Setiap perjalanan menuju kebenaran memiliki tantangan tersendiri. Suatu hari, saya bertemu dengan seorang tamu yang dulunya adalah seorang Nasrani, lalu memutuskan untuk memeluk Islam. Ia menceritakan sendiri bagaimana perjalanan spiritualnya membawanya ke agama Allah yang penuh rahmat ini. Namun, setelah memeluk Islam, ia bergabung dengan sebuah lembaga yang mengajarkan akidah menggunakan metodologi ahli kalam—sebuah pendekatan yang lebih mengandalkan logika daripada dalil Al-Qur’an dan Hadis.

Dalam perbincangan kami, saya bertanya tentang pemahamannya mengenai sifat al-ʿUluw atau Kemahatinggian Allah. Ia menjawab sesuai ajaran yang diterimanya, bahwa Allah “tidak di atas, tidak di bawah.” Ketika saya bertanya lebih jauh mengenai dalil yang mendasari keyakinan tersebut, ia hanya bisa mengingat bahwa penjelasan gurunya didasarkan pada argumen logika yang dianggap kuat dan meyakinkan, namun sayangnya, ia tak mampu mengingat satu pun dalil Al-Qur’an atau Hadis yang disampaikan.

Saya kemudian menegaskan kepadanya bahwa sumber utama ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan Hadis Nabi. Saya membacakan beberapa ayat Al-Qur’an dan hadis yang dengan jelas menetapkan sifat Kemahatinggian Allah, sambil menjelaskan maknanya secara sederhana agar mudah dipahami. Perlahan, pemahaman tentang hakikat Allah yang Maha Tinggi menjadi jelas baginya, memberikan ketenangan dan keyakinan baru dalam keimanannya.

Ia tampak tulus dan jujur dalam keislamannya, seorang pencari kebenaran sejati yang merindukan ajaran murni dari Allah dan Rasul-Nya. Dengan nada heran, ia bertanya, “Mengapa mereka menyembunyikan Al-Qur’an dan Hadis dariku? Padahal aku ingin memahami agama Allah sebagaimana yang tertulis dalam Kitab-Nya dan Sunah Nabi-Nya.” Saya hanya bisa menjawab, “Jangan tanyakan itu padaku, tanyakan pada mereka. Namun, yang pasti, inilah agama Allah—berdasarkan firman-Nya dan sabda Rasul-Nya.”

Diskusi kami berlangsung cukup lama, namun satu hal penting yang terungkap adalah tentang fitrah manusia dalam mengenal Allah. Saya bertanya kepadanya, “Saat masih menjadi Nasrani, di mana kamu meyakini Allah berada?” Ia menjawab, “Di langit.” Namun, setelah memeluk Islam melalui jalur yang diajarkan oleh ahli kalam, keyakinan fitrahnya diubah oleh konsep-konsep yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadis. Semoga Allah selalu menjaga kita dari kekeliruan.

Kisah ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua: Kebenaran dalam Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Di tengah banyaknya pandangan yang beredar, kembalilah kepada ajaran murni yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi hidayah untuk memahami agama ini dengan sebenar-benarnya, dan istiqamah dalam memegang teguh ajaran yang benar.

*
MASIH CARI ARTIKEL ISLAM DI GOOGLE?
Yuk, cari di Yufid.com (Islamic Search Engine) saja. Insya Allah LEBIH menenangkan hati!

INFO LENGKAP TENTANG PRODUKTIVITAS TIM YUFID:

Laporan Produksi

Profil Yufid:
https://yufid.org/profil-yufid-network/

Donasi Dakwah untuk Operasional Yufid:
https://yufid.org/donasi-untuk-yufid/
(https://yufid.org/donasi-untuk-yufid/)
DONASI UNTUK VIDEO DAKWAH DAPAT DISALURKAN KE:

BANK SYARIAH INDONESIA
7086882242
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
Kode BSI: 451

Paypal: [email protected]

NB:
Rekening di atas adalah rekening khusus donasi Yufid Network, jadi Anda tidak perlu konfirmasi setelah mengirimkan donasi. Cukup tuliskan keterangan donasi pada saat Anda transfer.

3 CHANNEL YUFID DI YOUTUBE:

YUFID.TV:
/ @yufid
( / @yufid )
YUFID EDU:
/ @yufidedu
( / @yufidedu )
YUFID KIDS:
/ @yufidkids

YUK, FOLLOW SOSIAL MEDIA YUFID.TV LAINNYA UNTUK MENDAPATKAN UPDATE VIDEO TERBARU!
Fabebook: / yufid.tv
Instagram: / yufid.tv
Telegram: https://telegram.me/yufidtv

AUDIO KAJIAN
Website: https://kajian.net
Soundcloud: / kajiannet

YUK, DUKUNG YUFID.TV!
Yuk, dukung dengan belanja di Yufid Store: http://yufidstore.com
(Seluruh keuntungan YufidStore.com digunakan untuk operasional dakwah Yufid)