Islam sangat perhatian terhadap kebersihan dan keindahan. Dan salah satu adab yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bagi kaum muslimin adalah bersiwak. Namun penggunaan siwak perlu perhatian khusus tatkala dalam kondisi berpuasa.

Ummu Abdul Jawwad bertanya, “Berkaitan dengan pemakaian siwak (bagi yang berpuasa),
lalu ada sebagiannya yang tertelan ke tenggorokan, apa hukumnya?”
Hukum asalnya, tidak mengapa memakai siwak bagi orang yang berpuasa.
Sedangkan yang tertelan tanpa disengaja, tidak ada masalah baginya.
Namun, hendaklah ia memperhatikan hal itu,
dan orang yang berpuasa hendaknya menghindari pemakaian siwak yang basah,
serta menghindari pemakaian siwak yang mudah rontok.
Jika ia telah menghindari hal-hal ini, dan ia memakai siwak,
maka tidak ada masalah baginya.
Sedangkan yang tertelan tanpa disengaja, ia tidak dihukum atas itu, dan puasanya tetap sah.

***

أُمُّ عَبْدِ الْجَوَّادِ سَأَلَتْ تَقُوْلُ بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يَسْتَخْدمُ الْمِسْوَاكَ
وَيَنْزِلُ إِلَى حَلْقِهِ أَجْزَاءٌ مِنْهُ مَا حُكْمُ ذَلِكَ؟
الْأَصْلُ هُوَ أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِالتَّسَوُّكِ لِلصَّائِمِ
وَمَا قَدْ يَنْفُذُ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ لَا شَيْءَ عَلَيْهِ
لَكِنْ مَعَ ذَلِكَ يَنْبَغِي مُلَاحَظَةُ هَذَا
وَأَنْ يَجْتَنِبَ الصَّائِمُ السِّوَاكَ الرَّطِبَ
وَيَجْتَنِبُ أَيْضًا السِّوَاكَ الَّذِي يَتَفَتَّتُ
وَإِذَا اجْتَنَبَ هَذَا وَتَسَوَّكَ
فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ
وَمَا قَدْ يَنْفُذُ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ لَا يُؤَاخَذُ بِهِ وَصَوْمُهُ صَحِيحٌ