Hiduplah Sesuai Levelmu – Ustadz Maududi Abdullah, Lc.

Hakikat dunia dapat diketahui bagi mereka yang tidak menghamba kepadanya, ia justru menghamba kepada Allah, Rabb pemilik dunia dan seisinya. Harta dalam Islam merupakan titipan yang bisa menjadi nikmat dan bisa menjadi ujian bagi pemiliknya. Hiduplah sesuai levelmu … seolah-olah pemateri ingin mengingatkan kita tentang konsep harta dalam Islam dan kedudukan harta dalam Islam yang aslinya bukan untuk kita miliki di hati, melainkan hanya di tangan saja.

Fungsi harta dalam Islam untuk menegakkan agama bagi seseorang, agar ia tidak minta-minta kepada orang karena kefakirannya. Dan ini sinkron dengan hadits tentang hinanya dunia. Dunia ibarat musim yang datang dan berlalu, begitulah harta di tangan kita, kita kumpulkan dan akan beranjak pergi. Maka sungguh aneh, jika ada orang-orang yang berempati kepada silaunya dunia dengan cara berhutang. Hukum hutang piutang atau hukum hutang dalam Islam diperbolehkan, namun dengan syarat yang ketat.

Mari kita sibak ayat dan hadits tentang harta; yang satu menyebutkan; Wamal hayaatud dunya illa mataa’ul ghuruur dan satunya lagi berbunyi ad dunya sijnul mukmin … dan bila kita telusuri akar dari bermewah-mewah hanya menuruti gengsi. Gengsi adalah gaya hidup yang coba dipertaruhkan oleh seseorang untuk menaikkan prestisenya di depan publik. Coba terka tentang hadits tentang fitnah dan contoh fitnah yang sesuai dengan tema pengajian ini? Ya, ia adalah harta dan perhiasannya. Tak jarang orang terfitnah dengan harta, tahta, dan wanita. Klop, sudah!

Dalam uraian ini, kami ingin mengingatkan tentang arti surat At Takatsur yang fenomenal dengan harian kita yang berkecimpung dengan dunia. Dan salah satu hikmah surat At Takatsur mengingatkan kaum muslimin, agar tidak terpedaya dengan harta, melainkan menjadikannya sebatas tonggak untuk menyelamatkan agamanya dan muru’ahnya. Bermegah megahan dalam Islam tercela tidak secara mutlak. Apabila yang dimaksudkan untuk menambah izzah kaum muslimin di hadapan kaum kafirin. Sebagaimana yang dilakukan sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan terhadap Masjid Jami’ di Damaskus.

Rezeki jaminan Allah, untuk apa kita berpusing-pusing ria. Rezeki dari Allah tidak akan tertukar, oleh karena itu buang iri dengki kepada sesama kaum muslimin yang tengah merintis usaha yang sama dengan apa yang kita geluti, saling mendukung untuk menciptakan iklim yag sehat dalam dunia bisnis. Tengadahkanlah tangan Anda kepada Allah setiap saat dan tiap waktu, itulah cara bersyukur para Nabi dan Rasul. Semoga kelak rezeki kita menjadi barokah di dunia dan di akhirat.