Kita senantiasa memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab hanya Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Maha Pengabul setiap permohonan hamba-Nya. Namun, saat doa-doa itu tak kunjung menampakkan hasil, tak jarang muncul benih-benih keraguan di dalam dada. Sikap meragukan janji Allah ini merupakan sebuah kekeliruan besar. Sebagai seorang muslim, kita harus menyadari bahwa tidak dikabulkannya suatu keinginan sesuai tenggat waktu yang kita harapkan bukanlah pertanda bahwa Allah mengabaikan atau menolak doa kita. Untuk itu, mari kita luruskan persoalan ini satu persatu.
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60).
Syaikh yang mulia, kami sering berdoa kepada Allah, tetapi doa kami belum juga dikabulkan. Kira-kira, apa penyebabnya?
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Semoga selawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta seluruh keluarga dan para sahabat beliau.
Saya memohon kepada Allah Ta’ala agar menganugerahkan taufik kepada saya dan saudara-saudara saya kaum muslimin untuk berada di atas kebenaran dalam akidah, ucapan, dan perbuatan.
Allahumma amin.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan Rabbmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.’” (QS. Ghafir: 60)
Penanya mengatakan bahwa ia telah berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi Allah belum mengabulkan doanya.
Ia pun merasa bingung bagaimana memahami kenyataan ini dengan ayat yang mulia tersebut,
yang di dalamnya Allah Ta’ala menjanjikan akan mengabulkan orang yang berdoa kepada-Nya. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah menyelisihi janji-Nya.
Jawabannya: Pengabulan doa memiliki beberapa syarat yang harus terpenuhi, yaitu:
Pertama, ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Seseorang harus ikhlas dalam berdoa,
menghadapkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati yang hadir dan benar-benar bersandar kepada-Nya,
meyakini bahwa Allah ‘Azza wa Jalla Maha Kuasa mengabulkan doa,
dan berharap agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkannya.
Syarat kedua, ketika berdoa seseorang harus merasakan bahwa dirinya sangat berhajat, bahkan benar-benar sangat memerlukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ia meyakini bahwa hanya Allah Ta’ala satu-satunya yang mengabulkan doa orang yang berada dalam kesulitan ketika berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan.
Adapun jika ia berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sementara ia merasa tidak begitu memerlukan Allah Subhanahu wa Ta’ala,
tidak merasa benar-benar sangat memerlukan-Nya, dan ia hanya berdoa karena sekadar kebiasaan saja,
maka doa semacam ini tidak layak untuk dikabulkan.
Doa semacam ini tidak layak untuk dikabulkan.
Syarat ketiga, ia harus menjauhi memakan yang haram.
Sebab, memakan yang haram menjadi penghalang antara seseorang dan pengabulan doanya.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik.
Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman, sebagaimana Dia memerintahkan para rasul.
Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah jika hanya kepada-Nya kalian menyembah.’
Dan Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh.’”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang yang menempuh perjalanan panjang.
Orang itu menadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Ya Rabb, ya Rabb,” sementara makanannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi asupan dari yang haram.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lantas, bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR. Muslim).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang kecil kemungkinan doa orang ini dikabulkan, padahal ia telah melakukan sebab-sebab lahiriah yang dapat mendatangkan pengabulan doa.
Di antaranya, mengangkat kedua tangan ke langit, yakni kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena Allah Ta’ala berada di atas langit, di atas ‘Arsy.
Menadahkan kedua tangan kepada Allah ‘Azza wa Jalla termasuk salah satu sebab dikabulkannya doa.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan Ahmad dalam Al-Musnad,
“Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya apabila hamba itu mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong.”
Kedua, orang ini berdoa kepada Allah Ta’ala dengan nama “Ar-Rabb”: “Ya Rabb, ya Rabb.”
Bertawasul kepada Allah Ta’ala dengan nama Allah ini termasuk salah satu sebab dikabulkannya doa.
Sebab, Ar-Rabb adalah Yang Maha Menciptakan, Maha Memiliki, dan Maha Mengatur segala urusan. Di Tangan-Nya kunci-kunci langit dan bumi.
Karena itulah, engkau mendapati kebanyakan doa yang disebutkan dalam Al-Qur’an menggunakan nama ini:
“Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar seorang penyeru yang menyeru kepada iman, ‘Berimanlah kalian kepada Rabb kalian,’ maka kami pun beriman.
Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti.
Ya Rabb kami, berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu.
Janganlah Engkau hinakan kami pada hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyelisihi janji.”
“Maka Rabb mereka memperkenankan doa mereka, ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kalian, baik laki-laki maupun perempuan. Sebagian kalian berasal dari sebagian yang lain.’” (QS. Ali ‘Imran: 193–195). Hingga akhir ayat…
Jadi, bertawasul kepada Allah Ta’ala dengan nama “Ar-Rabb” termasuk salah satu sebab dikabulkannya doa.
Ketiga, orang ini sedang dalam perjalanan. Safar pada umumnya termasuk salah satu sebab dikabulkannya doa.
Sebab, ketika dalam perjalanan, seseorang lebih merasakan memerlukan Allah ‘Azza wa Jalla,
dan sangat bergantung kepada-Nya, dibandingkan ketika ia berada di tengah keluarganya.
Laki-laki di hadis itu juga dalam keadaan “kusut dan berdebu”, seakan-akan tidak lagi memedulikan dirinya.
Yang paling penting baginya adalah berlindung kepada Allah dan berdoa kepada-Nya dalam keadaan apa pun,
baik ketika kusut dan berdebu maupun ketika hidup dalam kemewahan.
Kondisi kusut dan berdebu memiliki pengaruh terhadap pengabulan doa.
Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Nabi ‘alaihis shalatu was salam,
“Sesungguhnya Allah Ta’ala turun ke langit dunia pada sore hari Arafah.
Dia membanggakan orang-orang yang wukuf di sana kepada para malaikat seraya berfirman,
‘Mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut, berdebu, terkena terik matahari, dari setiap jalan yang jauh.’”
Keempat sebab dikabulkannya doa ini tidaklah memberi manfaat, karena makanannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi asupan dari yang haram.
Karena itu, Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda, “Lantas, bagaimana mungkin doanya dikabulkan?”
Jika syarat-syarat dikabulkannya doa ini tidak terpenuhi, maka pengabulan doa menjadi jauh kemungkinannya.
Jika syarat-syarat itu telah terpenuhi, tetapi Allah Ta’ala belum mengabulkan doa orang tersebut, maka hal itu karena suatu hikmah yang diketahui Allah ‘Azza wa Jalla,
sementara orang yang berdoa itu tidak mengetahuinya.
“Boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal hal itu buruk bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Apabila syarat-syarat itu telah terpenuhi tetapi Allah ‘Azza wa Jalla belum mengabulkan doanya,
boleh jadi Allah menghindarkan darinya keburukan yang lebih besar,
atau Allah menyimpannya untuknya pada hari kiamat, lalu memberikan kepadanya pahala yang lebih banyak lagi.
Sebab, orang yang telah berdoa dengan memenuhi syarat-syarat tersebut, tetapi doanya belum dikabulkan, dan tidak pula dihindarkan darinya keburukan yang lebih besar,
berarti ia telah melakukan sebab-sebabnya, sementara jawaban atas doanya ditahan karena suatu hikmah.
Maka ia memperoleh pahala dua kali: pahala atas doanya dan pahala atas musibah yang dialaminya karena doanya belum dikabulkan.
Dengan demikian, Allah ‘Azza wa Jalla menyimpan untuknya sesuatu yang lebih besar dan lebih sempurna.
Hal penting lainnya adalah jangan sampai seseorang merasa bahwa doanya terlalu lama dikabulkan.
Sebab, hal itu juga termasuk salah satu penyebab terhalangnya pengabulan doa.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Nabi ‘alaihis shalatu was salam, “Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa.”
Para sahabat bertanya, “Bagaimana seseorang dikatakan tergesa-gesa, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Ia berkata, ‘Aku telah berdoa, berdoa, dan berdoa, tetapi belum juga dikabulkan.’” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, seseorang tidak semestinya merasa bahwa doanya terlalu lama dikabulkan, lalu merasa putus asa dan berhenti berdoa.
Sebaliknya, hendaklah ia terus bersungguh-sungguh dalam berdoa.
Sebab, setiap doa yang engkau panjatkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah ibadah yang mendekatkanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menambah pahalamu.
Maka, wahai saudaraku, berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala urusanmu, baik yang umum maupun pribadi, yang berat maupun yang ringan.
Sekiranya tidak ada keutamaan doa selain bahwa doa itu merupakan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,
niscaya itu saja sudah cukup membuat seseorang layak bersungguh-sungguh menjaganya.
***
يَقُولُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
فَضِيلَةَ الشَّيْخِ، نَحْنُ نَدْعُو كَثِيرًا وَنَدْعُو اللَّهَ وَلَمْ يَسْتَجِبْ لِدُعَائِنَا، تُرَى مَا الْأَسْبَابُ فِي ذَلِكَ؟
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
وَأَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى لِي وَلِإِخْوَانِيَ الْمُسْلِمِينَ التَّوْفِيقَ لِلصَّوَابِ عَقِيدَةً وَقَوْلًا وَعَمَلًا
اللَّهُمَّ آمِين
يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
وَيَقُولُ السَّائِلُ إِنَّهُ دَعَا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَمْ يَسْتَجِبِ اللَّهُ لَهُ
فَيَسْتَشْكِلُ هَذَا الْوَاقِعَ مَعَ هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ
الَّتِي وَعَدَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهَا مَنْ دَعَاهُ بِأَنْ يَسْتَجِيبَ لَهُ، وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
وَالْجَوَابُ عَلَى ذَلِكَ: أَنَّ لِلْإِجَابَةِ شُرُوطًا لَابُدَّ أَنْ تَتَحَقَّقَ وَهِيَ
الْإِخْلَاصُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَنْ يُخْلِصَ الْإِنْسَانُ فِي دُعَائِهِ
فَيَتَّجِهَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِقَلْبٍ حَاضِرٍ صَادِقٍ فِي الْلُّجُوءِ إِلَيْهِ
مُؤْمِنٍ بِأَنَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَادِرٌ عَلَى إِجَابَةِ الدَّعْوَةِ
مُؤَمِّلٍ الْإِجَابَةَ مِنَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
الشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يَشْعُرَ الْإِنْسَانُ حَالَ دُعَائِهِ بِأَنَّهُ فِي أَمَسِّ الْحَاجَةِ، بَلْ فِي أَمَسِّ الضَّرُورَةِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
وَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَحْدَهُ هُوَ الَّذِي يُجِيبُ دَعْوَةَ الْمُضْطَرِّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
أَمَّا أَنْ يَدْعُوَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ يَشْعُرُ بِأَنَّهُ مُسْتَغْنَى عَنِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى،
وَلَيْسَ فِي ضَرُورَةٍ إِلَيْهِ، وَإِنَّمَا يَسْأَلُ هَكَذَا عَادَةً فَقَطْ
فَإِنَّ هَذَا لَيْسَ بِحَرِيٍّ فِي الْإِجَابَةِ
فَإِنَّ هَذَا لَيْسَ بِحَرِيٍّ بِالْإِجَابَةِ
الشَّرْطُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ مُتَجَنِّبًا لِأَكْلِ الْحَرَامِ
فَإِنَّ أَكْلَ الْحَرَامِ حَائِلٌ بَيْنَ الْإِنْسَانِ وَالْإِجَابَةِ
كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ
فَقَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
وَقَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا
ثُمَّ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ
يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟
فَاسْتَبْعَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُسْتَجَابَ لِهَذَا الرَّجُلِ الَّذِي قَامَ بِالْأَسْبَابِ الظَّاهِرَةِ الَّتِي بِهَا تُسْتَجْلَبُ الْإِجَابَةُ
وَهِيَ: رَفْعُ الْيَدَيْنِ إِلَى السَّمَاءِ، أَيْ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّهُ تَعَالَى فِي السَّمَاءِ فَوْقَ الْعَرْشِ
مَدُّ الْيَدِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَسْبَابِ الْإِجَابَةِ
كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الَّذِي رَوَاهُ أَحْمَدُ فِي الْمُسْنَدِ
إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
ثَانِيًا: هَذَا الرَّجُلُ دَعَا اللَّهَ تَعَالَى بِاسْمِ الرَّبِّ يَا رَبِّ، يَا رَبِّ
وَالتَّوَسُّلُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِهَذَا الِاسْمِ مِنْ أَسْبَابِ الْإِجَابَةِ
لِأَنَّ الرَّبَّ هُوَ الْخَالِقُ الْمَالِكُ الْمُدَبِّرُ لِجَمِيعِ الْأُمُورِ، فَبِيَدِهِ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
وَلِهَذَا تَجِدُ أَكْثَرَ الدُّعَاءِ الْوَارِدِ فِي الْقُرْآنِ بِهَذَا الِاسْمِ
رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا
رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ
رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ
وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ
فَالتَّوَسُّلُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِهَذَا الِاسْمِ مِنْ أَسْبَابِ الْإِجَابَةِ
ثَالِثًا: هَذَا الرَّجُلُ كَانَ مُسَافِرًا وَالسَّفَرُ غَالِبًا مِنْ أَسْبَابِ الْإِجَابَةِ
لِأَنَّ الْإِنْسَانَ فِي السَّفَرِ يَشْعُرُ بِالْحَاجَةِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
وَالضَّرُورَةِ إِلَيْهِ أَكْثَرَ مِمَّا إِذَا كَانَ مُقِيمًا فِي أَهْلِهِ
وَأَشْعَثَ أَغْبَرَ، كَأَنَّهُ غَيْرُ مَعْنِيٍّ بِنَفْسِهِ
كَانَ أَهَمُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ أَنْ يَلْتَجِئَ إِلَى اللَّهِ وَيَدْعُوَهُ عَلَى أَيِّ حَالٍ كَانَ هُوَ
سَوَاءً كَانَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ أَمْ مُتْرَفًا
وَالشَّعَثُ وَالْغَبَرُ لَهُ أَثَرٌ فِي الْإِجَابَةِ
كَمَا فِي الْحَدِيثِ الَّذِي رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا عَشِيَّةَ عَرَفَةَ
يُبَاهِي الْمَلَائِكَةَ بِالْوَاقِفِينَ فِيهَا، يَقُولُ:
أَتَوْنِي شُعْثًا غُبْرًا ضَاحِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
هَذِهِ الْأَسْبَابُ الْأَرْبَعَةُ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ لَمْ تُجْدِ شَيْئًا لِكَوْنِ مَطْعَمِهِ حَرَامًا، وَمَلْبَسِهِ حَرَامًا، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ
قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟
هَذِهِ الشُّرُوطُ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ إِذَا لَمْ تَتَوَفَّرْ فَإِنَّ الْإِجَابَةَ تَبْدُو بَعِيدَةً
فَإِذَا تَوَفَّرَتْ وَلَمْ يَسْتَجِبِ اللَّهُ تَعَالَى لِدَّاعِي فَإِنَّمَا ذَلِكَ لِحِكْمَةٍ يَعْلَمُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
وَلَا يَعْلَمُهَا هَذَا الدَّاعِي
وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ
وَإِذَا تَمَّتْ هَذِهِ الشُّرُوطُ وَلَمْ يَسْتَجِبِ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
فَإِنَّهُ إِمَّا أَنْ يَرْفَعَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مَا هُوَ أَعْظَمُ
وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُوَفِّيهِ الْأَجْرَ أَكْثَرَ وَأَكْثَرَ
لِأَنَّ هَذَا الدَّاعِيَ الَّذِي دَعَا بِتَوَفُّرِ الشُّرُوطِ وَلَمْ يُسْتَجَبْ لَهُ، وَلَمْ يُصْرَفْ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مَا هُوَ أَعْظَمُ
يَكُونُ قَدْ فَعَلَ الْأَسْبَابَ وَمُنِعَ الْجَوَابَ لِحِكْمَةٍ
فَيُعْطَى الْأَجْرَ مَرَّتَيْنِ: مَرَّةً عَلَى دُعَائِهِ، وَمَرَّةً عَلَى مُصِيبَتِهِ بِعَدَمِ الْإِجَابَةِ
فَيُدَّخَرُ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا هُوَ أَعْظَمُ وَأَكْمَلُ
ثُمَّ إِنَّ مِنَ الْمُهِمِّ أَيْضًا: أَلَّا يَسْتَبْطِئَ الْإِنْسَانُ الْإِجَابَةَ
فَإِنَّ هَذَا مِنْ أَسْبَابِ مَنْعِ الْإِجَابَةِ أَيْضًا
كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ
قَالُوا: كَيْفَ يَعْجَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟
قَالَ: يَقُولُ: دَعَوْتُ وَدَعَوْتُ وَدَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
فَلَا يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَسْتَبْطِئَ الْإِجَابَةَ، فَيَسْتَحْسِرَ عَنِ الدُّعَاءِ وَيَدَعَ الدُّعَاءَ
بَلْ يُلِحُّ فِي الدُّعَاءِ
فَإِنَّ كُلَّ دَعْوَةٍ تَدْعُو بِهَا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّهَا عِبَادَةٌ، تُقَرِّبُكَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَتَزِيدُكَ أَجْرًا
فَعَلَيْكَ يَا أَخِي بِدُعَاءِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فِي كُلِّ أُمُورِكَ الْعَامَّةِ وَالْخَاصَّةِ، الشَّدِيدَةِ وَالْيَسِيرَةِ
لَوْ لَمْ يَكُنْ مِنَ الدُّعَاءِ إِلَّا أَنَّهُ عِبَادَةٌ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
لَكَانَ جَدِيرًا بِالْمَرْءِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهِ
*
MASIH CARI ARTIKEL ISLAM DI GOOGLE?
Yuk, cari di Yufid.com (Islamic Search Engine) saja. Insya Allah LEBIH menenangkan hati!
INFO LENGKAP TENTANG PRODUKTIVITAS TIM YUFID:
Laporan Produksi:
https://yufid.org/category/laporan-produksi-yufid/
Profil Yufid:
https://yufid.org/profil-yufid-network/
Donasi Dakwah untuk Operasional Yufid:
https://yufid.org/donasi-untuk-yufid/
DONASI UNTUK VIDEO DAKWAH DAPAT DISALURKAN KE:
BANK SYARIAH INDONESIA
7086882242
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
Kode BSI: 451
Paypal: [email protected]
NB:
Rekening di atas adalah rekening khusus donasi Yufid Network, jadi Anda tidak perlu konfirmasi setelah mengirimkan donasi. Cukup tuliskan keterangan donasi pada saat Anda transfer.
3 CHANNEL YUFID DI YOUTUBE:
Yufid TV: Youtube.com/Yufid
Yufid Kids: Youtube.com/YufidKids
Yufid Edu: Youtube.com/YufidEdu
YUK, FOLLOW SOSIAL MEDIA YUFID.TV LAINNYA UNTUK MENDAPATKAN UPDATE VIDEO TERBARU!
Fabebook: https://web.facebook.com/Yufid.TV/
Instagram: https://www.instagram.com/yufid.tv/
Telegram: https://telegram.me/yufidtv
AUDIO KAJIAN
Website: https://kajian.net
Soundcloud: https://soundcloud.com/kajiannet
YUK, DUKUNG YUFID.TV!
Yuk, dukung dengan belanja di Yufid Store: https://yufidstore.com/
(Seluruh keuntungan YufidStore.com digunakan untuk operasional dakwah Yufid)














