Bulan Ramadan sesaat lagi memasuki 10 hari yang tersisa. Pada malam-malam terakhir ini terdapat satu malam yang diyakini sebagai malam terbaik. Umat Islam tentu sudah mengenalnya sebagai malam lailatul qadar. Apa keutamaan malam lailatul qadar? Di dalam al-Qur’an surat al-Qadr ayat 3, Allah subhanahu wata’alaa berfirman:
لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya: Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. Al-Qadr: 3)
Aku nasihatkan dan tegaskan kembali
bahwa apa yang kadang-kadang terjadi dalam banyak kesempatan Ramadan,
di mana kita dapati banyak perkataan tersebar di tengah masyarakat
bahwa, misalnya, pada malam ke-24 banyak pandangan melihat,
atau pada malam ke-25 tahun ini banyak pandangan melihat fenomena yang sama.
Aku nasihatkan agar hal seperti ini tidak perlu Anda gubris!
Jangan terlalu Anda pikirkan.
Bersungguh-sungguhlah di sepuluh malam seluruhnya.
Setiap kali malam datang di antara sepuluh malam ini,
katakanlah saja, “Ini adalah Lailatul Qadar.”
Jika Ibnu Masʿud saja mengatakan,
“Carilah ia di sepanjang tahun seluruhnya.”
Maka kita katakan—dengan kelemahan kita—
“Carilah ia di sepuluh malam seluruhnya!”
Inilah yang disabdakan oleh Nabi ʿAlaihiṣ Ṣalātu was Salām,
beliau berkata, “Carilah Lailatul Qadar
di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” (Muttafaqun ʿAlaihi)
Oleh karena itu, jangan berpedoman dengan hal-hal seperti itu!
Bersungguh-sungguhlah di sepuluh hari tersebut, bahkan di malam ke-30
jika bulannya genap sampai 30 hari!
Banyak orang, mungkin karena sudah lemah semangat,
mengatakan, “Ini malam biasa,” padahal bisa jadi itulah Lailatul Qadar!
Bersungguh-sungguhlah sampai pagi,
sampai fajar terbit!
Inilah tekad yang akan membawa serta keberhasilan
dan keberuntungan besar dengan izin Allah Subẖānahu wa Taʿālā.
Pastikan bahwa diri Anda telah benar-benar
bersungguh-sungguh mencarinya di sepuluh hari ini!
Namun, jika seseorang bersungguh-sungguh di satu malam
yang dia sangka sebagai Lailatul Qadar,
karena katanya ada ciri-ciri ini, tanda-tanda itu,
dan banyak pandangan melihat fenomena yang sama, dan seterusnya,
lalu dia lemah semangat di malam-malam lain,
padahal bisa jadi ia ada di malam-malam lain itu
dan bukan di malam yang disangka sebagai Lailatul Qadar.
Semua yang dikatakan ini hanyalah dugaan,
tidak ada yang pasti, dugaan semua!
Jadi, kita harus menyikapi hadis ini
dengan sikap yang benar di sepuluh hari tersebut.
“Carilah Lailatul Qadar
di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” (Muttafaqun ʿAlaihi)
***
وَأَنْصَحُ وَأُؤَكِّدُ
أَنَّ مَا يَمَرُّ أَحْيَانًا فِي رَمَضَانَاتٍ كَثِيرَةٍ
يَأْتِينَا أَقْوَالٌ تَدْرُجُ بَيْنَ النَّاسِ
أَنَّ تَوَاطَأَتِ الرُّؤْيَةُ أَنَّ مَثَلًا أَرْبَعَ وَعِشْرِينَ
أَوْ خَمْسَ وَعِشْرِينَ هَذِهِ السَّنَةَ تَوَاطَأَتِ الرُّؤْيَةُ عَلَى كَذَا
فَمِثْلُ هَذَا أَنَا أَنْصَحُ أَنْ لَا تَقِفَ عِنْدَهُ
وَلَا تَهْتَمَّ لَهُ كَثِيرًا
وَاجْتَهِدْ فِي الْعَشْرِ كُلِّهَا
كُلَّمَا تَأْتِي لَيْلَةٌ مِنْ لَيَالِي الْعَشْرِ
قُلْ: هَذِهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ
إِذَا كَانَ ابْنُ مَسْعُودٍ يَقُولُ
اُطْلُبُوهَا فِي الْحَوْلِ كُلِّهَا
فَلْنَقُلْ نَحْنُ بِضَعْفِنَا
وَاطْلُبُوهَا فِي الْعَشْرِ كُلِّهَا
وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلامُ
قَالَ: تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ
فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
وَلِهَذَا لَا تَقِفْ عِنْدَ شَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ
وَاجْتَهِدْ فِي الْعَشْرِ حَتَّى لَيْلَةِ الثَّلَاثِينَ
إِذَا كَانَ الشَّهْرُ تَامًّا لَيْلَةَ الثَّلَاثِينَ
كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَعْنِي رُبَّمَا يَضْعُفُ
يَقُولُ: هِيَ اللَّيْلَةُ وَلَعَلَّهَا هِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ
وَاجْتَهِدْ حَتَّى تُصْبِحَ
حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
وَهَذِهِ هِيَ الْعَزَائِمُ الَّتِي مَعَهَا الْغَنَائِمُ
وَالرِّبْحُ الْعَظِيمُ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
وَتَكُنْ مُطْمَئِنًّا لِنَفْسِكَ أَنَّكَ فِعْلًا
اجْتَهَدْتَ فِي هَذِهِ الْعَشْرِ مُتَحَرِّيًا
لَكِنْ لَوْ أَنَّ إِنْسَانًا اجْتَهَدَ فِي لَيْلَةٍ
ظَنَّ أَنَّهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
وَقِيلَ فِيهَا مِنَ الْأَمَارَاتِ كَذَا وَالْعَلَامَاتِ
وَتَوَاطُؤُ الرُّؤَى إِلَى آخِرِهِ
وَضَعُفَ فِي اللَّيَالِي الْأُخْرَى
قَدْ تَكُونُ هِيَ فِي اللَّيَالِي الْأُخْرَى
وَلَيْسَتْ فِي اللَّيْلَةِ الَّتِي ظُنَّ أَنَّهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
وَالْاَشْيَاءُ الَّتِي تُقَالُ كُلُّهَا ظُنُونٌ
لَيْسَ فِيهَا جَزْمٌ كُلُّهَا ظُنُونٌ
فَيَنْبَغِي عَلَيْنَا أَنْ نُوَظِّفَ هَذَا الْحَدِيثَ
تَوْظِيفًا جَيِّدًا فِي الْعَشْرِ كُلِّهَا
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ
فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ














