Manusia memiliki hati di dalam dadanya. Akan tetapi tidak setiap orang mengetahui apa fungsi hati dan bagaimana cara merawatnya. Sesungguhnya, hati mempunyai peranan yang vital dalam kehidupan seorang hamba. Kedudukan hati sebagai pemimpin bagi anggota badan, menunjukkan betapa besar perhatian yang harus kita berikan kepadanya.

Hati bagaikan wadah yang di dalamnya bisa berisi kebaikanan ataupun keburukan. Oleh karena itu, hati yang baik akan membuat anggota badan yang lain pun baik. Sedangkan hati yang buruk akan merusak seluruh badan. Masih hangat di telinga kita, sabda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ

Artimya: Ingatlah di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad akan ikut baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan ikut rusak. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (jantung). (HR. Bukhari dan Muslim)

Ahsanallahu ilaikum, wahai Syaikh kami.
Bagaimana seseorang bisa menyucikan hatinya dan menghilangkan noda dosa yang menutup hatinya?
Penyuciannya dengan dua cara:
Pertama, dengan menjauhkan unsur-unsur buruk yang dapat merusak hati.
Apa saja unsur-unsur ini?
Di antaranya adalah dosa-dosa dan kemaksiatan.
Terkhusus makan harta haram dan mendengar berita dusta.
Mendengar berita dusta.
Hal-hal ini dapat memengaruhi dan mencederai hati.
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala, “Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya,
maka kamu tidak akan mampu menolak apa pun (yang datang) dari Allah.
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka.
Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang besar.
Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong dan banyak memakan harta yang haram…” (QS. al-Maidah: 41 – 42).
Jadi, seorang insan harus menjauhi harta haram dan tidak mendengar berita bohong
Serta menjauhi seluruh dosa dan kemaksiatan lainnya.
Inilah cara pertama.
Adapun cara kedua…
adalah cara pendesakan. Yaitu dengan mendesak penutup hati itu dengan hal-hal yang bertolak belakang dengannya.
Pertama-tama, dengan taubat yang tulus yang dapat menghilangkan noda itu.
Lalu dengan mendengar ucapan-ucapan yang baik,
baik itu dengan mendengar ayat-ayat al-Quran
dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
serta petuah-petuah dan nasihat
atau dengan menjadikan hati ini…
tidak mengonsumsi kecuali dengan harta halal
yang diperoleh dari sumber-sumber penghasilan yang terbaik.

***

أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ شَيْخَنَا
كَيْفَ يُطَهِّرُ الْإِنْسَانُ قَلْبَهُ وَكَيْفَ يُزِيْلُ الرَّانَ الَّذِي أَصَابَ قَلْبَهُ
التَّطْهِيْرُ بِأَمْرَيْنِ
الْأَوَّلُ بِإِبْعَادِ الْمَوَادِّ الْمُفْسِدَةِ الَّتِي تُفْسِدُ الْقَلْبَ
مَا هِيَ هَذِهِ الْمَوَادُّ؟
مِنْهَا الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي
وَخُصُوصًا أَكْلُ الْمَالِ الْحَرَامِ وَسَمَاعُ الْحَدِيثِ الْكَاذِبِ
وَسَمَاعُ الْحَدِيثِ الْكَاذِبِ
فَهَذِهِ أُمُورٌ تُؤَثِّرُ عَلَى الْقَلْبِ وَتَجْرَحُهُ
وَانْظُرْ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَمَن يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ
فَلَن تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ
لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ
فَيَجْتَنِبُ الْإِنْسَانُ الْمَالَ الْحَرَامَ وَيَجْتَنِبُ سَمَاعَ الْكَذِبِ
وَيَجْتَنِبُ سَائِرَ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي
هَذَا الطَرِيقُ
الطَّرِيقُ الثَّانِي
طَرِيقُ الْإِمْدَادِ فَيُمِدُّهَا بِمَا يُقَابِلُ ذَلِكَ
أَوَّلُهَا بِالتَّوْبَةِ الصَّادِقَةِ الَّتِي تُزِيلُ الْأَثَرَ السَّابِقَ
ثُمَّ بِسَمَاعِ الْحَدِيثِ الطَّيِّبِ
سَوَاءً بِسَمَاعِ آيَاتِ الْقُرْآنِ
وَأَحَادِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَالْمَوَاعِظِ وَالتَّذْكِيِر
أَوْ بِجَعْلِ هَذَا الْقَلْبِ
لَا يَتَغَذَّى إِلَّا بِالْمَالِ الْحَلَالِ
الَّذِي يَكْسِبُهُ الْإِنْسَانُ مِنْ أَطْيَبِ الْمَكَاسِبِ