Pertanyaan Penting Raja Salman Kepada Syaikh bin Baz Tentang Puasa – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr
Aktivitas puasa menghiasi hari-hari seorang muslim di bulan suci Ramadhan. Ibadah puasa ini hukumnya wajib bagi setiap muslim yang telah menginjak masa baligh dan memiliki akal yang sehat. Namun bagi seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk mengerjakannya dan tidak pula memungkinkan untuk mengqadha, maka ia diharuskan membayar fidyah.
Di sini saya akan mengutip kutipan yang sangat penting…
dari fatwa asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu Ta’ala,..
tentang pertanyaan yang ditujukan kepada beliau mengenai tafsir ayat ini.
mengenai tafsir ayat ini.
Dan orang yang mengajukan pertanyaan ini…
kepada asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah…
yakni yang bertanya tentang tafsir ayat ini…
adalah raja Salman hafizhahullahu wa sallamahu (ketika itu beliau belum menjadi Raja).
Beliau bertemu dengan asy-Syaikh Ibnu Baz…
dan meminta kepada beliau secara lisan dengan berkata…
Aku ingin…
agar engkau menjelaskan kepadaku tafsir ayat ini…
dan engkau jelaskan maknanya…
dan dengan jawaban yang tertulis.
Beliau menginginkan dari asy-Syaikh agar jawaban beliau disampaikan secara tertulis.
Maka asy-Syaikh rahimahullahu Ta’ala menjawabnya dan menjelaskan tentang…
makna ayat ini.
asy-Syaikh Ibnu Baz berkata sebagaimana disebutkan dalam Majmu’ al-Fatawa…
Dari Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz…
kepada yang terhormat dan yang mulia, pemimpin (pangeran) al-mukarram,..
Salman bin Abdul ‘Aziz, pemimpin (gubernur) wilayah Riyadh…
semoga Allah memberi beliau taufik dan menambah ilmu dan imannya, amin.
Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Amma ba’du:
Aku sampaikan dari pertanyaan Anda secara lisan…
tentang tafsir firman Allah Ta’ala, “Dan atas orang-orang yang berat menjalankan puasa, wajib membayar fidyah berupa memberi makan orang miskin…
maka barangsiapa yang rela berbuat baik, maka itu lebih baik baginya…
dan jika kalian berpuasa maka itu lebih baik bagi kalian andai kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184)
Dan yang mulia (Amir Salman) menghendaki agar jawabannya tertulis.
Saya sampaikan kepada Anda bahwa para ulama tafsir rahimahumullah…
menyebutkan bahwa Allah Subhanahu…
pada awal ketika mensyariatkan puasa di bulan Ramadhan,..
Allah mensyariatkannya dengan pilihan…
antara tidak berpuasa tapi harus memberi makan orang miskin, atau berpuasa.
Namun berpuasa lebih utama.
Jadi orang yang tidak berpuasa meskipun mampu untuk berpuasa…
maka dia wajib memberi makan orang miskin,…
dan jika dia memberi makan orang miskin lebih banyak, maka itu lebih baik baginya.
Dan dia tidak diwajibkan untuk mengqadha’ puasa.
Namun jika dia berpuasa maka itu lebih utama baginya,
berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Dan jika kalian berpuasa…
maka itu lebih baik bagi kalian andai kalian mengetahui.”
Adapun orang yang sakit dan orang yang safar…
maka mereka berdua boleh tidak berpuasa, namun harus mengqadha’ puasanya,
berdasarkan firman Allah, “Barangsiapa dari kalian yang sakit atau sedang safar, maka wajib mengganti puasanya di hari yang lain.”
Kemudian Allah menasakh (MENGHAPUS) aturan hukum tersebut…
(PUASA WAJIB BAGI MUKALLAF)
dengan MEWAJIBKAN puasa bagi setiap mukallaf (muslim yang baligh dan berakal) yang sehat dan bermukim (tidak melakukan safar)
(ORANG SAKIT DAN MUSAFIR)
dan tetap memberi keringanan bagi orang sakit dan musafir untuk tidak berpuasa,
namun dia wajib mengqadha’ puasanya.
Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu:
“Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia,..
penjelasan bagi petunjuk, dan pembeda antara hak dan batil…
Maka siapa yang memasuki bulan ini hendaklah dia berpuasa…
Dan barangsiapa yang sakit atau sedang melakukan safar…
maka hendaklah dia mengganti puasanya pada hari yang lain…
Allah menghendaki kemudahan bagi kalian…
dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian. Dan hendaklah kalian melengkapi bilangannya…
dan hendaklah kalian mengagungkan Allah berdasarkan petunjuk-Nya…
dan supaya kalian bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 185)”
(ORANG LANJUT USIA YANG TIDAK MAMPU BERPUASA)
Dan hukum memberi makan (fidyah) tetap ada…
bagi lelaki yang lanjut usia dan dia lemah, tidak mampu lagi berpuasa,
dan wanita yang lanjut usia dan tidak mampu lagi berpuasa.
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma…
dan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu serta sekelompok sahabat dan para salaf radhiyallahu ‘anhum.
Dan al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari Salamah bin al-Akwa’.
Disebutkan dalam hadits ini yang diriwayatkan dari Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu makna…
dari nasakh (penghapusan hukum) yang telah kita sebutkan dari ayat tersebut.
Yaitu firman Allah Ta’ala, “Dan atas orang-orang yang berat untuk menjalankan puasa, wajib membayar fidyah berupa memberi makan orang miskin…dst.”
Dan diriwayatkan pula dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu…
dan sekelompok salaf rahimahumullah.
(PUASA UNTUK ORANG SAKIT YANG SULIT SEMBUH)
Sebagaimana berlaku untuk lelaki dan wanita yang lanjut usia, demikian pula hukumnya untuk lelaki yang sakit…
yang tidak memiliki harapan sembuh, juga wanita sakit yang tidak memiliki harapan sembuh.
Orang sakit yang tidak ada harapan sembuh ini wajib memberi makan satu orang miskin setiap satu hari puasa yang dia tinggalkan,
dan dia tidak wajib mengqadha’ puasanya, seperti lelaki dan wanita yang telah lanjut usia.
Mereka boleh memberi makan orang miskin di awal bulan Ramadhan,…
di pertengahan bulan, atau di akhir bulan.
(PUASA BAGI WANITA HAMIL & MENYUSUI)
Adapun hukum bagi wanita hamil…
dan wanita menyusui, maka mereka tetap wajib puasa…
kecuali jika berat bagi mereka untuk berpuasa, maka boleh bagi mereka tidak berpuasa…
Boleh bagi mereka tidak berpuasa, tapi harus mengqadha’ puasanya, seperti halnya orang sakit dan musafir.
Demikianlah pendapat yang benar dari dua pendapat para ulama tentang wanita hamil dan menyusui.
Dan sekelompok salaf berpendapat bahwa wanita hamil dan menyusui cukup membayar fidyah tanpa mengqadha’ puasa,
sebagaimana lelaki dan wanita yang lanjut usia.
Namun pendapat yang benar, wanita hamil dan menyusui seperti orang sakit dan musafir,
boleh tidak berpuasa namun harus mengqadha’ puasanya.
Dan telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam…
dari hadits Anas bin Malik al-Ka’biy yang menunjukkan…
bahwa wanita hamil dan menyusui hukumnya seperti orang sakit dan musafir.
Dan saya berharap kepada Allah ‘Azza wa Jalla…
agar mengaruniakan kepada kami dan kalian pemahaman dalam agama-Nya…
dan keteguhan di atasnya.
Dan menjadikan kami, kalian, dan seluruh saudara kita sebagai pemberi petunjuk dan yang mendapatkan petunjuk.
Sungguh Dia Maha Mendengar dan Maha Dekat.
Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu.
Ketua Umum Departemen Penelitian Agama, Fatwa, Dakwah, dan Penyuluhan
Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz.
Semoga Allah merahmati asy-Syaikh dan membalasnya dengan kebaikan…
dan semoga Allah menjaga raja Salman dan melanggengkan taufik baginya,
serta semoga Allah memberi taufik bagi kita semua menuju apa yang Dia cintai dan ridhai…
yaitu menuju ucapan yang benar dan amal yang shalih.
Sungguh Dia Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan.
Kita tutup dengan fatwa ini.
Maha Suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.
Ya Allah, curahkan shalawat dan salam kepada hamba dan rasul-Mu, Nabi kami, Muhammad…
dan kepada keluarga serta sahabat beliau seluruhnya.
Jazakumullahu khairan wa ahsana ilaikum.
***
أَنْقُلُ هُنَا نَقْلاً مُفِيْدًا جِدًّا
مِنْ فَتَاوَى الشَّيْخِ ابْنِ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى
فِي سُؤَالٍ وُجِّهَ إِلَيْهِ عَنْ تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ
عَنْ تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ
وَالَّذِي وَجَّهَ هَذَا السُّؤَالَ
لِلشَّيْخِ ابْنِ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ
يَسْأَلُهُ عَنْ تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ
هُوَ الْمَلِكُ سَلْمَانُ حَفِظَهُ اللهُ وَسَلَّمَهُ
لَقِيَ الشَّيْخَ ابْنَ بَازٍ
وَطَلَبَ مِنْهُ مُشَافَهَةً قَالَ لَهُ
أَرْغَبُ
فِي أَنْ تُفَسِّرَ لِي هَذِهِ الْآيَةَ
وَتُبَيِّنَ مَعْنَاهَا
وَيَكُونَ الْجَوَابُ مَكْتُوْبًا
رَغِبَ مِنَ الشَّيْخِ أَنْ يَكُونَ الْجَوَابُ مَكْتُوْبًا
فَأَجَابَ وَفَصَّلَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي
فِي مَعْنَى هَذِهِ الْآيَةِ
يَقُولُ الشَّيْخُ ابْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ كَمَا فِي مَجْمُوعِ الفَتَاوَى
مِنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ بَازٍ
إِلَى حَضْرَةِ صَاحِبِ السُّمُوِّ الْمَلَكِيِّ الْأَمِيْرِ الْمُكَرَّمِ
سَلْمَانَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ أَمِيْرِ مَنْطِقَةِ الرِّيَاضِ
وَفَّقَهُ اللهُ وَزَادَهُ مِنَ الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ آمِيْن
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ أَمَّا بَعْدُ
فَأُشِيْرُ إِلَى سُؤَالِكُمُ الشَّفَهِيِّ
عَنْ تَفْسِيرِ قَوْلِهِ تَعَالَى وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ
وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
وَرَغْبَةَ سُمُوِّكُمْ فِي أَنْ يَكُونَ الْجَوَابُ خَطِّيًّا
وَأُفِيْدُكُمْ أَنَّ عُلَمَاءَ التَّفْسِيرِ رَحِمَهُمُ اللهُ
ذَكَرُوا أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ
لَمَّا شَرَعَ صِيَامَ شَهْرِ رَمَضَانَ
شَرَعَهُ مُخَيَّرًا
بَيْنَ الْفِطْرِ وَالْإِطْعَامِ وَبَيْنَ الصَّوْمِ
وَالصَّوْمُ أَفْضَلُ
فَمَنْ أَفْطَرَ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى الصِّيَامِ
فَعَلَيْهِ إِطْعَامُ مِسْكِيْنٍ
وَإِنْ أَطْعَمَ أَكْثَرَ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ
وَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ
وَإِنْ صَامَ فَهُوَ أَفْضَلُ
لِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ تَصُومُوا
خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
فَأَمَّا الْمَرِيضُ وَالْمُسَافِرُ
فَلَهُمَا أَنْ يُفْطِرَا وَيَقْضِيَا
لِقَوْلِه فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
ثُمَّ نَسَخَ اللهُ ذَلِكَ
وَأَوْجَبَ الصِّيَامَ عَلَى الْمُكَلَّفِ الصَّحِيْحِ الْمُقِيْمِ
وَرَخَّصَ لِلْمَرِيضِ وَالْمُسَافِرِ فِي الْإِفْطَارِ
وَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ
وَذَلِكَ بِقَوْلِهِ سُبْحَانَهُ
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ
وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ
فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامِ أُخَرَ
يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ
وَلَا يُرِيدُ بِكُمْ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ
وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ
وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
وَبَقِيَ الْإِطْعَامُ
فِي حَقِّ الشَّيْخِ الْكَبِيرِ الْعَاجِزِ
وَالْعَجُوزِ الْكَبِيرَةِ الْعَاجِزَةِ عَنِ الصَّوْمِ
كَمَا ثَبَتَ ذَلِكَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَجَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالسَّلَفِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
وَقَدْ رَوَى الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ
حَدِيثَنَا هَذَا عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَعْنَى
مَا ذَكَرْنَا مِنَ النَّسْخِ لِلْآيَةِ الْمَذْكُورَةِ
وَهِيَ قَوْلُهُ تَعَالَى وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ الْآيَةَ
وَرُوِيَ ذَلِكَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
وَجَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ رَحِمَهُمُ اللهُ
وَمِثْلُ الشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْعَجُوزِ الْكَبِيرَةِ الْمَرِيضُ
الَّذِي لَا يُرْجَى بُرْؤُهُ وَالْمَرِيضَةُ الَّتِي لَا يُرْجَى بُرْؤُهَا
فَإِنَّهُمَا يُطْعِمَانِ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا
وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِمَا كَالشَّيْخ الْكَبِيرِ وَالْعَجُوزِ الْكَبِيرَةِ
وَيَجُوزُ إِخْرَاجُ الْإِطْعَامِ فِي أَوَّلِ الشَّهْرِ
وَفِي وَسَطِهِ وَفِي آخِرِهِ
أَمَّا الْحَامِلُ
وَالْمُرْضِعُ فَيَلْزَمُهُمَا الصِّيَامُ
إِلَّا أَنْ يَشُقَّ عَلَيْهِمَا فَإِنَّهُ يُشْرَعُ لَهُمَا الْإِفْطَارُ
فَإِنَّهُ يُشْرَعُ لَهُمَا الْإِفْطَارُ وَعَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ كَالْمَرِيضِ وَالْمُسَافِرِ
هَذَا هُوَ الصَّحِيحُ مِنْ قَوْلَيْ الْعُلَمَاءِ فِي حَقِّهِمَا
وَقَالَ جَمَاعَةٌ مِنَ السَّلَفِ يُطْعِمَانِ وَلَا يَقْضِيَانِ
كَالشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْعَجُوزِ الْكَبِيرَةِ
وَالصَّحِيحُ أَنَّهُمَا كَالْمَرِيضِ وَالْمُسَافِرِ
تُفْطِرَانِ وَتَقْضِيَانِ
وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مِنْ حَدِيثِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ الْكَعْبِيِّ مَا يَدُلُّ
عَلَى أَنَّهُمَا كَالْمَرِيضِ وَالْمُسَافِرِ
وَأَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ
أَنْ يَمْنَحَنَا وَإِيَّاكُمْ الْفِقْهَ فِي دِينِهِ
وَالثَّبَاتَ عَلَيْهِ
وَأَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ وَسَائِرَ إِخْوَانِنَا مِنَ الْهُدَاةِ الْمُهْتَدِيْنَ
إِنَّهُ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الرَّئِيسُ الْعَامُّ لِإِدَارَاتِ البُحُوثِ العِلْمِيَّةِ وَالْإِفْتَاءِ وَالدَّعْوَةِ وَالْإِرْشَادِ
عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ بَازٍ
رَحِمَ اللهُ الشَّيْخَ وَجَزَاهُ خَيْرًا
وَحَفِظَ اللهُ الْمَلِكَ سَلْمَانَ وَأَدَامَ تَوْفِيقَهُ
وَوَفَّقَنَا أَجْمَعِينَ لِمَا يُحِبُّهُ وَيَرْضَاهُ
مِنْ سَدِيدِ الْأَقْوَالِ وَصَالِحِ الْأَعْمَالِ
إِنَّهُ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ
بِهَذِه الْفَتْوَى نَخْتِمُ
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا وَأَحْسَنَ إِلَيْكُمْ














