Di dunia ini, hari demi hari dilewati dengan berbagai macam kenikmatan sekaligus cobaan. Dan tidak sedikit orang yang dengan santai menuruti semua keinginan napsunya. Padahal, kesenangan seperti itu sangat menipu. Bukannya memberikan ketenangan, menuruti hawa nafsu justru membuat batin semakin tersiksa.
Dunia sering kali membuat manusia terlena. Hari demi hari berlalu, tubuh semakin lemah, sementara kematian terus mendekat tanpa pernah menunggu kesiapan seseorang. Dalam Qasidah Abu Ishaq al-Ilbiri ini, kita diingatkan agar tidak tertipu oleh dunia yang kesenangannya hanya sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal.
Qasidah ini juga berisi seruan untuk menuntut ilmu. Ilmu menjadi sebab seseorang mendapatkan petunjuk, sebab memperoleh kemuliaan, dan membawa manfaat selama hidupnya. Bahkan, ilmu diibaratkan sebagai harta simpanan yang tidak berat dibawa dan tidak perlu dikhawatirkan akan dicuri. Semakin ilmu dibagikan, semakin bertambah manfaatnya.
Namun, ilmu tidak cukup hanya untuk diketahui. Ilmu harus diamalkan dan diwujudkan dalam ketakwaan kepada Allah. Puncak ilmu bukanlah ketika seseorang dipandang sebagai orang yang berilmu atau menjadi pemimpin, melainkan ketika ilmu tersebut membuahkan ketakwaan. Sebab, ilmu yang tidak memberikan kebaikan dan tidak diamalkan dapat menjadi penyesalan bagi pemiliknya.
Nasihat dalam qasidah ini kemudian mengajak seseorang untuk melihat kembali dirinya sendiri. Jangan sampai seseorang sibuk menasihati orang lain, sementara dirinya masih larut dalam kelalaian dan dosa. Ingatlah bahwa setiap manusia akan menghadap Allah dan mempertanggungjawabkan amalnya. Penyesalan pada hari itu tidak akan berguna ketika kesempatan untuk beramal telah berakhir.
Qasidah ini juga mengingatkan agar seorang muslim menjaga diri dalam pergaulan, menjauhi kebatilan, serta tidak menetap di lingkungan yang dapat merusak agama dan hati. Ketika menghadapi kebodohan dan cacian, hendaknya ia membalas dengan keselamatan. Keselamatan seorang hamba tidak terwujud kecuali dengan penjagaan dari Allah, sehingga ia perlu memohon taufik dan memperbanyak mengingat-Nya.
Pada bagian penutup, Abu Ishaq al-Ilbiri kembali menegaskan hakikat zuhud terhadap dunia. Zuhud bukan berarti menjadi orang yang tidak dikenal, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan dan sesuatu yang diagungkan. Nasihat-nasihat ini dihimpun agar diamalkan sepanjang kehidupan. Semoga qasidah ini menjadi pengingat bagi kita untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, mengamalkannya, menjaga diri dari kelalaian, serta mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhir.
*
MASIH CARI ARTIKEL ISLAM DI GOOGLE?
Yuk, cari di Yufid.com (Islamic Search Engine) saja. Insya Allah LEBIH menenangkan hati!
INFO LENGKAP TENTANG PRODUKTIVITAS TIM YUFID:
Profil Yufid:
https://yufid.org/profil-yufid-network/
Donasi Dakwah untuk Operasional Yufid:
https://yufid.org/donasi-untuk-yufid/
(https://yufid.org/donasi-untuk-yufid/)
DONASI UNTUK VIDEO DAKWAH DAPAT DISALURKAN KE:
BANK SYARIAH INDONESIA
7086882242
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
Kode BSI: 451
Paypal: [email protected]
NB:
Rekening di atas adalah rekening khusus donasi Yufid Network, jadi Anda tidak perlu konfirmasi setelah mengirimkan donasi. Cukup tuliskan keterangan donasi pada saat Anda transfer.
3 CHANNEL YUFID DI YOUTUBE:
YUFID.TV:
/ @yufid
(
/ @yufid )
YUFID EDU:
/ @yufidedu
(
/ @yufidedu )
YUFID KIDS:
/ @yufidkids
YUK, FOLLOW SOSIAL MEDIA YUFID.TV LAINNYA UNTUK MENDAPATKAN UPDATE VIDEO TERBARU!
Fabebook:
/ yufid.tv
Instagram:
/ yufid.tv
Telegram: https://telegram.me/yufidtv
AUDIO KAJIAN
Website: https://kajian.net
Soundcloud:
/ kajiannet
YUK, DUKUNG YUFID.TV!














