Siapa sih yang tidak pernah marah? Setiap kita mungkin pernah marah? Biasanya luapan emosi muncul akibat mendapatkan gangguan dari orang lain. Meskipun memiliki amarah adalah hal yang wajar akan tetapi akan lebih baik jika kita meredamnya. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita agar tidak marah-marah.
Saudara-saudara, marah adalah bara api di dalam hati,
yang disulut oleh setan, dan ia juga menambah nyala dan kobarannya,
agar bara api itu membakar hati dan merusak amalan,
bahkan bisa jadi dapat menghilangkan nyawa.
Kesempatan ini bukanlah untuk bercerita.
Namun, untuk menyampaikan kabar dari Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Saudara-saudara, para ulama telah menyebutkan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketika ada seorang sahabat yang meminta wasiat beliau, maka beliau bersabda, “Jangan marah!”
Jangan marah!
Wasiat ini bukanlah larangan terhadap kemarahan yang ada dalam hati.
Karena yang ada dalam hati pasti menghinggapi setiap orang.
Karena orang yang tidak dipancing kemarahannya, tetapi ia malah marah, maka terdapat kekurangan pada akal dan kehormatan dirinya.
Namun, yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pengaruh rasa marah,
yaitu dengan menahan anggota badannya, maka ia tidak berbuat zalim dengan lisannya,
dan tidak melukai dengan jari jemarinya,
serta tidak mendengki dengan hatinya, sehingga ia memendam kebencian.
Namun, ia mendoakan yang baik,
dan memaafkan orang yang menzaliminya atas apa yang ia rasakan dalam hatinya.
Dan ini tidaklah menghalangi seseorang untuk meminta qisas, karena itu tidak bertentangan dengan kemarahan.
Kemarahan yang ada dalam hati sudah menjadi ketetapan Allah ‘Azza wa Jalla, dan berada di luar kendali seorang hamba.
Maksud dari pembahasan ini—kita kembali pada pembahasan—
Diriwayatkan dalam hadis bahwa Iblis mendirikan singgasananya.
Iblis mendirikan singgasananya, kemudian para prajuritnya mendatanginya.
Kemudian Iblis bertanya kepada setiap pasukannya, “Apa yang sudah kamu lakukan?”
Prajurit pertama menjawab, “Aku terus menggoda si Fulan hingga ia berzina.” Iblis berkata, “Kamu tidak melakukan apa pun, ia besok pasti bertaubat.”
Lalu Iblis bertanya kepada prajurit kedua, “Apa yang sudah kamu lakukan?” Ia menjawab, “Aku terus menggoda si Fulan hingga ia mencuri.”
Iblis berkata, “Kamu tidak melakukan apa pun, ia besok pasti bertaubat.”
Prajurit ketiga datang, lalu ditanya Iblis, “Apa yang sudah kamu lakukan?” Ia menjawab, “Aku terus menggoda si Fulan hingga ia menceraikan istrinya.”
Maka Iblis berkata, “Bagus, bagus!” Lalu Iblis mendudukkannya di sisinya.
Hal ini karena Iblis tahu bahwa kemarahan adalah yang menyebabkan perceraian itu,
dan ia tahu bahwa perceraian seorang suami dengan istrinya
adalah salah satu sebab terbesar yang merusak hati seorang suami,
dan merusak hati sang istri,
lalu setelah itu akan merusak akhlak anak-anaknya,
sehingga merusak seluruh masyarakat. Dan ini dapat kita bahas di kesempatan lain.
Jadi, maksud dari hal ini, wahai Saudara-saudara,
bahwa seseorang saat berpuasa hendaklah mendidik dirinya,
untuk mengendalikan kemarahan dan melatih kesabaran,
dengan begitu godaan dari setan akan melemah.
Dan ini merupakan salah satu makna dari hadis, bahwa setan-setan dibelenggu pada bulan Ramadan,
karena setan tidak menemukan bara api yang dapat ia sulut,
dan tidak mendapatkan sebab yang bisa ia jadikan sebagai pintu untuk menjalankan godaannya,
dan tidak ada sebab untuk menjerumuskan seseorang ke dalam kebinasaan.
Maka Saudara-saudara, bulan yang agung ini,
dan hari-hari berpuasanya setiap hamba ini,
merupakan sebab untuk seseorang dapat melatih diri, agar dapat bersabar.
Dan barang siapa dapat bersabar,
maka ia telah mendapatkan sifat yang dicintai oleh Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka bulan Ramadan adalah bulan kesabaran,
dan seseorang hendaklah berusaha mendapatkan sifat ini.
Jika ia berhasil mendapatkannya, maka ia akan mendapatkan sifat terpuji lainnya setelah itu.
***
الْغَضَبُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هُوَ جَمْرَةٌ فِي الْقَلْبِ
يُشْعِلُهَا الشَّيْطَانُ وَيَزِيدُهَا ذَكَاءً وَيَزِيدُهَا تَوْرِيَةً
لِكَي تَحْرِقَ الْقَلْبَ وَتُفْسِدَ الْعَمَلَ
بَلْ لَرُبَّمَا وَقَدْ أَذْهَبَتِ النَّفْسَ
وَلَيْسَ الْمَقَامُ مَقَامَ قَصَصٍ
وَإِنَّمَا الْمَقَامُ إِخْبَارٌ عَنِ اللهِ وَعَنْ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَقَدْ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ فِي وَصِيَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
حِينَمَا اسْتَوْصَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ لَا تَغْضَبْ
لَا تَغْضَبْ
هَذِهِ الْوَصِيَّةُ لَيْسَتْ نَهْيًا عَمَّا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ
إِذْ مَا فِي الْقَلْبِ طَارِئٌ عَلَى كُلِّ امْرِئٍ
فَإِنَّ مَنْ لَمْ يُسْتَغْضَبْ فَيَغْضَبُ فَإِنَّهُ نَقْصٌ فِي عَقْلِهِ وَفِي مُرُوءَتِهِ
وَإِنَّمَا الَّذِي نَهَى عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ أَثَرُ الْغَضَبِ
وَهُوَ كَفُّ الْجَوَارِحِ فَلَا يَعْتَدِي بِلِسَانِهِ
وَلَا يَجْرَحُ بِبَنَانِهِ
وَلَا يَحْقِدُ بِقَلْبِهِ فَيَجْمَعُ ضَغِيْنَةً
وَإِنَّمَا يَدْعُو
وَيُبَرِّئُ ظَالِمَهُ وَالْمُعْتَدِي عَلَيْهِ فِيمَا فِي قَلْبِهِ
وَلَا يَمْنَعُ ذَلِكَ مِنَ الْاِقْتِصَاصِ فَإِنَّهُ لَا يُنَافِي الْغَضَبَ
وَمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ فَإِنَّهُ مِنْ وَضْعِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَيْسَ بِإِرَادَةِ الْعَبْدِ
الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ نَرْجِعُ لِكَلَامِنَا
أَنَّ الْغَضَبَ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ شُعْلَةٌ فِي الْقَلْبِ يُحِبُّهَا الشَّيْطَانُ
فَهِيَ نَارٌ وَالشَّيْطَانُ مِنْ نَارٍ خُلِقَ مِنْ نَارٍ
وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَدَاخِلِ الشَّيْطَانِ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْغَضَبُ
مَا طَلَّقَ رَجُلٌ امْرَأَتَهُ إِلَّا وَكَانَ الْغَضَبُ سَبَبًا بَلْ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الطَّلَاقِ
وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَنْصِبُ عَرْشَهُ
يَنْصِبُ عَرْشَهُ فَيَأْتِيْهِ جُنْدُهُ
فَيَقُولُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ جُنْدِهِ مَا فَعَلْتَ؟
فَيَقُولُ الْأَوَّلُ مَا زِلْتُ بِفُلَانٍ حَتَّى زَنَا قَالَ لَمْ تَفْعَلْ شَيْئًا غَدًا يَتُوبُ
ثُمَّ يَأْتِي الثَّانِي مِنْ جُنْدِهِ فَيَقُولُ مَا فَعَلْتَ؟ فَيَقُولُ مَا زِلْتُ بِفُلَانٍ حَتَّى سَرَقَ
قَالَ مَا فَعَلْتَ شَيْئًا غَدًا يَتُوبُ
فَيَأْتِي الثَّالِثُ فَيَقُولُ مَا فَعَلْتَ؟ فَيَقُولُ مَا زِلْتُ بِفُلَانٍ حَتَّى طَلَّقَ زَوْجَتَهُ وَفَارَقَهَا
فَيَقُولُ أَنْتَ أَنْتَ فَيُجْلِسُهُ بِجَانِبِهِ
لِعِلْمِ الشَّيْطَانِ أَنَّ الْغَضَبَ هُوَ سَبَبُ ذَلِكَ
وَأَنَّ فِرَاقَ الْمَرْءِ لِزَوْجِهِ
أَنَّهُ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ الَّتِي تُفْسِدُ عَلَى الْمَرْءِ قَلْبَهُ
وَتُفْسِدُ عَلَى الزَّوْجِ قَلْبَهَا
وَتُفْسِدُ عَلَى الْأَبْنَاءِ بَعْدَ ذَلِكَ أَفْعَالَهُمْ
فَتُؤَثِّرُ فِي الْمُجْتَمَعِ كُلِّهِ وَالْحَدِيثُ لَهُ مَقَامٌ آخَرُ
إِذًا الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ
أَنَّ الْمَرْأَةَ فِي الصِّيَامِ يُؤَدِّبُ نَفْسَهُ
عَلَى تَرْكِ الْغَضَبِ وَاكْتِسَابِ الْحِلْمِ
فَحِينَئِذٍ يَضْعُفُ دَاعِي الشَّيْطَانِ
وَهَذَا مِنَ الْمَعَانِي فِي أَنَّ الشَّيَاطِينَ تُغَلُّ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ
فَإِنَّهَا لَا تَجِدُ النَّارَ الَّتِي تُذْكِيْهَا
وَلَا تَجِدُ السَّبَبَ الَّذِي تَجْعَلُهُ مَدْخَلًا لِأَفْعَالِهَا
وَلَا يَكُونُ سَبَبًا لِإِيْرَادِ الْمَرْءِ الْمَهَالِكَ
إِذًا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هَذَا الشَّهْرُ الْعَظِيْمُ
وَهَذِهِ الْأَيَّامُ الَّتِي يَصُومُهَا الْعَبْدُ
هِيَ سَبَبٌ لِتَرْوِيْضِ الْمَرْءِ لِاكْتِسَابِهِ الْحِلْمَ
وَمَنِ اكْتَسَبَ الْحِلْمَ
فَقَدِ اكْتَسَبَ صِفَةً يُحِبُّهَا اللهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَشَهْرُ رَمَضَانَ هُوَ شَهْرُ الْحِلْمِ
وَالْمَرْءُ يَسْعَى لِاكْتِسَابِ هَذِهِ الصِّفَةِ
فَإِذَا اكْتَسَبَهَا جَاءَ مَا بَعْدَهَا تَبَعٌ لَهَا














