Muhasabah yang Menyentuh Hati – Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. – 5 Menit yangMenginspirasi

Muhasabah yang menyentuh hati kali ini kami sadur dari muhasabah diri yang disampaikan dari aqwal para ulama. Muhasabah diri adalah ajang penempaan seseorang untuk meraih prestasi yang lebih baik dari sebelumnya. Muhasabah adalah cara seseorang mengoreksi diri sendiri atas hal-hal yang belum ia lakukan dan sudah ia lakukan. Muhasabah diri artinya kiat untuk berangsur membaik dari kondisi sebelumnya atau dengan bahasa lain: Titik Balik!

Berapa banyak ayat muhasabah diri menuturkan tentang cara muhasabah diri yang baik dan benar. Contoh muhasabah diri yang sering dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah beliau senantiasa beristighfar seratus kali dalam sehari. Dalam sikap muhasabah menghadirkan muraqabah. Muraqabah adalah merasa diawasi oleh Allah Ta’ala dalam setiap gerak-gerik kita.

Muhasabah yang menyentuh hati membuahkan keikhlasan. Ikhlas adalah barometer yang matang dalam muhasabah seseorang. Ikhlas beramal akan mudah terbentuk bagi seseorang yang membiasakan bermuhasabah. Dengan adanya muhasabah, seseorang akan mudah menentukan ibadah mana yang akan ia pilih dari sekian macam macam ibadah yang ditawarkan oleh syariat: ada shalat sunnah, ada baca Al Quran, ada puasa, dan lain sebagainya.

Hakikat ibadah akan tampak dalam keseharian seseorang, lantaran ia mengerti bahwa tujuan ibadah dalam rangka ditujukan kepada sang Khalik (Allah Ta’ala). Salah satu dalil tentang ibadah ada dalam surat Al Bayyinah: “Wa umiruu illa ilya’budun … ila akhiril ayat.” Dalam ayat ini terdapat syarat ibadah yang pertama atau bisa kita katakan sebagai rukun ibadah.

Macam macam amal shaleh yang kita sebutkan dalam alenia ketiga belum menyebutkan manfaat amal saleh dan disini kami tidak akan menguraikannya. Beralih kepada ittiba yang mesti ada dalam syarat ibadah. Ittiba adalah mengikuti Rasulullah dalam agama. Ustadz Abu Yahya Badrusalam selaku pemateri menyajikan muhasabah atau introspeksi diri ini dengan bahasa yang menggugah jiwa dan membelakkan mata dari tipu daya Setan yang siap siaga mengintai para manusia. Orang yang tidak mengetahui prinsip ibadah ini (baca: tidak mempunyai ilmu agama), maka ia akan mudah terjatuh dalam jerat-jerat Setan durjana.