
وَلِهَذَا نَفَعَ الْعَبْدُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ
بِالْعِنَايَةِ بِهَذِهِ الطَّاعَةِ الَّتِي شُرِعَتْ لِلْمُسْلِمِ
فِي هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ
وَالَّتِي هِيَ الصِّيَامُ عِنَايَةً بِهِ