Di era digital, informasi dan komunikasi begitu mudah diakses dan digunakan. Seperti yang kita rasakan, kehidupan masyarakat modern hampir tak lepas dari penggunaan internet dan media sosial. Berkomunikasi, berbagi ide, dan beraneka ragam aktivitas sehari-hari banyak dibagikan melalui platform-platform media sosial. Facebook, X, dan Youtube adalah beberapa contoh media sosial yang memiliki banyak pengguna. Menggunakan media sosial pada asalnya merupakan hal yang diperbolehkan. Namun, hendaknya setiap orang menahan diri dari memosting hal-hal yang dilarang oleh syariat.

Bahkan, di zaman sekarang, salah satu gangguan dari “batu kecil” ini (yakni handphone), telah mengganggu banyak orang.
Ia telah menyeret banyak jamaah haji ke dalam kenyataan yang sungguh menyakitkan, demi Allah, sangat menyakitkan!
Sekarang, kalian dapat melihat banyak jamaah haji, jumlahnya tidak sedikit, yang fokus utamanya selama berada di tempat-tempat suci: di Arafah, di Muzdalifah, di sekitar Baitullah Al-Haram, di tempat sa’i, dan di lokasi jumrah, fokus utamanya adalah untuk mengambil foto-foto dirinya sendiri.
Sebagian dari mereka bahkan langsung mengirim foto itu dari lokasi, kepada banyak orang melalui berbagai media komunikasi, melalui perangkat elektronik ini. Kami bahkan melihat sebagian jamaah haji—semoga Allah memberi hidayah kepada kita dan mereka, membimbing kita semua dalam agama ini, dan mengembalikan kita kepada kebenaran dengan cara yang baik—berdiri di tempat melempar jumrah, memperbaiki kain ihramnya, lalu mengangkat kedua tangannya. Kemudian temannya memotretnya. Setelah selesai, ia pun menurunkan kedua tangannya.
Lantas, kepada siapa tangan itu diangkat? Apakah diangkat untuk Allah? Tidak! Bukan untuk Allah.
Dalam hadis Qudsi yang diriwayatkan dari Salman, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia malu kepada hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Allah mengembalikannya dengan tangan kosong (tidak mengabulkannya).” (HR. Ibnu Majah).
Namun orang ini mengangkat tangannya untuk difoto, lalu menurunkannya kembali. Kemudian ia mengirimkan foto itu, dan bisa jadi ia berkata kepada teman-temannya, “Ini fotoku saat berdoa di tempat melempar jumrah,” atau, “Aku sedang berdoa di Arafah,” padahal ia tidak berdoa! Ia hanya mengangkat kedua tangannya, lalu difoto.
Demi Allah! Aku sendiri pernah melihat di masjid, lalu aku langsung menasihatinya. Ada seorang lelaki bersama temannya, ia mengambil mushaf Al-Quran yang besar, membukanya, dan temannya memotretnya dari sisi kanan, lalu dari sisi kiri, kemudian mushaf ditutup dan dikembalikan ke tempat semula. Foto itu, bisa jadi ia posting, ia kirim, atau lainnya, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an di masjid.
Seseorang yang aku percaya pernah bercerita kepadaku, bahwa ada dua orang berjalan di dalam masjid, kemudian salah seorang duduk dengan posisi tasyahud, lalu temannya memotretnya, dan ia pun berdiri kembali. Demi Allah, ini musibah! Demi Allah, ini perkara yang menyakitkan bagi orang yang memiliki kecemburuan terhadap agamanya. Demi Allah, hal ini menyakitkan hati orang yang memberi nasihat. Demi Allah, siapa pun yang melihat mereka dalam keadaan seperti itu, sementara ia adalah orang yang tulus menasihati, sungguh hatinya tercabik-cabik karena sakit yang mendalam.
Bagaimana ini bisa terjadi?! Padahal Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sampai di miqat, beliau bertalbiyah dengan menggabungkan niat haji dan umrah sekaligus (qiran), beliau berdoa: “Ya Allah, jadikanlah hajiku ini tidak mengandung riya dan tidak pula sum’ah.” (HR. Ibnu Majah).
Perbuatan ini benar-benar membahayakan ibadah orang-orang tersebut. Bahaya yang besar terhadap ibadah mereka. Apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan dalam ayat-ayat pertama tentang haji dalam Surah Al-Baqarah? “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah!” (QS. Al-Baqarah: 196).
Dalam ayat lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “…ibadah haji ke Baitullah karena Allah,” maksudnya adalah dengan penuh keikhlasan.
Dalam hadis, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang berhaji ke Baitullah karena Allah, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat keji, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari).
“Karena Allah”, inilah yang disebut dengan ikhlas. Tidak ada seorang pun yang memiliki andil atau bagian dalam amalan itu selain Allah. Oleh sebab itu, disebutkan dalam hadis Qudsi bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu-sekutu dalam kesyirikan. Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan, lalu ia menyekutukan-Ku di dalamnya dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya.” (HR. Muslim).
Makna “Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya” adalah Aku tolak amalannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerima amalan tersebut darinya.
Oleh karena itu, orang yang berhaji hendaknya sungguh-sungguh menjaga dirinya, menjauhkan dirinya dari riya dan sum’ah, terlebih di zaman kita ini, telah muncul berbagai media yang benar-benar bisa menyeret manusia ke dalam masalah riya, sum’ah, dan ujub (membanggakan diri sendiri).
Dan berhati-hatilah dari perbuatan ujub, karena ujub itu menyeret amalan pelakunya seperti arus deras yang melenyapkan. Itu adalah bahaya yang sangat besar.
Oleh sebab itu, hendaknya seorang hamba memasuki hajinya dengan menjaga ibadah ini dengan sungguh-sungguh, bersungguh-sungguh melawan hawa nafsunya, agar tetap ikhlas karena Allah, dan hanya mengharap Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui ibadah ini. Ia mengharapkan wajah Allah, tanpa menyekutukan-Nya dengan siapa pun, dan tidak memberikan bagian sedikit pun kepada selain-Nya.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Akan dikatakan pada hari kiamat kepada orang-orang yang riya: ‘Pergilah kepada orang-orang yang dulu kalian tampakkan amalan kalian kepada mereka, lalu mintalah pahala dari mereka.’”
Apa yang akan mereka dapatkan dari orang-orang yang dulu mereka cari perhatian dengan amalan mereka? Yang mereka kirimi video, kirimi foto, dan lainnya? Apa manfaatnya orang-orang itu bagi mereka?
Karena itu, seorang hamba harus benar-benar memperhatikan perkara besar ini, berusaha menjauh dari hal-hal yang mengganggu dan menyibukkan, dari hiburan, pengalih perhatian, dan jebakan-jebakan yang menyesatkan, yang jumlahnya sangat banyak.
Semoga Allah melindungi kita semua dan menjaga kita dari itu. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita amalan yang jernih, niat yang tulus, dan kebaikan dalam mengikuti ajaran Nabi yang mulia, shallallahu ‘alaihi wa sallam.

***

حَتَّى أَنَّ مِنْ إِشْغَالِ هَذِهِ الْحَصَاةِ الَّتِي بِهَذَا الزَّمَانِ لِكَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ
أَنَّهَا جَرَّتْ كَثِيراً مِنَ الْحُجَّاجِ إِلَى حَقِيقَةِ أَمْرٍ مُؤْلِمٍ وَاللَّهِ مُؤْلِمٌ جِدًّا
الْآنَ تَرَوْنَ عَدَداً مِنَ الْحُجَّاجِ لَيْسَ بِالْقَلِيلِ، مِنْ أَكْبَرِ هَمِّهِ فِي الْمَشَاعِرِ فِي عَرَفَاتٍ، وَفِي مُزْدَلِفَةَ وَعِنْد الْبَيْتِ الْحَرَامِ وَفِي الْمَسْعَى وَعِنْدَ الْجَمَرَاتِ، هَمُّهُ أَنْ يَلْتَقِطَ لِنَفْسِهِ الصُّوَرَ.
وَبَعْضُهُم يُرْسِلُهَا مُبَاشَرَةً مِنَ الْمَوْقِعِ إِلَى خَلْقٍ كَثِيرٍ جِدًّا عَبْرَ وَسَائِلِ اتِّصَالٍ مُتَنَوِّعَةٍ، مِنْ خِلَالِ هَذِهِ الأَجْهِزَةِ.
حَتَّى رَأَيْنَا بَعْضَ الْحُجَّاجِ هَدَانَا اللَّهُ وَإِيَّاهُمْ، وَبَصَّرَنَا فِي دِينِنَا أَجْمَعِينَ وَرَدَّنَا إِلَى الْحَقِّ رَدًّا جَمِيلًا، رَأَيْنَا بَعْضَهُم يَقِفُ مَثَلًا عِنْدَ الْجَمَرَاتِ، وَيُصَلِّحُ إِزَارَهُ وَيَمُدُّ يَدَيْهِ، ثُمَّ يُصَوِّرُهُ صَاحِبُهُ وَإِذَا انْتَهَى التَّصْوِيرُ أَنْزَلَ يَدَيْهِ.
إِذًا الْيَدَانِ مَا رُفِعَتَا لِمَنْ؟ هَلْ رُفِعَتْ لِلَّهِ؟ مَا رُفِعَتْ لِلَّهِ.
فِي الْحَدِيثِ يَقُولُ الْحَدِيثُ الْقُدْسِيُّ، حَدِيثُ سَلْمَانَ، يَقُولُ النّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِ مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا». (رواه ابن ماجه).
هَذَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ تُؤْخَذُ صُورَةً ثُمَّ يَخْفِضُ يَدَيْهِ. ثُمَّ يُرْسِلُ الصُّورَةَ، وَرُبَّمَا يُحَدِّثُ أَصْحَابَهُ يَقُولُ: هَذِهِ صُورَتِي وَأَنَا أَدْعُو عِنْدَ الْجَمَرَاتِ، أَوْ أَدْعُو فِي عَرَفَاتٍ، هُوَ مَا دَعَا. هُوَ فَقَطْ رَفَعَ يَدَيْهِ وَأُخِذَتْ صُورَةٌ.
وَاللَّهِ بِنَفْسِي رَأَيْتُ مَرَّةً فِي الْمَسْجِدِ، وَنَاصَحْتُهُ مُبَاشَرَةً. رَجُلًا مَعَهُ صَاحِبُهُ وَأَخَذَ مُصْحَفاً كَبِيراً، وَفَتَحَهُ وَصَوَّرَهُ صَاحِبُهُ مِنَ الْيَمِينِ، وَصَوَّرَهُ مِنَ الْيَسَارِ وَطَبَّقَ الْمُصْحَفَ وَوَضَعَهُ فِي مَكَانِهِ.
وَهَذِهِ الصُّورَةُ يَعْنِي رُبَّمَا يُعَلِّقُهَا أَوْ يُرْسِلُهَا أَوْ عَلَى أَنَّهُ يَقْرَأُ فِي الْمَسْجِدِ الْقُرْآنَ.
وَحَدَّثَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ أَنَّ اثْنَيْنِ يَمْشِيَانِ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ، فَجَلَسَ أَحَدُهُمَا عَلَى هَيْئَةِ التَّشَهُّدِ، وَالْتَقَطَ لَهُ صَاحِبُ الصُّورَةَ ثُمَّ قَامَ.
وَاللَّهِ مُصِيبَةٌ، وَاللّهِ أَمْرٌ يُؤْلِمُ الْغَيُورَ، وَاللَّهِ يُؤْلِمُ النَّاصِحَ، وَاللَّهِ مَنْ يَرَاهُمْ وَهُوَ نَاصِحٌ يَتَقَطَّعُ قَلْبُهُ عَلَيْهِم أَلَماً.
كَيْفَ يَكُونُ هَذَا الْأَمْرُ؟ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمَّا وَصَلَ إِلَى الْمِيقَاتِ وَلَبَّى قَارِنًا بِالْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، قَالَ: «اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا لَا رِيَاءَ فِيهِ وَلَا سُمْعَةً». (رواه ابن ماجه).
هَذَا فِيهِ خَطَرٌ جِدًّا عَلَى عِبَادَةِ هَؤُلَاءِ، خَطَرٌ عَظِيمٌ عَلَى عِبَادَتِهِمْ.
للَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَاذَا قَالَ فِي أَوَّلِ آيَاتِ الْحَجِّ مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ؟ «وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ». (البقرة: 196).
وَفِي الْآيَةِ الْأُخْرَى قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: «وَلِلَّهِ حِجُّ الْبَيْتِ»، لِلَّهِ أَيْ خَالِصًا.
وَفِي الْحَدِيثِ يَقُولُ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «مَنْ حَجَّ الْبَيْتِ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ». (رواه البخاري).
لِلَّه، هَذَا هُوَ الْإِخْلَاصُ. لَيْسَ لِأَحَدٍ فِيهِ أَيِّ شَرِكَةٍ وَلَا نَصِيبٍ. وَلِهَذَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَالَ: «أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ مَعِي فِيهِ غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ». (رواه مسلم).
مَعْنَى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ أَي رَدَدْتُ عَلَيْهِ عَمَلَهُ، وَلَمْ يَقْبَلْهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْهُ.
وَلِهَذَا يَنْبَغِي أَنْ يَحْفَظَ الْحَاجُّ فِعْلاً نَفْسَهُ، وَأَنْ يُبْعِدَهَا عَنِ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ، خَاصَّةً الْآنَ فِي زَمَانِنَا اسْتَجَدَّتْ وَسَائِلُ فِعْلًا تُوَرِّطُ الْإِنْسَانَ تَوْرِيطًا فِي مَسْأَلَةِ الرِّيَاءِ وَمَسْأَلَةِ السُّمْعَةِ، وَمَسْأَلَةِ الْعُجْبِ أَيْضًا بِالنَّفْسِ.
وَالْعُجْبَ فَاحْذَرْهُ، إِنَّ الْعُجْبَ مُجْتَرِفٌ أَعْمَالَ صَاحِبِهِ فِي سَيْلِ الْعَرِمِ، خَطَرٌ عَظِيمٌ جِدًّا.
وَلِهَذَا يَدْخُلُ الْعَبْدُ حَجَّهُ مُحَافِظًا عَلَى هَذِهِ الْعِبَادَةِ، مُحَافِظًا عَلَيْهَا مُجَاهِدًا نَفْسَهُ، عَلَى إِخْلَاصِه

*
MASIH CARI ARTIKEL ISLAM DI GOOGLE?
Yuk, cari di Yufid.com (Islamic Search Engine) saja. Insya Allah LEBIH menenangkan hati!

INFO LENGKAP TENTANG PRODUKTIVITAS TIM YUFID:

Laporan Produksi

Profil Yufid:
https://yufid.org/profil-yufid-network/

Donasi Dakwah untuk Operasional Yufid:
https://yufid.org/donasi-untuk-yufid/
(https://yufid.org/donasi-untuk-yufid/)
DONASI UNTUK VIDEO DAKWAH DAPAT DISALURKAN KE:

BANK SYARIAH INDONESIA
7086882242
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
Kode BSI: 451

Paypal: [email protected]

NB:
Rekening di atas adalah rekening khusus donasi Yufid Network, jadi Anda tidak perlu konfirmasi setelah mengirimkan donasi. Cukup tuliskan keterangan donasi pada saat Anda transfer.

3 CHANNEL YUFID DI YOUTUBE:

YUFID.TV:
/ @yufid
( / @yufid )
YUFID EDU:
/ @yufidedu
( / @yufidedu )
YUFID KIDS:
/ @yufidkids

YUK, FOLLOW SOSIAL MEDIA YUFID.TV LAINNYA UNTUK MENDAPATKAN UPDATE VIDEO TERBARU!
Fabebook: / yufid.tv
Instagram: / yufid.tv
Telegram: https://telegram.me/yufidtv

AUDIO KAJIAN
Website: https://kajian.net
Soundcloud: / kajiannet

YUK, DUKUNG YUFID.TV!
Yuk, dukung dengan belanja di Yufid Store: http://yufidstore.com
(Seluruh keuntungan YufidStore.com digunakan untuk operasional dakwah Yufid)