Dalam pencarian pasangan hidup, paras dan fisik kerap menjadi standar utama yang mengaburkan pandangan. Padahal, ketika badai kehidupan datang menerpa, eloknya wajah tidak pernah sanggup meredam pertikaian atau menuntun jiwa kembali pada ketenangan. Ada pondasi yang jauh lebih kokoh dan takkan pudar dimakan waktu: kebaikan agama dan ketakwaan hati. Sungguh sebuah kekeliruan besar jika kita mempertaruhkan masa depan bersama sosok yang hanya indah dipandang, namun asing dari keindahan iman.
Penulis nazam rahimahullahu Ta’ala berkata, “Pilihlah wanita yang baik agamanya, niscaya engkau meraih apa yang dicita-citakan,
yang penuh kasih sayang, berasal dari keluarga yang dikenal banyak keturunannya, dan tekun beribadah.
Berasal dari keluarga mulia dan terhormat, sehingga engkau beruntung…
mendapatkan anak-anak yang mulia. Dan carilah wanita yang masih perawan.”
Beliau berkata, “Pilihlah wanita yang baik agamanya, niscaya engkau meraih apa yang dicita-citakan.”
Disebutkan dalam Ash-Shahihain (Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaan keluarganya,
kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang baik agamanya, taribat yadaka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
*) Taribat yadaka: ungkapan Arab untuk menguatkan anjuran, dan bukan doa keburukan.
“Maka pilihlah wanita yang baik agamanya.” Maksudnya, pilihlah yang baik agamanya dan bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkannya.
Bukan berarti seseorang tidak boleh mencari kecantikan atau mempertimbangkan nasab.
Semua itu memang dicari dan dipertimbangkan seseorang. Namun yang harus menempati urutan pertama adalah agamanya.
Hal pertama yang menjadi perhatian ketika mencermati dan mencari wanita salihah
adalah agamanya, bagaimana ia tumbuh, bagaimana ia dididik, dan di atas apa ia dibesarkan.
Maka pilihlah wanita yang baik agamanya, niscaya engkau meraih apa yang dicita-citakan.
Sebagaimana sabda Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam,
“Maka pilihlah wanita yang baik agamanya, taribat yadaka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kemudian sifat “penyayang”, ini juga disebutkan dalam hadis sahih di Sunan Abu Dawud dan selainnya,
bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat lain.” (HR. Abu Dawud).
“Penyayang” maksudnya baik dalam melimpahkan kasih sayang kepada suaminya, dan indah dalam menjalani kehidupan rumah tangga bersamanya,
lembut dan baik tutur katanya kepada suaminya, serta penuh kasih sayang dalam pergaulan dan pergaulannya sehari-hari.
“Yang penyayang, berasal dari keluarga yang dikenal banyak keturunannya.”
Ketika beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda,
“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur,” yakni yang keluarganya dikenal banyak keturunannya.
Bagaimana mengetahui bahwa ia termasuk Al-Walud, yang banyak keturunannya?
Dengan melihat keluarganya: saudarinya yang telah menikah, saudari-saudarinya, dan para sepupunya.
Apakah keluarganya dikenal memiliki banyak keturunan atau banyak kelahiran. Ia dapat mempertimbangkan ini.
“Yang penyayang, dari keluarga yang banyak keturunannya, dan tekun beribadah.”
Tekun beribadah, yakni dikenal menjaga ibadahnya,
terutama kewajiban-kewajiban Islam dan kewajiban agama yang agung.
“Berasal dari keluarga mulia.” Yakni wanita yang berasal dari keluarga yang memiliki kemuliaan dan kehormatan.
Ia punya keluarga yang dikenal dengan kedermawanan, akhlak yang mulia, dan baiknya bermuamalah.
Sebab semua ini tercermin pada anak-anak dan berpengaruh kepada mereka.
Sebab anak-anak sering kali terpengaruh oleh paman-paman mereka dari pihak ibu.
Jika ia berasal dari keluarga mulia, dermawan, dan berkeutamaan, hal itu akan berpengaruh baik kepada anak-anak kelak.
“Berasal dari keluarga mulia dan terhormat.” Jika engkau memilihnya dari keluarga yang punya kemuliaan, kedermawanan, keutamaan, kehormatan, dan keluhuran,
hal itu akan berpengaruh kepada anak-anak.
Sebagaimana kata penulis nazam, “Niscaya engkau beruntung mendapatkan anak-anak yang mulia.”
“Engkau beruntung mendapatkan anak-anak yang mulia.” Artinya, dari pilihan itu diharapkan engkau memperoleh anak-anak yang mulia.
Sebab anak-anak sering kali terpengaruh oleh paman dari pihak ibu, sangat terpengaruh oleh mereka.
Maka bila engkau memilih keluarga yang mulia asal-usulnya, kedudukannya, kehormatannya, dan baik namanya,
hal itu akan berdampak baik kepada anak-anak di kemudian hari.
Beliau berkata, “Dan carilah wanita yang masih perawan.”
Carilah wanita yang masih perawan.
Dalam Ash-Shahihain, pada kisah pernikahan Jabir, Nabi ‘alaihish shalatu was salam bersabda kepadanya,
“Mengapa tidak engkau nikahi seorang perawan, agar engkau dapat bercanda dengannya dan ia bercanda denganmu?” (HR. Bukhari).
Maka bila seseorang dimudahkan mendapatkan wanita perawan,
tidak diragukan bahwa ia lebih utama daripada wanita yang pernah menikah.
“Dan carilah wanita yang masih perawan.”
***
قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: عَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَظْفَرْ بِالْمُنَى الْ
وَدُودِ وَلُودِ الْأَصْلِ ذَاتِ التَّعَبُّدِ
حَسِيبَةَ أَصْلٍ مِنْ كِرَامٍ تَفُزْ إِذَنْ
بِوُلْدٍ كِرَامٍ وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ
يَقُولُ: عَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَظْفَرْ بِالْمُنَى
جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا
وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ أَيْ عَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ احْرِصْ عَلَيْهَا
وَلَيْسَ مَعْنَى ذَلِك أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَطْلُبُ الْجَمَالَ وَلَا يَطْلُبُ النَّسَبَ
كُلُّ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ تُطْلَبُ وَيَتَحَرَّاهَا الْإِنْسَانُ لَكِنْ أَهَمُّ مَا يَكُونُ فِي الدَّرَجَةِ الْأُولَى هُوَ الدِّينُ
وَالَّذِي يُرَكَّزُ عَلَيْهِ فِي الدَّرَجَةِ الْأُولَى فِي التَّحَرِّي وَالْبَحْثِ عَنِ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ
يُنْظَرُ فِي دِينِهَا نَشْأَتِهَا تَرْبِيَتِهَا الشَّيْءِ الَّذِي تَرَبَّتْ عَلَيْهِ
فَعَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَظْفَرْ بِالْمُنَى
كَمَا قَالَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
الْوَدُودُ وَهَذَا أَيْضًا جَاءَ فِي حَدِيثٍ صَحَّ فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ
وَالْوَدُودُ أَيْ فِي حُسْنِ تَوَدُّدِهَا لِلزَّوْجِ وَجَمَالِ تَبَعُّلِهَا مَعَهُ
وَتَلَطُّفِهَا وَحُسْنِ مُحَادَثَتِهَا لَهُ وَوَدُودًا فِي مُعَاشَرَتِهَا وَتَعَامُلِهَا
الْوَدُودِ الْوَلُودِ الْأَصْلِ الْوَلُودِ الْأَصْلِ
عِنْدَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ أَيْ وَلُودَ الْأَصْلِ
كَيْفَ يُعْرَفُ أَنَّهَا وَلُودٌ؟
يُنْظَرُ فِي الْأُسْرَةِ تَزَوَّجَتْ أُخْتُهَا تَزَوَّجَتْ أَخَوَاتُهَا بَنَاتُ عَمِّهَا
أُسْرَتُهَا مَعْرُوفٌ الْبَيْتُ بِكَثْرَةِ النَّسْلِ أَوْ كَثْرَةِ الْوِلَادَةِ فَيُنْظَرُ إِلَى هَذَا
الْوَدُودِ الْوَلُودِ الْأَصْلِ ذَاتِ التَّعَبُّدِ
ذَاتِ التَّعَبُّدِ أَيِ الْمَعْرُوفَةِ بِمُحَافَظَتِهَا عَلَى الْعِبَادَةِ
وَلَا سِيَّمَا فَرَائِضُ الْإِسْلَامِ وَوَاجِبَاتُ الدِّينِ الْعَظِيمَةِ
حَسِيبَةَ أَصْلٍ حَسِيبَةَ أَصْلٍ أَيْ مِنْ ذَوَاتِ الْحَسَبِ وَالشَّرَفِ أَصْلًا
وَلَهَا بَيْتٌ بَيْتٌ مَعْرُوفٌ بِالْكَرَمِ بِالْأَخْلَاقِ الْفَاضِلَةِ مَعْرُوفٌ بِحُسْنِ التَّعَامُلِ
لِأَنَّ هَذِهِ الْأُمُورَ كُلَّهَا تَنْعَكِسُ عَلَى الْأَوْلَادِ وَلَهَا تَأْثِيرٌ عَلَى الْأَوْلَادِ
لِأَنَّ الْأَوْلَادَ كَثِيرًا مَا يَتَأَثَّرُونَ بِأَخْوَالِهِمْ
فَإِذَا كَانَتْ حَسِيبَةً وَبَيْتَ كَرَمٍ وَبَيْتَ فَضْلٍ فَإِنَّ هَذَا لَهُ مَرْدُودُهُ وَانْعِكَاسُهُ فِيمَا بَعْدُ عَلَى الْأَوْلَادِ
حَسِيبَةِ أَصْلٍ مِنْ كِرَامٍ فَإِذَا انْتَقَيْتَهَا مِنْ أُنَاسٍ مِنْ ذَوِي الْحَسَبِ وَالْكَرَمِ وَالْفَضْلِ وَالشَّرَفِ وَالنُّبْلِ
هَذَا لَهُ انْعِكَاسُهُ عَلَى الْأَوْلَادِ
مِثْلَ مَا قَالَ النَّاظِمُ: تَفُزْ إِذَنْ بِوُلْدٍ كِرَامٍ
تَفُزْ إِذَنْ بِوُلْدٍ كِرَامٍ فَهَذَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ أَنَّكَ تَفُوزُ بِأَوْلَادٍ كِرَامٍ
لِأَنَّ الْأَوْلَادَ كَثِيرًا مَا يَتَأَثَّرُونَ بِالْأَخْوَالِ يَتَأَثَّرُونَ بِهِمْ كَثِيرًا
فَإِذَا كُنْتَ انْتَقَيْتَ بَيْتًا كَرِيمًا أَصْلًا وَحَسَبًا وَشَرَفًا وَمَكَانَةً طَيِّبَةً
فَإِنَّ هَذَا لَهُ الْمَرْدُودُ الطَّيِّبُ عَلَى الْأَوْلَادِ فِيمَا بَعْدُ
قَالَ: وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ
وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ
وَجَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ فِي قِصَّةِ نِكَاحِ جَابِرٍ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَهُ
هَلَّا بِكْرًا تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ
فَالْبِكْرُ إِنْ تَيَسَّرَتْ لِإِنْسَانٍ
لَا شَكَّ أَنَّهَا أَوْلَى مِنَ الثَّيِّبِ
وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ
*
MASIH CARI ARTIKEL ISLAM DI GOOGLE?
Yuk, cari di Yufid.com (Islamic Search Engine) saja. Insya Allah LEBIH menenangkan hati!
INFO LENGKAP TENTANG PRODUKTIVITAS TIM YUFID:
Profil Yufid:
https://yufid.org/profil-yufid-network/
Donasi Dakwah untuk Operasional Yufid:
https://yufid.org/donasi-untuk-yufid/
(https://yufid.org/donasi-untuk-yufid/)
DONASI UNTUK VIDEO DAKWAH DAPAT DISALURKAN KE:
BANK SYARIAH INDONESIA
7086882242
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
Kode BSI: 451
Paypal: [email protected]
NB:
Rekening di atas adalah rekening khusus donasi Yufid Network, jadi Anda tidak perlu konfirmasi setelah mengirimkan donasi. Cukup tuliskan keterangan donasi pada saat Anda transfer.
3 CHANNEL YUFID DI YOUTUBE:
YUFID.TV:
/ @yufid
(
/ @yufid )
YUFID EDU:
/ @yufidedu
(
/ @yufidedu )
YUFID KIDS:
/ @yufidkids
YUK, FOLLOW SOSIAL MEDIA YUFID.TV LAINNYA UNTUK MENDAPATKAN UPDATE VIDEO TERBARU!
Fabebook:
/ yufid.tv
Instagram:
/ yufid.tv
Telegram: https://telegram.me/yufidtv
AUDIO KAJIAN
Website: https://kajian.net
Soundcloud:
/ kajiannet
YUK, DUKUNG YUFID.TV!














