Salah satu sifat yang penting untuk dimiliki yaitu kecermatan. Cermat artinya teliti atau seksama. Orang yang cermat cenderung lebih baik dalam pengambilan keputusan. Sifat cermat tidak hanya dibutuhkan dalam urusan dunia saja bahkan dalam bidang agama kecermatan juga sangat diperlukan.
Sebenarnya imam as-Safarini menyebutkan dalam kitab syarahnya,
tentang biografi Mutharrif bin Abdillah.
Beliau berkata, “Mutharrif adalah seorang tabi’in, ahli fiqih, dan terpercaya.
Ia memiliki keutamaan, sifat wara’, kecermatan, dan adab.”
Sifat-sifat inilah yang disebutkan oleh Imam as-Safarini saat menjelaskan Mutharrif bin Abdillah.
Dan yang menarik darinya,
sifat-sifat ini mudah ditemui: ahli fiqih, terpercaya, dan memiliki sikap wara’.
Namun, yang menarik adalah disebutkan pula bahwa beliau memiliki kecermatan dan adab.
Dan sifat ini jarang kita temui di zaman ini, kecuali dari orang yang mendapat rahmat dari Allah.
Orang-orang sangat membutuhkan kecermatan dan adab.
Mengapa aku memuji tabi’in yang mulia ini karena memiliki kecermatan?
Mengapa tidak cukup dengan ilmu fiqihnya?
Sebab bisa saja seseorang punya ilmu fiqih, akan tetapi jika ia tidak punya kecermatan,
untuk mengontrol urusannya; kapan harus bicara, kapan harus diam, kapan harus memberi fatwa,
dan kapan harus mengalihkan pertanyaan kepada ulama lain;
maka ia akan terjerumus ke dalam banyak fitnah.
Oleh sebab itu, hendaklah para penuntut ilmu mempelajari kecermatan,
sebagaimana mereka mempelajari fiqih.
Dan ini penting sekali.
Bisa saja seseorang memiliki ilmu, akan tetapi ia tidak dapat berlaku dengan baik,
dalam mengontrol ilmu ini dengan teliti.
Para ulama dan ahli fiqih…
harus memiliki kecermatan dalam menyikapi hal seperti ini.
Mungkin saja keadaan saat itu mengharuskannya untuk diam, atau bicara, atau juga menghindar.
Dan ini menyelisihi apa yang dilakukan oleh beberapa orang, sebagaimana yang dapat kita lihat saat ini,
setelah informasi tersebar luas,
dan banyak orang yang dapat membaca apa yang tertulis dalam buku-buku lama,
yang berupa beberapa pendapat nyeleneh,
atau terkadang juga berupa riwayat yang lemah atau palsu.
Lalu ada orang yang tidak punya kecermatan yang mengeksposnya.
Ia berkata, “Ini ada dalam pendapat banyak orang, ini ada dalam pendapat para ulama.” Sehingga ia menimbulkan fitnah.
Tentu ini bertentangan dengan kecermatan.
Sesuatu yang tersembunyi atau yang tidak layak untuk diketahui orang…
tidak seharusnya untuk diekspos dan ditampakkan kepada khalayak ramai.
Demikian juga jika ada suatu fitnah yang terjadi di masa lalu,
dan ia telah dilupakan orang-orang, maka tidak seharusnya ia disebarluaskan
dan permasalahan itu diungkit kembali, padahal ia telah terlupakan.
Ini adalah perkara penting, dan termasuk metode penting dalam menuntut ilmu,
yang harus diperhatikan oleh para penuntut ilmu.
Demikian juga dengan adab, karena ia merupakan penghias diri bagi seorang penuntut ilmu,
dan ia juga menjadi sebab yang mendatangkan kebaikan dan taufik baginya,
juga sebab yang dapat mendekatkannya kepada para ulama,
karena orang beradab akan dekat dan dicintai oleh para ulama.
***
وَحَقِيقَةً ذَكَرَ الْإِمَامُ السَّفَّارِينِيُّ فِي شَرْحِهِ
فِي تَعْرِيفِ مُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اللهِ
قَالَ مُطَرِّفٌ تَابِعِيٌّ فَقِيهٌ ثِقَةٌ
لَهُ فَضْلٌ وَوَرَعٌ وَعَقْلٌ وَأَدَبٌ
هَذِهِ صِفَاتٌ ذَكَرَهَا الْإِمَامُ السَّفَّارِينِيُّ فِي وَصْفِ مُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اللهِ
الَّذِي يُلْفِتُ النَّظَرَ
هَذِهِ الصِّفَاتُ مَعْرُوفَةٌ فَقِيهٌ ثِقَةٌ لَهُ فَضْلٌ وَوَرَعٌ
لَكِنِ الْمُلْفِتُ لِلنَّظَرِ هُوَ ذِكْرُ الْعَقْلِ وَالْأَدَبِ
وَهَذَا كَثِيرًا مَا نَفْقِدُهُ فِي هَذِهِ الْعُصُورِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللهُ
فَالنَّاسُ يَحْتَاجُونَ إِلَى عَقْلٍ وَأَدَبٍ
لِمَ أُثْنِي عَلَى هَذَا التَّابِعِيِّ الْجَلِيلِ بِالْعَقْلِ؟
لِمَ لَمْ يُكْتَفَ بِالْفِقْهِ؟
قَدْ يُوجَدُ الْفِقْهُ وَلَكِنَّ الْإِنْسَانَ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَقْلٌ
يَضْبِطُ أُمُورَهُ مَتَى يَتَكَلَّمُ وَمَتَى يَسْكُتُ وَمَتَى يُفْتِي
وَمَتَى يُحِيلُ لِغَيْرِهِ
فَإِنَّهُ سَيَخُوْضُ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْفِتَنِ
وَلِهَذَا يَنْبَغِي لِطُلَّابِ الْعِلْمِ تَعَلُّمُ الْعَقْلِ
كَمَا يَتَعَلَّمُونَ الْفِقْهَ
وَهَذَا مُهِمٌّ جِدًّا
قَدْ يَكُونُ الْإِنْسَانُ عِنْدَهُ عِلْمٌ لَكِنَّهُ لَا يُحْسِنُ
أَنْ يَضْبِطَ هَذَا الْعِلْمَ
فَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَالْفُقَهَاءَ
لَهُم تَعَقُّلٌ مَعَ هَذَا
فَقَدْ يَكُونُ الْمَقَامُ مَقَامَ سُكُوتٍ أَوْ حَدِيثٍ أَوْ إِعْرَاضٍ
وَهَذَا بِخِلَافِ مَا عَلَيْهِ بَعْضُ النَّاسِ مِثْلُ مَا نُلَاحِظُ الْآنَ
بَعْدَ انْتِشَارِ الْمَعْلُومَاتِ
وَاطِّلَاعِ كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ عَلَى مَا دُوِّنَ فِي الْكُتُبِ قَدِيمًا
مِنْ بَعْضِ الْأَقْوَالِ الشَّاذَّةِ
وَقَدْ تَكُونُ أَيْضًا بَعْضَ الرِّوَايَاتِ الضَّعِيفَةِ وَالْمُنْكَرَةِ
فَيَأْتِي بَعْضُ مَنْ لَيْسَ لَهُ عَقْلٌ فَيُخْرِجُهَا
وَيَقُولُ هَذَا مَوْجُودٌ فِي كَلَامِ النَّاسِ هَذَا مَوْجُودٌ فِي كَلَامِ الْعُلَمَاءِ فَيُحْدِثُ فِتْنَةً
فَهَذَا مِمَّا يُنَافِي الْعَقْلَ
أَنَّ الشَّيْءَ الْمَغْمُوضَ أَوِ الَّذِي لَيْسَ لِلنَّاسِ اطِّلَاعُ عَلَيْهِ
لَا يَنْبَغِي أَنْ يُظْهَرَ وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُخْرَجَ بَيْنَ النَّاسِ
كَذَلِكَ لَوْ كَانَتْ هُنَاكَ فِتْنَةً قَدِيمَةً
وَقَد نَسِيَهَا النَّاسُ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ تُبْعَثَ
وَتُثَارُ الْمَسْأَلَةُ بَعْدَ أَنْ كَانَتْ مَنْسِيَّةً
فَهَذَا مُهِمٌّ وَهَذِهِ مِنَ الْفَوَائِدِ الْمَنْهَجِيَّةِ الْمَسْلَكِيَّةِ
الَّتِي يَنْبَغِي لِطُلَّابِ الْعِلْمِ التَّنَبُّهُ لَهَا
وَكَذَلِكَ الْأَدَبُ فَإِنَّهُ زِينَةُ طَالِبِ الْعِلْمِ
وَهُوَ سَبَبٌ لِلْخَيْرِ وَلِتَوْفِيْقِهِ
وَلِكَذَلِكَ لِتَقْرِيْبِ أَهْلِ الْعِلْمِ لَهُ
فَإِنَّ الْأَدِيْبَ مُقَرَّبٌ لِلْعُلَمَاءِ مُحَبَّبٌ إِلَيْهِمْ














