Fikih Doa dan Dzikir: Bacaan Dzikir Pagi Petang Bagian 2 – Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA
Bacaan Dzikir pagi dan bacaan dzikir petang amat beragam bacaannya. Antara lain:
Bacaan dzikir pagi dan bacaan dzikir petang kedua:
Membaca Surat al-Ikhlas pada dzikir pagi dan juga pada dzikir petang sebanyak tiga kali setiap pagi dan tiga kali setiap petang.
“قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
”
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah Yang Maha dibutuhkan seluruh hamba-Nya. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia ”. QS. Al-Ikhlas (112): 1-4.
Dalil Landasan bacaan dzikir pagi dan dzikir petang serta tata cara berdzikir
Abdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Di suatu malam yang gelap gulita dan hujan, kami keluar mencari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, supaya beliau mengimami kami. Manakala kami menemukannya, beliau berkata, “Ucapkanlah!”. Aku tidak mengucapkan apapun. Kemudian beliau kembali berkata, “Ucapkanlah!”. Aku tidak mengucapkan apapun. “Ucapkanlah!” kata beliau lagi.
Akupun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kuucapkan?”.
“قُلْ: “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ”الْمُعَوِّذَتَيْنِ” حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ”
“Ucapkanlah “Qul huwallahu ahad”, al-Falaq dan an-Nas di sore dan pagi hari tiga kali. Niscaya itu akan melindungimu dari segala sesuatu”. HR. Tirmidziy dan beliau mengatakan, “hasan sahih gharib”.
Maksudnya melindungi dari segala bentuk marabahaya dan musibah. [ Baca: Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin al-‘Abbad (III/14).]
Renungan Kandungan
Surat yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surat al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surat ini sepadan dengan sepertiga al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, isi al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surat al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid.[ Cermati: Tafsîr al-Baidhawy (hal. 814), Tafsîr Abî as-Su’ûd (V/592), Tafsîr as-Sirâj al-Munîr karya asy-Syarbiny al-Khathib (IV/713) dan Tafsîr an-Naisâbûry (XIV/361).]
Sehingga barang siapa membaca surat al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga al-Qur’an.[ Periksa: Syarh as-Sindiy ‘ala Sunan Ibn Majah (V/241) dan Tafsîr at-Tahrîr wa at-Tanwîr (XXX/621).]
Di permulaan surat ini Allah ta’ala menegaskan keesaan-Nya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzat-Nya. Allah Maha Esa dalam keberhakan-Nya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhanan-Nya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkan-Nya. Mereka semua meminta pada-Nya dalam setiap kebutuhan dan memohon pada-Nya dalam setiap kepentingan.[ Tafsîr as-Sa’dy (hal. 866).]
Lalu Allah menjelaskan bahwa diri-Nya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin.[ Periksa: Tafsîr Sûrah al-Ikhlâsh, sebagaimana dalam Majmû’ah Rasâ’il al-Hafizh Ibn Rajab al-Hambaly (II/545).] Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selain-Nya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.
Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama sekali.[ Periksa: Tafsîr at-Tahrîr wa at-Tanwîr (XXX/619-620).] Tidak ada apapun yang serupa, apalagi sama dengan Allah dalam segala sesuatu. Baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya maupun keberhakkan-Nya akan ibadah para hamba.[ Lihat: Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 350) dan Tafsîr Hadâ’iq ar-Rauh (XXXII/446).]
Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulhijjah 1440 / 5 Agustus 2019
Pemateri: Abdullah Zaen, Lc., MA














