Di dalam syariat Islam, akhlak bukanlah sekadar hiasan luar, melainkan buah dari keimanan. Begitu krusialnya kedudukan akhlak ini, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa diutusnya beliau ke muka bumi adalah demi menyempurnakan akhlak yang baik. Dengan demikian, sepantasnya seorang menjauhi akhlak-akhlak yang buruk.
Menjauhi hal-hal yang berlebihan dan tidak diperlukan: berlebihan dalam berbicara, memandang, dan mendengar.
Sikap berlebihan seperti ini membuat seseorang berakhlak buruk.
Sikap berlebihan membuat seseorang berakhlak buruk.
Sering kali sikap berlebihannya menjerumuskan seseorang ke dalam perkara-perkara
yang sama sekali tidak mencerminkan akhlak maupun adab.
Pilar ini telah diisyaratkan dalam hadis Nabi,
yaitu hadis keempat di antara hadis-hadis ini, dalam sabda beliau,
“Di antara baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan perkara yang bukan urusannya, tidak penting, dan tidak berfaedah baginya.” (HR. At-Tirmidzi).
“Di antara baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan perkara yang bukan urusannya, tidak penting, dan tidak berfaedah baginya.” (HR. At-Tirmidzi).
Yang dimaksud dengan “meninggalkan perkara yang bukan urusannya, tidak penting, dan tidak berfaedah baginya” adalah berdasarkan ketentuan syariat,
bukan berdasarkan kecenderungan diri.
Syariat telah mendidik seseorang dan menjelaskan apa yang menjadi urusannya, yang penting dan berfaedah baginya, serta apa pula yang tidak.
Maka, di antara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang bukan urusannya, tidak penting, dan tidak berfaedah baginya.
Ia tidak memasukkan dirinya ke dalam perkara yang bukan urusannya, tidak penting, dan tidak berfaedah baginya,
baik dengan memandang, mendengar, berbicara, maupun yang lainnya.
Maka sikap berlebihan ini, yaitu berlebihan dalam memandang atau mendengar, atau berbicara,
akan menyeret seseorang kepada banyak sekali perkara yang bertentangan dengan akhlak mulia dan adab yang luhur.
Hadis ini juga menunjukkan, yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Di antara baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan perkara yang bukan urusannya, tidak penting, dan tidak berfaedah baginya,”
bahwa meninggalkan perkara yang syariat perintahkan untuk ditinggalkan terhitung sebagai amal saleh seseorang.
Ia terhitung sebagai amal saleh seseorang,
termasuk di antara amalan-amalan salehnya yang Allah akan memberinya pahala atasnya pada hari Kiamat,
yaitu meninggalkan apa yang Allah perintahkan untuk ditinggalkan.
Sabda beliau, “…meninggalkan perkara yang bukan urusannya, tidak penting, dan tidak berfaedah baginya,”
mencakup seluruh bentuk meninggalkan perkara yang syariat larang, cegah, dan peringatkan agar tidak dilakukan.
Dan meninggalkan semua itu termasuk di antara tanda baiknya Islam seseorang.
Nabi kita yang mulia—semoga selawat dan salam Allah tercurah kepada beliau—menghitung sikap tersebut sebagai bagian dari Islam.
Bahkan, beliau menghitungnya sebagai bagian dari baiknya Islam seseorang.
Sabda beliau, “Di antara baiknya Islam seseorang,” menunjukkan adanya perbedaan tingkatan di antara kaum muslimin dalam sifat-sifat keislaman,
dan bahwa mereka tidak berada pada satu tingkatan yang sama dalam sifat-sifat tersebut.
Karena itu, para ulama berkata, “Iman adalah ucapan dan perbuatan; ia bertambah dan berkurang.”
Bahkan seseorang dapat merasakan dalam dirinya sendiri, terkadang pada fase-fase
atau pada hari-hari tertentu dalam hidupnya, imannya sedang bertambah, dan ia mengetahui sebab-sebab bertambahnya iman tersebut.
Demikian pula, ia mendapati pada dirinya pada sebagian hari, imannya sedang berkurang, dan ia juga mengetahui sebab-sebab berkurangnya iman tersebut.
***
الْبُعْدُ عَنِ الْفُضُولِ فُضُولِ الْكَلَامِ وَفُضُولِ النَّظَرِ وَفُضُولِ السَّمَاعِ
هَذَا الْفُضُولُ يَجْعَلُ الْإِنْسَانَ سَيِّئَ الْخُلُقِ
الْفُضُولُ يَجْعَلُ الْإِنْسَانَ سَيِّئَ الْخُلُقِ
وَكَثِيرًا مَا يُوَرِّطُ الْإِنْسَانَ فُضُولُهُ فِي أُمُورٍ
لَيْسَتْ مِنَ الْخُلُقِ فِي شَيْءٍ وَلَا مِنَ الْأَدَبِ فِي شَيْءٍ
وَهَذِهِ الرَّكِيزَةُ إِلَيْهَا الْإِشَارَةُ فِي حَدِيثِ النَّبِيِّ
الرَّابِعِ فِي هَذِهِ الْأَحَادِيثِ فِي قَوْلِهِ
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
وَالْمُرَادُ بِتَرْكِهِ مَا لَا يَعْنِيهِ أَيْ بِأَصْلِ الشَّرْعِ
لَا بِمُيُولَاتِ النَّفْسِ
فَالشَّرِيعَةُ هَذَّبَتِ الْمَرْءَ وَبَيَّنَتْ مَا يَعْنِي الْمَرْءَ وَمَا لَا يَعْنِيهِ
فَمِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
لَا يُدْخِلُ نَفْسَهُ فِي أُمُورٍ لَا تَعْنِيهِ
لَا بِالنَّظَرِ وَلَا بِالسَّمَاعِ وَلَا بِالْكَلَامِ وَلَا بِغَيْرِ ذَلِك
فَهَذَا الْفُضُولُ فُضُولُ النَّظَرِ أَوْ فُضُولُ السَّمَاعِ أَوْ فُضُولُ الْكَلَامِ
يَجُرُّ عَلَى الْإِنْسَانِ أُمُورًا كَثِيرَةً جِدًّا تَتَنَافَى مَعَ الْخُلُقِ الْفَاضِلِ وَالْأَدَبِ الْكَرِيمِ
وَقَدْ دَلَّ هَذَا الْحَدِيثُ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
أَنَّ التَّرْكَ لِمَا جَاءَتِ الشَّرِيعَةُ بِالْأَمْرِ بِتَرْكِهِ مَعْدُودٌ فِي عَمَلِ الْمَرْءِ الصَّالِحِ
مَعْدُودٌ فِي عَمَلِ الْمَرْءِ الصَّالِحِ
مِنْ جُمْلَةِ أَعْمَالِ الْمَرْءِ الصَّالِحَةِ الَّتِي يُثِيبُهُ اللهُ عَلَيْهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
تَرْكُ مَا أَمَرَهُ اللهُ بِتَرْكِهِ
وَقَوْلُهُ: تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
هَذَا يَدْخُلُ تَحْتَهُ كُلُّ التُّرُوكِ الَّتِي جَاءَتِ الشَّرِيعَةُ بِالنَّهْيِ عَنْهَا وَالْمَنْعِ مِنْهَا وَالتَّحْذِيرِ مِنْ فِعْلِهَا
وَأَنَّ ذَلِكَ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ
عَدَّ ذَلِكَ نَبِيُّنَا الْكَرِيمُ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ إِسْلَامًا
بَلْ عَدَّهُ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ
وَقَوْلُهُ: مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ، هَذَا يَدُلُّ عَلَى التَّفَاضُلِ بَيْنَ أَهْلِ الْإِسْلَامِ فِي خِصَالِ الْإِسْلَامِ
وَأَنَّهُمْ لَيْسُوا فِي خِصَالِهِ عَلَى دَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ
وَلِهَذَا قَالَ الْعُلَمَاءُ: الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ
حَتَّى الْإِنْسَانُ فِي نَفْسِهِ يَجِدُ أَحْيَانًا فِي مَرَاحِلَ
أَوْ فِي أَيَّامٍ مِنْ أَيَّامِهِ إِيمَانُهُ فِي ازْدِيَادٍ وَيَعْلَمُ أَسْبَابَ زِيَادَتِهِ
وَأَيْضًا يَجِدُ مِنْ نَفْسِهِ فِي بَعْضِ أَيَّامِهِ، إِيمَانُهُ فِي نَقْصٍ، وَيَعْلَمُ أَيْضًا أَسْبَابَ نَقْصِهِ
*
MASIH CARI ARTIKEL ISLAM DI GOOGLE?
Yuk, cari di Yufid.com (Islamic Search Engine) saja. Insya Allah LEBIH menenangkan hati!
INFO LENGKAP TENTANG PRODUKTIVITAS TIM YUFID:
Profil Yufid:
https://yufid.org/profil-yufid-network/
Donasi Dakwah untuk Operasional Yufid:
https://yufid.org/donasi-untuk-yufid/
(https://yufid.org/donasi-untuk-yufid/)
DONASI UNTUK VIDEO DAKWAH DAPAT DISALURKAN KE:
BANK SYARIAH INDONESIA
7086882242
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
Kode BSI: 451
Paypal: [email protected]
NB:
Rekening di atas adalah rekening khusus donasi Yufid Network, jadi Anda tidak perlu konfirmasi setelah mengirimkan donasi. Cukup tuliskan keterangan donasi pada saat Anda transfer.
3 CHANNEL YUFID DI YOUTUBE:
YUFID.TV:
/ @yufid
(
/ @yufid )
YUFID EDU:
/ @yufidedu
(
/ @yufidedu )
YUFID KIDS:
/ @yufidkids
YUK, FOLLOW SOSIAL MEDIA YUFID.TV LAINNYA UNTUK MENDAPATKAN UPDATE VIDEO TERBARU!
Fabebook:
/ yufid.tv
Instagram:
/ yufid.tv
Telegram: https://telegram.me/yufidtv
AUDIO KAJIAN
Website: https://kajian.net
Soundcloud:
/ kajiannet
YUK, DUKUNG YUFID.TV!














