Bacaan Dzikir Pagi Bagian 3 Ustdaz Abdullah Zaen

Berdzikir merupakan ibadah yang agung. Kita diperintahkan untuk memperbanyak mengingat Allah subhanahu wata’alaa, salah satunya dengan berdzikir. Bagaimana bacaan dzikir yang benar?

Pada pertemuan sebelumnya kita telah memulai pembahasan tentang bacaan yang khusus dibaca saat dzikir pagi. Berikut kelanjutannya:

BACAAN KETIGA:
Membaca wirid berikut satu kali:

” ‌أَصْبَحْنَا ‌عَلَى ‌فِطْرَةِ ‌الْإِسْلَامِ، وَعَلَى كَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ، وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا مُسْلِمًا، وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “

“Pagi ini kami berpegang dengan fitrah Islam, kalimat tauhid, agama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan agama ayah kita Ibrahim yang tegak di atas jalan yang lurus, tunduk, serta tidak termasuk kaum musyrikin”.

Dalil Landasan

Abdurrahman bin Abzâ radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki waktu pagi, beliau membaca dzikir tadi”. HR. Ahmad dan sanadnya dinilai sahih oleh al-‘Iraqiy dan al-Albaniy.

Renungan Kandungan

Setiap pagi kita diajak untuk merenungi berbagai nikmat yang dilimpahkan Allah pada kita. Terutama nikmat-nikmat yang bersifat ukhrawi. Agar kita senantiasa bersyukur kepada Allah. Di dalam wirid ini kita diingatkan dengan empat karunia.

Nikmat Pertama: Fitrah Islam

Yakni kita masih diperkenankan oleh Allah untuk memeluk agama mulia ini. Agama yang selaras dengan fitrah asli manusia yang belum tercemar. Yaitu fitrah yang cenderung menyukai kebaikan dan membenci keburukan. Fitrah yang tunduk pada Allah dan tidak menentang ajaran-Nya.

Nikmat Kedua: Kalimat Tauhid

Maksudnya kita masih dibantu oleh Allah untuk tetap konsisten berpegang dengan kalimat Lâ ilâha illallâh. Kalimat yang inti kandungannya adalah tauhid; mengesakan Allah dalam segala hal. Cobalah tengok kanan dan kiri kita, tidak sedikit manusia yang mengawali harinya dengan ritual kesyirikan, na’udzubillah min dzalik. Alhamdulillah kita terpilih untuk tetap menggenggam erat ajaran tauhid.

Nikmat Ketiga: Ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Tidak semua orang yang mengaku beragama Islam, setia mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Baik dalam aspek akidah, ibadah maupun akhlak. Kita bersyukur kepada Allah; karena diberi hidayah untuk berusaha menapaki jalan Nabi akhir zaman, penutup para nabi. Ikrar ini sekaligus pengingat bagi kita untuk tetap istiqamah belajar Sunnah beliau dan mengamalkannya.

Nikmat Keempat: Ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

Beliau adalah sosok utusan Allah yang digelari sebagai ayah para nabi. Sebab seluruh nabi merupakan keturunan beliau. Karakter utama beliau adalah konsisten membela kebenaran dan melawan kebatilan. Juga kepatuhan total kepada Allah ta’ala. Seharusnya kita meneladani karakter unggul tersebut dalam keseharian.

Di akhir dzikir dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim bukan tergolong kaum musyrikin. Ini adalah bantahan telak bagi kaum musyrikin yang mengklaim bahwa mereka mengikuti ajaran Nabi Ibrahim. Klaim kosong tersebut tidak memiliki landasan historis apapun.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Rabi’ul Awwal 1443 / 11 Oktober 2021