Salat adalah kewajiban bagi setiap muslim. Ibadah salat merupakan perkara yang sangat penting. Kedudukannya sebagai salah satu rukun Islam harus diperhatikan dan dikerjakan. Di dalam sehari terdapat 5 salat wajib. Semuanya diamalkan dengan menunaikan syarat-syarat serta rukun-rukunnya.

Kewajiban salat tidak gugur hanya karena seseorang sedang dalam perjalanan. Bahkan meninggalkan salat adalah bentuk pelanggaran syariat dan termasuk dosa besar. Saat safar dan berada di kendaraan umum mungkin sulit untuk berhenti sejenak guna salat di masjid. Apalagi pesawat yang hanya turun di bandara untuk menurunkan penumpang.

Pertanyaan: “Bagaimana cara Shalat Subuh di pesawat,
yang mana, perjalanan dimulai sebelum waktu Shalat Subuh dan selesai setelah matahari terbit?”
Apabila seseorang mendapati waktu shalat, sedangkan dia berada di atas pesawat.
— dan saya hendak menjawabnya dengan jawaban yang lebih luas daripada yang ditanyakan —
Apabila kamu mendapati waktu shalat, sedangkan kamu berada di atas pesawat…
Jika shalat ini dapat dijamak dengan shalat setelahnya, maka akhirkanlah shalat ini (jamak takhir).
Akhirkan shalat ini ke waktu shalat setelahnya, hingga kamu mendarat di bandara, lalu kerjakanlah dua shalat itu secara jamak.
Namun, jika shalat itu tidak dapat dijamak dengan shalat setelahnya…
— seperti Shalat Subuh yang disebutkan dalam pertanyaan —
Maka kamu harus melaksanakan shalat itu di pesawat, sesuai dengan keadaanmu.
Adapun shalat sunnahnya, yaitu Shalat Qabliyah Subuh, maka kamu dapat melakukannya sambil duduk di kursi, dan melakukan isyarat (gerakan rukuk dan sujud),
meskipun arahmu tidak menghadap kiblat.
Sedangkan shalat fardhu, harus kamu kerjakan dengan sempurna rukun-rukunnya,
sesuai dengan kemampuan. Anda harus berdiri,
dan menghadap ke arah kiblat,
serta melakukan isyarat gerakan rukuk dan kamu masih dalam keadaan berdiri.
Lalu jika kamu hendak sujud, maka duduklah,
lalu lakukan isyarat gerakan sujud.
Ini jika kamu tidak dapat rukuk dan sujud (dengan gerakan yang semestinya),
karena saya dengar ada beberapa pesawat yang punya tempat yang luas
yang bisa dipakai seseorang untuk mendirikan shalat secara sempurna dengan rukuk dan sujudnya.
Jika memungkinkan rukuk dan sujud, maka wajib dilakukan; seperti saat di kereta api.
Namun, jika tidak memungkinkan, maka seperti yang telah saya jelaskan; kamu shalat dengan berdiri
dan melakukan isyarat rukuk, lalu duduk dan melakukan isyarat sujud.
Yang penting kamu tidak menunda shalat hingga waktunya habis.
Shalatlah sesuai dengan keadaanmu yang memungkinkan, berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surah al-Baqarah:
“Jika kamu takut (ada bahaya), shalatlah sambil berjalan kaki atau berkendaraan.” (QS. al-Baqarah: 239)
“رِجَالًا” artinya berjalan kaki,
atau “رُكْبَانًا” artinya di atas hewan tunggangan dan kapal (kendaraan).

***

سُؤَالٌ كَيْفَ نُؤَدِّي صَلَاةَ الْفَجْرِ فِي الطَّائِرَةِ
حَيْثُ أَنَّ الرِّحْلَةَ تَبْدَأُ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَتَنْتَهِي بَعْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ
الْإِنْسَانُ إِذَا مَرَّ عَلَيْهِ وَقْتُ صَلَاةٍ وَهُوَ فِي الطَّائِرَةِ
وَأُحِبُّ أَنْ أُجِيبَ بِجَوَابٍ أَوْسَعَ مِنَ السُّؤَالِ
إِذَا مَرَّ عَلَيْكَ وَقْتُ صَلَاةٍ وَأَنْتَ فِي الطَّائِرَةِ
فَإِنْ كَانَتْ هَذِهِ الصَّلَاةُ تُجْمَعُ إِلَى مَا بَعْدَهَا فَأَخِّرْهَا
أَخِّرْهَا إِلَى مَا بَعْدَهَا حَتَّى تَهْبِطَ فِي الْمَطَارِ وَتُصَلِّي الصَّلَاتَيْنِ جَمِيعًا
وَإِنْ كَانَتْ لَا تُجْمَعُ لِمَا بَعْدَهَا
مِثْلُ صَلَاةِ الْفَجْرِ الَّتِي جَاءَتْ فِي السُّؤَالِ
فَإِنَّكَ تُصَلِّي فِي الطَّائِرَةِ عَلَى حَسَبِ حَالِكَ
أَمَّا النَّافِلَةُ الَّتِي هِيَ سُنَّةُ الْفَجْرِ تُصَلِّيهَا وَأَنْتَ عَلَى الْكُرْسِيِّ وَتُوْمِئُ إِيْمَاءً
وَلَوْ كَانَ اتَّجَاهُكَ إِلَى غَيْرِ الْقِبْلَةِ
أَمَّا الْفَرِيضَةُ فَلَا بُدَّ أَنْ تُصَلِّيهَا تَامَّةً بِأَرْكَانِهَا
حَسَبَ الْمُسْتَطَاعِ فَتَقِفُ قَائِمًا
وَتَتَّجِهُ إِلَى الْقِبْلَةِ
وَتُومِئُ بِالرُّكُوعِ وَأَنْتَ قَائِمٌ
وَإِذَا أَرَدْتَ السُّجُودَ اجْلِسْ
ثُمَّ أَوْمِئْ بِالسُّجُودِ
هَذَا إِذَا كَانَ لَا يُمْكِنُكَ أَنْ تَرْكَعَ أَوْ تَسْجُدَ
لِأَنَّنِي سَمِعْتُ أَنَّ بَعْضَ الطَّائِرَاتِ يَكُونُ فِيهَا مَكَانٌ فَسِيْحٌ
يُمْكِنُ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُصَلِّيَ فِيهِ الصَّلَاةَ تَامَّةً بِرُكُوعِهَا وَسُجُودِهَا
فَإِذَا أَمْكَنَ فَهَذَا الْوَاجِبُ كَمَا فِي الْقِطَارِ مَثَلًا
وَإِذَا لَمْ يُمْكِن فَإِنَّهُ كَمَا قُلْتُ تُصَلِّي فَتَقِفُ
وَتُومِئُ بِالرُّكُوعِ وَتَجْلِسُ وَتُومِئُ بِالسُّجُودِ
الْمُهِمُّ أَنْ لَا تُؤَخِّرَ الصَّلَاةَ حَتَّى يَخْرُجَ الْوَقْتُ
صَلِّ عَلَى حَسَبَ حَالِكَ لِقَوْلِهِ تَعَالَى فِي سُورَةِ الْبَقَرَةِ
فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا
رِجَالًا يَعْنِي مَاشِيْنَ عَلَى الْأَرْجُلِ
أَوْ رُكْبَانًا عَلَى الْأَنْعَامِ وَالْفُلْكِ