Allah subhanahu wata’alaa memiliki asmaul husna atau nama-nama yang indah. Nama Allah al-Mannan adalah salah satu dari asmaul husna. Sebagai seorang muslim, kita harus mengimani nama Allah al-Mannan. Karena mengimani nama-nama Allah termasuk perwujudan dari iman kepada Allah. Berikut ini adalah beberapa manfaat dari mengimani nama Allah al-Mannan.
- Semakin mencintai Allah.
Semakin cinta Allah dan memuji serta menyanjungNya atas karunia-karunia Allah yang Agung yang tidak bisa dihitung dan karunia yang terbesar itu adalah hidayah untuk beriman.
Kita bisa menyadari betapa banyak karunia Allah untuk kita.
Ada seseorang yang tekun beribadah kepada Allah selama berpuluh-puluh tahun. Setelah sekian lama beribadah, suatu hari dia terkilir dan merasa sangat sakit. Ketika tidak mampu menahan sakit dia berkata mengeluh kepada Allah bahwa dia telah beribadah sekian tahun dna mengapa diberi ujian seberat ini. Datang jawaban bahwa ibadah selama puluhan tahun itu belum cukup untuk mensyukuri nikmat satu sendi yang Allah berikan.
Dan Karunia terbesar adalah mendapat hidayah islam, bukan hanya hidayah islam tapi juga hidayah sunnah Rasullallah.
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua raka’at fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725)
Allah memberi kit ahidayah untuk melaksanakan sholat sunnah qobliyah subuh, yang ini lebih mahal dari dunia dan seisinya. Bagaimana lagi dengan sholat-sholat wajib yang kita kerjakan.
Dan hidayah-hidayah kepada sunnah lainnya yang sangat banyak.
- Mengakui kelemahan diri dihadapan Allah.
Perasaan ini harus ditumbuhkan dalam hati. Karena semua yang kita miliki adalah karunia dari Allah. Kita tidak sedikitpun memiliki apa-apa. Apa yang kiti miliki bukan karena kehebatan dan kemampuan kita. Apalagi karunia hidayah yang banyak diantara kita sama sekali tidak berusaha untuk mendapat hidayah, tapi Allah takdirkan kita lahir dari orang tua yang beragama islam.
Kita dianjurkan membaca dzikir pagi dan petang.
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا
“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu).”
- Tidak mengandalkan sebab (usaha)
Ketika sakit ingin sembuh maka berusaha untuk berobat agar sembuh. Usaha / sebab ini harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Namun kita tidak boleh mengandalkan usaha, bahwa jika sudah berobat pasti sembuh. Yang menentukan kesembuhan adalah Allah.
Ketika kita melakukan usaha jangan menggantungkan diri kepada usaha yang kita lakukan. Yang menentukan hasil dari usaha yang kita lakukan adalah Allah. Namun kita diwajibkan untuk berusaha dengan semaksimal kemampuan.
- Tidak mengungkit-ungkit kebaikan
Karena yang mengarunikan kebaikan yang kita lakukan adalah Allah. Jika kita bersedekah, maka tidak sepatutnya kita mengungkit-ungkit sedekah ini. Karena sejatinya yang memberikan kebaikan sehingga kita mampu bersedekah adalah Allah. Allahlah yang memberikan kita rizki untuk bersedekah, yang menggerakkan hati kita untuk bersedekah adalah Allah Al-Mannan. Kita hanya menjadi sarana saja untuk melakukan kebaikan.
Al Baqoroh 264.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
Kaidah dari ulama, ketika berbuat baik kepada orang lain, lupakan. Jika orang lain berbuat baik kepada kita jangan lupakan.
Jika kita bisa menjalankan kaidah ini maka kita akan mudah untuk ikhlas dalam berbuat kebaikan.














