Pentingnya Latihan Akal dalam Menghafal – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Memiliki hafalan yang bagus adalah impian seorang penuntut ilmu. Sebab bagusnya hafalan akan membantu pemahaman dan menanamkan ilmunya di dalam dada. Namun ternyata sebagian penuntut ilmu sering menjumpai kesulitan saat menghafal. Yuk simak nasihat Syaikh Shalih al-Ushoimi berikut ini.

Bagian dari hal yang menghalangi seseorang dari ilmu dan hafalan adalah 2 kesalahan besar.
Bagian dari hal yang menghalangi seseorang dari ilmu dan hafalan
adalah 2 kesalahan besar.
Pertama, tidak melatih akal untuk menghafal.
Tidak melatih akal untuk menghafal.
Karena hafalan merupakan kemampuan…
yang dapat dikuasai sedikit demi sedikit.
Karena hafalan merupakan kemampuan yang dapat dikuasai sedikit demi sedikit,
dan akal harus dilatih untuk menghafal
dengan menghafal sedikit saja dulu.
Kemudian setelah beberapa waktu ia dapat menambah jumlah hafalannya.
Jika ia terus melakukan cara ini,
maka akalnya akan semakin kuat dalam menghafal.
Sedangkan orang yang tidak melatih akalnya untuk menghafal,
dan ingin memiliki hafalan banyak begitu saja,
maka ini akan memberatkan akalnya,
sehingga akalnya enggan untuk menghafal.
Seperti orang yang hendak mengangkat barang yang berat,
padahal sebenarnya mengangkat sepersepuluh dari berat itupun ia tidak mampu,
namun ia ingin segera mengangkat barang berat ini dengan tangannya
sehingga ototnya putus dan tercerai berai,
dan akhirnya ia tidak mampu mengangkat barang yang lebih ringan dari itu.
Demikian pula halnya dengan akal,
Jika dibebani dengan hafalan yang banyak di permulaannya,
tanpa ada latihan bagi akal terlebih dahulu,
maka akal akan merasa berat dan enggan untuk menghafal.
Maka hendaklah penuntut ilmu menghafal secara bertahap,
Dengan mulai menghafal dengan kadar hafalan yang sedikit…
dan menjalani hal ini beberapa waktu,
kemudian jika ia merasa akalnya telah mampu,
maka ia dapat menambah kadar hafalannya.
Seperti orang yang hendak menghafal al-Qur’an,
hendaknya ia mulai menghafal al-Qur’an sedikit saja,
mungkin beberapa ayat atau setengah halaman,
jika ia memang mampu menghafalnya…
atau ia menghafal yang lebih sedikit dari itu dulu,
kemudian setelah beberapa waktu,
ia dapat menambah kadar hafalan sesuai dengan kemampuannya,
jika ia merasa telah mampu menghafalnya.
Jika ia konsisten melakukan ini,
maka dirinya akan memiliki kemampuan untuk menghafal
yang tidak ia miliki sebelumnya.
Terdapat satu cerita yang berkaitan dengan ini…
yang menjelaskan pentingnya melakukan latihan ini,
yaitu cerita yang disebutkan Abu Hilal al-‘Askari dalam kitabnya…
Al-Hats ‘ala Hifzhi al-Ilmi.
Ia menceritakan dirinya…
Pada awalnya, ia tidak mampu menghafal sya’ir meski hanya sedikit,
namun ia terus melatih dirinya untuk menghafal sya’ir sedikit demi sedikit,
dan terus menambah hafalannya,
hingga pada akhirnya ia mampu menghafal sya’ir…
yang memiliki kalimat yang sulit.
Yaitu sya’ir rajiz yang terkenal, yang dikarang oleh Ru’bah bin al-‘Ajjaj
yang berjumlah 300 bait selama waktu sahur.
Yakni ia dapat menghafalnya dalam waktu singkat, di waktu sebelum subuh.
Ia dapat sampai pada level ini dalam menghafal dengan melatih akalnya,
dan menambah hafalan sedikit demi sedikit.

***

وَمِمَّا يَحُولُ بَيْنَ مُبْتَغِي الْعِلْمِ وَالْحِفْظِ آفَتَانِ عَظِيمَتَانِ
وَمِمَّا يَحُولُ بَيْنَ مُبْتَغِي الْعِلْمِ وَالْحِفْظِ
آفَتَانِ عَظِيمَتَانِ
الْأُوْلَى تَرْكُ رِيَاضَةِ الْقَلْبِ فِي الْحِفْظِ
تَرْكُ رِيَاضَةِ الْقَلْبِ فِي الْحِفْظِ
فَإِنَّ الْحِفْظَ قُوَّةٌ
تُؤْخَذُ شَيْئًا فَشَيْئًا
فَإِنَّ الْحِفْظَ قُوَّةٌ تُؤْخَذُ شَيْئًا فَشَيْئًا
وَيُدَرَّبُ الْقَلْبُ فِيهَا
فَيَحْفَظُ شَيْئًا يَسِيْرًا
ثُمَّ يُتْبِعُهُ بَعْدَ مُدَّةٍ لِزِيَادَةِ شَيْءٍ آخَرَ
فَإِذَا دَامَ هَذَا مِنْهُ
قَوِيَ قَلْبُهُ عَلَى الْحِفْظِ
أَمَّا مَنْ لَا يَرُوْضُ قَلْبَهُ عَلَى الْحِفْظِ
وَيُرِيدُ أَنْ يَكُونَ حَافِظًا مِنْ أَوَّلِ وَهْلَةٍ
فَهَذَا يُثْقِلُ الْأَمْرَ عَلَى قَلْبِهِ
فَيَنْقَطِعُ قَلْبُهُ عَنِ الْحِفْظِ
كَمُرِيْدِ أَنْ يَرْفَعَ ثِقَلًا عَظِيْمًا
وَهُوَ لَا يَقْدِرُ عَلَى رَفْعِ عُشْرِهِ أَصْلًا
فَيُبَادِرُ إِلَى رَفْعِ هَذَا الثِّقَلِ بِنَقْلِهِ بِيَدِهِ
فَتَتَمَزَّقُ عَضَلَاتُهُ
وَلَا يَقْدِرُ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى مَا هُوَ أَيْسَرُ مِنْهُ
فَكَذَلِكَ الْقَلْبُ
إِذَا هُوْجِمَ بِمَحْفُوْظٍ ثَقِيْلٍ اِبْتِدَاءً
بِلَا رِيَاضَةٍ لِلْقَلْبِ
فَإِنَّهُ يَثْقُلُ عَلَيْهِ الْحِفْظُ وَيَنْقَطِعُ عَنْه
فَيَنْبَغِي أَنْ يُدَرِّجَهُ مُلْتَمِسُ الْعِلْمِ
بِأَنَّ يَبْتَدِئَ بِحِفْظِ شَيءٍ قَلِيلٍ
ثُمَّ يُلَازِمُهُ مُدَّةً
ثُمَّ إِذَا وَجَدَ قُوَّةَ قَلْبِهِ
زَادَ عَلَى ذَلِكَ
كَمُبْتَدِئِ حِفْظِ الْقُرْآنِ
يَحْفَظُ شَيئًا مِنَ الْقُرْآنِ يَسِيْرًا
كَآيَاتٍ مَعْدُوْدَاتٍ أَوْ نِصْفِ وَجْهٍ
إِذَا كَانَتْ لَهُ قُدْرَةٌ عَلَى ذَلِكَ
أَوْ مَا هُوَ أَقَلُّ مِنْهُ
ثُمَّ بَعْدَ مُدَّةٍ
يَزِيدُ فِي الْمَحْفُوظِ فِي قَدْرِهِ
إِذَا وَجَدَ مِنْ نَفْسِهِ قُدْرَةً
فَإِذَا دَاوَمَ هَذَا
اِنْتَهَتْ نَفْسُهُ إِلَى الْقُوَّةِ عَلَى حِفْظٍ
لَمْ يَكُنْ قَادِرًا عَلَيْه اِبْتِدَاءً
وَمِنَ اللَّطَائِفِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِهَذَا
الْمُبَيِّنَةِ أَهَمِّيَّةَ هَذِهِ الرِّيَاضَةِ
مَا ذَكَرَهُ أَبُو هِلَالٍ الْعَسْكَرِيُّ فِي كِتَابِهِ
الْحَثِّ عَلَى حِفْظِ الْعِلْمِ
أَنَّهُ أَخْبَرَ عَنْ حَالِهِ
أَنَّهُ كَانَ لَا يَقْدِرُ عَلَى حِفْظِ الشَّيْءِ الْيَسِيرِ مِنَ الشَّعْرِ
فَلَمْ يَزَلْ يَرُوْضُ نَفْسَهُ عَلَى الشَّعْرِ وَيَتَحَفَّظُهُ شَيْئًا فَشَيْئًا
وَيَزِيدُ مِنَ الْمَحْفُوظِ
حَتَّى أَمْكَنَهُ أَنْ يَحْفَظَ قَصِيْدَةً
وَحْشِيَّةَ الْأَلْفَاظِ
لِرُؤْبَةَ ابْنِ الْعَجَّاجِ الرَّاجِزِ الْمَعْرُوفِ
فِي ثَلَاثِمِائَةِ بَيتٍ فِي سَحَرٍ وَاحِدٍ
أَيْ فِي مُدَّةٍ يَسِيْرَةٍ مِنَ اللَّيْلِ قَبْلَ الْفَجْرِ
فَأَمْكَنَه أَنْ يَصِلَ إِلَى هَذِهِ الْمَرْتَبَةِ بِرِيَاضَةِ قَلْبِهِ
وَتَدْرِيْجِهِ شَيْئًا فَشَيْئًا فِي الْمَحْفُوظِ