Selama bulan Ramadhan, kaum muslimin diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Kita diwajibkan berpuasa mulai dari terbitnya fajar hingga matahari terbenam. Oleh karena itu, kita harus meninggalkan pembatal-pembata puasa, seperti makan, minum, dan sebagainya. Ingat, menelan makanan ataupun minuman dengan sengaja, meskipun jumlahnya sedikit dapat berakibat batalnya puasa.

Dia bertanya tentang darah yang diambil untuk tes gula darah dengan lanset,
apakah darah yang sedikit ini membatalkan puasa?
Darah yang sedikit ini tidak membatalkan puasa.
Puasa tetap sah dengan melakukannya,
karena itu hanya darah yang sedikit.
Ini menurut semua ulama.
Tidak ada yang menukil pendapat bahwa darah yang sedikit ini
membatalkan puasa.
Yang diperselisihkan adalah darah yang banyak.
Darah yang banyak yang semakna dengan darah bekam.
Perbedaan ini adalah cabang dari perbedaan pendapat
tentang batalnya puasa karena bekam.
Pendapat yang tepat bahwa bekam membatalkan puasa.
Inilah pendapat dalam mazhab Hambali
dan sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,
“Tukang bekam dan orang yang dibekam batal puasanya.” (HR. Ahmad)
Jadi, jika darah yang dikeluarkan mengalir banyak
seperti darah bekam, maka itu membatalkan puasa.
Adapun jika darah yang keluar sedikit,
maka ini tidak membatalkan puasa.
Dengan demikian, darah yang diambil untuk tes gula darah
tidak membatalkan puasa.

***

سَأَلَ عَمَّا يُؤْخَذُ لِتَحْلِيلِ السُّكَّرِ عَنْ طَرِيقِ الْوَخْزِ
هَلْ هَذَا الدَّمُ الْيَسِيرُ يُؤَثِّرُ عَلَى الصَّوْمِ؟
فَهَذَا الدَّمُ الْيَسِيرُ لَا يُؤَثِّرُ عَلَى الصَّوْمِ
وَالصَّوْمُ مَعَهُ صَحِيحٌ
لِأَنَّهُ دَمٌ يَسِيرٌ
وَهَذَا عِنْدَ جَمِيعِ الْعُلَمَاءِ
لَمْ يَنْقَلْ أَحَدٌ بِأَنَّ هَذَا الدَّمَ الْيَسِيرَ
أَنَّهُ يُفْسِدُ الصَّوْمَ
وَإِنَّمَا الْخِلَافُ فِي دَمٍ كَثِيرٍ
دَمٌ كَثِيرٌ الَّذِي يَكُونُ فِي مَعْنَى دَمِ الْحِجَامَةِ
وَالْخِلَافُ مُتَفَرِّعٌ عَلَى خِلَافٍ
فِي تَفْطِيرِ الْحِجَامَةِ عَلَى الصَّائِمِ
وَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ أَنَّهَا تُفَطِّرُ الصَّائِمَ
كَمَا هُوَ الْمَذْهَبُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ
وَكَمَا دَلَّ عَلَيْهِ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَفْطَرَ الحَاجِمُ وَالمَحْجُومُ (رَوَاهُ أَحْمَدُ)
فَإِذَا سَالَ الدَّمُ الْمُسْتَخْرَجُ كَثِيرًا
فِي مَعْنَى دَمِ الْحِجَامَةِ فَإِنَّهُ يُفْسِدُ الصَّوْمَ
أَمَّا إِذَا كَانَ الدَّمُ يَسِيرًا
فَهَذَا لَا يُفْسِدُ الصَّوْمَ
وَعَلَى ذَلِكَ فَالدَّمُ الْمُسْتَخْرَجُ لِتَحْلِيلِ السُّكَّرِ
لَا يُفْسِدُ الصَّوْمَ