Dunia adalah ladang ujian bagi setiap manusia. Berbagai macam cobaan silih berganti menguji keimanan kita. Terkadang kita menyangka bahwa ujian selalu berupa kesulitan, sakit, dan hal-hal lain yang tak diharapkan. Padahal kemudahan yang kita rasakan juga salah satu bentuk ujian kehidupan.

Sesungguhnya Allah Subẖānahu wa Taʿālā
Menguji dengan kemudahan dan kesulitan,
dengan kesehatan dan penyakit,
serta Menguji dengan kekayaan dan kemiskinan.
“Dan Kami Menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan,
dan hanya kepada Kami kalian kembali.” (QS. Al-Anbiya’: 35)
Allah Menguji dengan kedua hal tersebut.
Maka dari itu, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda,
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin,
karena semua urusannya baik baginya.
Jika dia mendapat …”—inilah bentuk ujian pertama,
yaitu kenikmatan dan karunia—
“Jika dia mendapat sesuatu yang menyenangkan, dia bersyukur,
dan itu baik baginya.
Pun jika dia mendapat …” —inilah bentuk ujian kedua,
yaitu kesulitan, sakit, kemelaratan, dan lain sebagainya—
“Jika dia mendapat sesuatu yang menyengsarakan, dia bersabar,
dan itu juga baik baginya,
yang mana ini hanya terjadi kepada orang mukmin.” (HR. Muslim)
Orang mukmin pasti diuji dengan kesenangan dan kesengsaraan
serta kesulitan dan kemudahan,
tapi dia tetap beruntung dalam dua ujian tersebut,
karena dalam kesenangannya
dia beruntung mendapatkan pahala syukur,
dan dalam kesengsaraannya pun
dia beruntung mendapatkan pahala sabar.

***

فَإِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
يَبْتَلِي بِالرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ
وَيَبْتَلِي بِالصِّحَّةِ وَالْمَرَضِ
وَيَبْتَلِي بِالْغِنَاءِ وَالْفَقْرِ
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
يَبْتَلِي بِهَذَا وَهَذَا
وَلِهَذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ
إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ
إِنْ أَصَابَتْهُ — هَذَا الْاِبْتِلَاءُ الْأَوَّلُ
الَّذِي هُوَ النِّعْمَةُ وَالْعَطَاءُ
إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ
فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
وَإِنْ أَصَابَتْهُ — وَهَذَا الْاِبْتِلَاءُ الثَّانِي
الشِّدَّةُ وَالْمَرَضُ وَالْفَقْرُ وَمَا إِلَى ذَلِكَ
وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ
فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
وَذَلِكَ لَا يَكُونُ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ
فَالْمُؤْمِنُ مُبْتَلَى بِالسَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ
بِالشِّدَّةِ وَالرَّخَاءِ
لَكِنَّهُ فَائِزٌ فِي كِلَا الْاِبْتِلَائَيْنِ
فَهُوَ فِي سَرَّاءِهِ
فَائِزٌ بِثَوَابِ الشَّاكِرِينَ
وَفِي ضَرَّائِهِ
فَائِزٌ بِثَوَابِ الصَّابِرِينَ