Di dalam Islam, hadis-hadis nabi shallallahu ‘alaihi meliliki kedudukan tinggi dan menempati posisi penting. Sebab hadis nabi merupakan sumber hukum Islam bersamaan dengan al-Qur’an. Selain itu, al-Qur’an dan hadis nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga sama-sama berasal dari wahyu Allah subhanahu wata’alaa. Untuk mempelajari Islam secara benar harus berpegang kepada al-Qur’an dan hadis-hadis nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman salafus saleh.
Kemudian beliau menyebutkan sanad hadis-hadis ini
yang diriwayatkan dalam kitab-kitab tersebut.
Hadis-hadis ini riwayatnya berporos
pada Sahih Bukhari, Sahih Muslim,
Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi,
Sunan an-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah,
Musnad Ahmad, Sunan ad-Daruquthni,
dan Sunan Baihaqi al-Kubra.
Hal ini karena sebagian besar hadis yang dibutuhkan
dalam pembahasan-pembahasan agama kembali kepada kitab-kitab ini.
Bahkan Abul Faraj Ibnu Rajab—semoga Allah merahmatinya—mengatakan
dalam risalahnya yang membantah orang yang keluar dari lingkup Empat Mazhab,
bahwa hadis-hadis yang dibutuhkan dalam bab-bab ilmu agama
tidak akan keluar dari Kutubus Sittah (Enam Kitab).
Sungguh perkataannya—semoga Allah merahmatinya—benar,
karena hanya sedikit hadis yang tidak ada dalam Kutubus Sittah.
Sekalipun itu ada,
namun asalnya ada di dalamnya (Kutubus Sittah).
Jadi, hadis-hadis yang diriwayatkan dalam kitab Ahmad, ad-Daruquthni,
atau Baihaqi adalah tambahan dan pelengkap,
di mana asalnya, yang merupakan dasar-dasar masalah agama, terdapat
dalam Kutubus Sittah.
Masalah ini serupa dengan masalah yang menyebutkan
bahwa qiraah yang diterima tidak akan keluar dari Sepuluh Qiraah
atau bahwa hukum-hukum yang terkait dengan amalan perbuatan
tidak akan keluar dari Empat Mazhab.
Ini adalah kaidah ilmu yang sudah dikenal.
Oleh sebab itu, seseorang harus memberikan perhatian
pada Kutubus Sittah sebelum yang lainnya,
dan tidak menyibukkan diri dengan kitab hadis lain, kecuali sebagai sumber sekunder.
Adapun sebaik-baik kitab hadis yang dipelajari setelah Kutubus Sittah
adalah Musnad Imam Ahmad, Sunan ad-Daruquthni,
dan Sunan Baihaqi al-Kubra,
karena sungguh tiga kitab ini
berisi hadis-hadis yang menjelaskan permasalahan
yang asasnya sudah disebutkan dalam Kutubus Sittah,
maka jika kitab ini menyebut suatu asas tersendiri,
maka besar kemungkinan status hadisnya adalah lemah.
Ini adalah kaidah umum
yang mungkin akan ada beberapa pengecualian
yang keluar dari kaidah ini,
akan tetapi masalah yang aneh dan jarang tidak akan merusak kaidah,
sebagaimana hal itu telah dikenal di tengah ulama Ushul Fikih dan fukaha.
***
ثُمَّ ذَكَرَ أَسَانِيْدَ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ
مَرْوِيَّةً مِنَ الْكُتُبِ الْمُسَمَّاةِ
وَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ تَدُورُ رِوَايَتُهَا
عَلَى صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ وَصَحِيحِ مُسْلِمٍ
وَسُنَنِ أَبِي دَاوُودَ وَسُنَنِ التِّرْمِذِيِّ
وَسُنَنِ النَّسَائِيِّ وَسُنَنِ ابْنِ مَاجَه
وَمُسْنَدِ أَحْمَدَ وَسُنَنِ الدَّارَقُطْنِيِّ
وَسُنَنِ الْبَيْهَقِيِّ الْكُبْرَى
لِأَنَّ غَالِبَ الْأَحَادِيثِ الَّتِي يُحْتَاجُ إِلَيْهَا
فِي أَبْوَابِ الدِّينِ تَرْجِعُ إِلَى هَذِهِ الْكُتُبِ
بَلْ ذَكَرَ أَبُو الْفَرَجِ ابْنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى
فِي رِسَالَتِهِ فِي رَدِّ عَلَى مَنْ خَرَجَ عَنِ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ
أَنَّ الْأَحَادِيثَ الَّتِي يُحْتَاجُ إِلَيْهَا فِي أَبْوَابِ الدِّينِ
لَا تَخْرُجُ عَنِ الْكُتُبِ السِّتَّةِ
وَصَدَقَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى
فَإِنَّهُ قَلَّ أَنْ يَخْرُجَ شَيْءٌ عَنِ الْكُتُبِ السِّتَّةِ
وَإِنْ وُجِدَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ
فَإِنَّ أَصْلَهُ يَكُونُ فِيهَا
وَيَكُونُ الْحَدِيثُ الْمُخَرَّجُ عِنْدَ أَحْمَدَ أَوِ الدَّارَقُطْنِيِّ
أَوِ الْبَيْهَقِيِّ زَائِدًا زِيَادَةً
يَكُونُ أَصْلُهَا الَّذِي بُنِيَتْ عَلَيْهِ فِي الدِّينِ مَوْجُودًا
فِي الْكُتُبِ السِّتَّةِ
وَهَذَا نَظِيرُ مَا يُذْكَرُ مِنْ أَنَّ
قِرَاءَاتٍ مَقْبُولَةً لَا تَخْرُجُ عَنِ الْعَشَرَةِ
أَوْ أَنَّ الْأَحْكَامَ الَّتِي جَرَى بِهَا الْعَمَلُ
لَا تَخْرُجُ عَنِ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ
فَهَذَا مِنْ قَوَاعِدِ الْعِلْمِ الْمُطَّرِدَةِ
فَيَنْبَغِي أَنْ يَعْتَنِيَ الْإِنْسَانُ
بِالْكُتُبِ السِّتَّةِ دُونَ غَيْرِهَا
وَلَا يَكُونُ اشْتِغَالُهُ بِغَيْرِهَا إِلَّا عَلَى جِهَةِ التَّبَعِ
وَمِنْ أَعْظَمِ مَا يَشْتَغِلُ بِهِ بَعْدَ الْكُتُبِ السِّتَّةِ
مُسْنَدُ إِمَامِ أَحْمَدَ وَسُنَنُ الدَّارَقُطْنِيِّ
وَسُنَنُ الْبَيْهَقِيِّ الْكُبْرَى
فَإِنَّ هَذِهِ الْكُتُبَ الثَّلَاثَةَ
تَشْتَمِلُ عَلَى أَحَادِيثَ مِنَ الْأَحَادِيثِ الَّتِي تُبَيِّنُ
مَا يُذْكَرُ أُصُولُهُ فِي الْكُتُبِ السِّتَّةِ
وَإِذَا اسْتَقَلَّتْ بِأَصْلٍ مُنْفَرِدٍ
فَالْغَالِبُ عَلَيْهِ الضَّعْفُ
هَذِهِ الْقَاعِدَةُ الْغَالِبَةُ
وَرُبَّمَا وُجِدَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ
يَخْرُجُ عَنِ الْقَاعِدَةِ
وَالشَّاذُّ وَالنَّادِرُ لَا يُخِلُّ بِالْقَاعِدَةِ
كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ عِنْدَ الْأُصُوْلِيِّيْنَ وَالْفُقَهَاءِ














