Seorang muslim harus memperhatikan status kehalalan makanan yang ia konsumsi. Sebab kita hanya diperkenankan memakan makanan yang halal. Sedangkan makanan yang haram harus ditinggalkan. Di samping meninggalkan makanan dan minuman yang terlarang, perbuatan-perbuatan dosa pun mestinya tidak dikerjakan.
Salah seorang ulama terdahulu berkata, “Sungguh mengherankan orang yang menghindari beberapa makanan
karena takut keburukan efek sampingnya,
bagaimana kok ia tidak menghindari dosa-dosa karena takut keburukannya?!”
Jika seorang hamba terus berlarut-larut melakukan dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka.
Makanan-makanan yang sangat ia hindari ini,
jika tidak dapat ia hindari, bisa jadi akan menjerumuskannya kepada bahaya duniawi. Bisa jadi ya, dan bisa jadi tidak.
Namun jika seorang hamba tidak menghindari dosa-dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka.
***
فَأَحَدُ الْمُتَقَدِّمِيْنَ يَقُولُ عَجَبًا لِمَنْ يَتَّقِي بَعْضَ الْأَطْعِمَةِ
خَوْفَ مَضَرَّتِهَا
كَيْفَ لَا يَتَّقِي الذُّنُوبَ خَوْفَ مَعَرَّتِهَا
الذُّنُوْبُ إِذَا تَمَادَى فِيهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ
وَهَذِهِ الْأَشْيَاءُ الَّتِي هُوَ حَرِيصٌ عَلَى اتِّقَائِهَا
إِذَا لَمْ يَتَّقِهَا أَفْضَتْ بِهِ إِلَى مَضَرَّةٍ دُنْيَوِيَّةٍ قَدْ تَكُونُ قَدْ لَا تَكُونُ
لَكِنِ الذُّنُوبُ إِذَا مَا أَتْقَاهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ














