Setiap umat memiliki hari yang dianggap istimewa. Di dalam Islam, hari Jumat adalah hari yang istimewa. Hari yang merupakan hari keenam dalam kalender Hijriah ini memiliki banyak keutamaan. Di har Jumat, kita disyariatkan untuk mengerjakan shalat Jumat secara berjamaah di masjid. Ada pula amalan-amalan lain yang berpahala besar, seperti memperbanyak shalawat Nabi, membaca surat al-Kahfi, dan berdoa di waktu-waktu yang mustajab.

Penanya bertanya tentang waktu mustajab pada hari Jumat, kapan itu?
Dalam masalah ini terdapat banyak nas tentangnya
Oleh sebab itu, terdapat banyak perselisihan di dalamnya.
Bahkan sebagian ulama menyebutkan 40 pendapat dalam hal ini.
Allah Jalla wa ‘Ala merahasiakan waktu ini dengan tujuan
agar manusia selalu menyibukkan diri dengan doa dan zikir pada hari yang mulia ini di setiap waktunya.
Waktu hari Jumat hanya sebentar, sekitar 12 jam.
Dalam waktu ini ada keutamaan dan pahala yang besar ini.
Dengan demikian, alangkah baiknya seseorang memanfaatkan waktunya
pada hari Jumat, agar dapat meraih
keutamaan yang besar ini berupa terkabulnya doa.
Di sini saya ingatkan, bahwa pendapat yang paling populer
dan yang paling kuat dari pendapat-pendapat ini berkutat di antara dua pendapat:
[PERTAMA]
Pendapat yang menyatakan bahwa waktu ini berkaitan dengan Salat Jumat.
[KEDUA]
Juga pendapat yang menyatakan bahwa waktunya ada di akhir waktu hari Jumat sebelum matahari terbenam.
Terdapat banyak riwayat dalam hal ini.
Manapun pendapat yang benar, hendaklah manusia memperbanyak doa pada setiap waktunya.
Karena Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang berdoa kepada-Nya,
serta mencintai orang-orang yang tekun dalam berdoa.
Dengan demikian, hendaklah manusia mengharapkan pahala
pada doanya yang dia lakukan setiap saat.
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya…
Sungguh orang-orang yang enggan menyembah-Ku…
akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan yang hina.” (QS. Ghafir: 60).
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Akan dikabulkan untuk kalian, selama tidak berdoa dengan doa yang mengandung dosa atau pemutusan silaturahmi.” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)

***

سَأَلَ عَنْ وَقْتِ الْإِجَابَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مَتَى يَكُونُ؟
هَذِهِ الْمَسْأَلَةُ قَدْ وَرَدَتْ فِيهَا نُصُوصٌ كَثِيرَةٌ
وَلِذَلِكَ اخْتُلِفَ فِيهَا اخْتِلَافًا كَثِيرًا
كَثِيرًا حَتَّى إِنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ حَكَى فِيهَا أَرْبَعِيْنَ قَوْلًا
وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا قَدْ أَخْفَاهَا مِنْ أَجْلِ
أَنْ تَشْتَغِلَ النُّفُوسُ بِالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ فِي هَذَا الْيَوْمِ الْفَاضِلِ فِي كُلِّ سَاعَاتِهِ
فَسَاعَاتُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ قَلِيلَةٌ قَرَابَةُ اثْنَتَي عَشْرَةَ سَاعَةً
فِيهَا هَذَا الْفَضْلُ وَالْأَجْرُ الْكَبِيرُ
وَبِالتَّالِي يَحْسُنُ بِالْإِنْسَانِ أَنْ يَغْتَنِمَ الْوَقْتَ
فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ لِيَنَالَ
هَذَا الْفَضْلَ الْكَبِيرَ بِإِجَابَةِ دُعَائِهِ
وَهُنَا أُنَبِّهُ عَلَى أَنَّ أَشْهُرَ الْأَقْوَالِ
وَأَرْجَحَ الْأَقْوَالِ تَتَرَدَّدُ بَيْنَ قَوْلَيْنِ
قَوْلٌ يَقُولُ بِأَنَّهَا تَتَعَلَّقُ بِصَلَاةِ الْجُمُعَةِ
وَقَوْلٌ يَقُولُ بِأَنَّهَا فِي آخِرِ سَاعَةٍ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ قَبْلَ الْغُرُوبِ
وَقَدْ وَرَدَ فِي ذَلِكَ رِوَايَاتٌ
وَعَلَى كُلٍّ فَالْإِنْسَانُ يَنْبَغِي بِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الدُّعَاءِ فِي كُلِّ أَوْقَاتِهِ
فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ الدَّاعِيْنَ
وَيُحِبُّ الْمُلِحِّيْنَ فِي الدُّعَاءِ
وَبِالتَّالِي عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَحْتَسِبَ الْأَجْرَ
فِي دُعَائِهِ فِي كُلِّ أَوْقَاتِهِ
قَدْ قَالَ جَلَّ وَعَلَا
وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي
سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ
وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ